Selasa, 3 Februari 2026

KISAH KAROMAH SYEIKH NAWAWI

Kisah Syeikh Nawawi Diarak Keliling Ka`Bah

Kemasyhuran dan nama besar Syeikh Nawawi al-Bantani kiranya sudah tidak perlu diragukan lagi. Melalui karya-karyanya, ulama kelahiran Kampung Tanara, Serang, Banten pada tahun 1815 M ini telah membuktikan kepada dunia Islam akan ketangguhan ilmu ulama-ulama Indonesia.

Tidak kurang dari 100 judul kitab berhasil digubah oleh Ulama Nusantara yang satu ini kesemuanya ditulisnya dalam bahasa Arab. Selain itu, Kiai Nawawi juga dikenal sebagai seorang yang sangat dicintai baik oleh para murid maupun sesama ulama di kota Mekkah. Kiai Hasyim Asy`ari yang juga merupakan salah seorang ulama yang sempat berguru kepada Syeikh Nawawi, seringkali meneteskan air mata jika mengenang keluhuran pribadi dan kedalaman ilmu gurunya itu.

Sementara para ulama di lingkungan Masjidil Haram sangat hormat kepada kealimannya. Bahkan ketika Syeikh Nawawi berhasil menyelesaikan karyanya Tafsir Marah Labid, para ulama Mekkah serta merta memberikan penghormatan tertinggi kepadanya.

Ketika kitab tafsir “al-Tafsir al-Munîr li al-Mu’âlim al-Tanzîl al-Mufassir ‘an wujûĥ mahâsin al-Ta΄wil musammâ Murâh Labîd li Kasyafi Ma’nâ Qur΄an Majîd” atau “Kitab Tafsir Muroh Lubab” karya Kiai Nawawi diterbitkan, para ulama yang mengajar di Masjidil Haram berkumpul. Mereka sepakat bahwa menafsirkan 30 Juz Al-Qur’an bukan sekedar buah dari kemampuan seseorang, akan tetapi juga karunia yang diberikan oleh Allah. Oleh sebab itu pada hari yang telah ditentukan para ulama Mekah dari berbagai penjuru dunia mengarak Syeikh Nawawi mengelilingi Ka`bah sebanyak tujuh kali sebagai bukti penghormatan mereka atas karya monumentalnya itu.

Keberhasilan Sang Kiai menyelesaikan Tafsir Marah Labid ternyata bukan saja memberikan nuansa baru di kota Mekkah namun juga diyakini turut memantik perubahan kurikulum pesantren-pesantren Indonesia pada tahun 1888. Perubahan yang dimaksud adalah maraknya pengajian yang membacakan kitab-kitab tafsir, sebuah fenomena yang disinyalir tidak pernah dilakukan sebelumnya.

Selain di Indonesia, pengaruh Syeikh Nawawi juga mewarnai beberapa negara di sejumlah kawasan. Kitab-kitab beliau diajarkan di pondok-pondok pesantren terkemuka yang ada di Malaysia, Filipina dan Thailand. Bahkan di sejumlah negara Timur Tengah, kitab-kitabnya selalu dijadikan sebagai rujukan.

Kisah Syekh Nawawi: Kaki Bisa Menyala, Jasadnya Tetap Utuh

Nama Syekh Nawawi Banten sudah tidak asing lagi bagi umat Islam Indonesia. Bahkan sering terdengar disamakan kebesarannya dengan tokoh ulama klasik madzhab Syafi’i Imam Nawawi (676 Hijriah atau l277 Masehi). Melalui karya-karyanya yang tersebar di pesantren-pesantren tradisional yang sampai sekarang masih banyak dikaji.

Nama kiai asal Banten ini seakan masih hidup dan terus menyertai umat memberikan wejangan ajaran Islam yang menyejukkan.
Di setiap majlis ta’lim, karyanya selalu dijadikan rujukan utama dalam berbagai ilmu, mulai dari ilmu tauhid, fiqh, tasawuf sampai tafsir.

Karya-karyanya sangat berjasa dalam mengarahkan mainstream keilmuan yang dikembangkan di lembaga-Iembaga pesantren yang berada di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU).
Sayid ’Ulamail Hijaz adalah gelar yang disandangnya. Sayid adalah penghulu, sedangkan Hijaz wilayah Saudi sekarang, yang di dalamnya termasuk Mekkah dan Madinah.

Dialah Syekh Muhammad Nawawi, yang lebih dikenal orang Mekkah sebagai Nawawi al-Bantani, atau Nawawi al-Jawi.
“Al-Bantani menunjukkan bahwa ia berasal dari Banten, sedangkan sebutan Al-Jawi mengindikasikan muasalnya yang Jawa, sebutan untuk para pendatang Nusantara karena nama Indonesia kala itu belum dikenal. Kalangan pesantren sekarang menyebut ulama yang juga digelari asy-Syaikh al-Fakih itu sebagai Nawawi Banten,” kata Ismetullah Al Abbas, pewaris Kesultanan Banten, ketika ditemui di rumahnya di kompleks Masjid Banten, Banten, beberapa waktu lalu.
Menurut sejarah, Syekh Nawawi Banten memiliki nama lengkap Abu Abd al-Mu’ti Muhammad bin Umar al- Tanara al-Jawi al-Bantani.

Ia lebih dikenal dengan sebutan Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani. Dilahirkan di Kampung Tanara, Serang, Banten pada tahun 1815 Masehi atau 1230 Hijriah. Pada tanggal 25 Syawal 1314 Hijriah atau 1897 Masehi. Nawawi menghembuskan nafasnya yang terakhir di usia 84 tahun.

Selanjutnya… Memiliki Karomah Kakinya Bersinar Saat Gelap…

Karomah Syaikh Nawawi al-Bantani Saat Masih Muda

Dulu saat Syaikh Nawawi al-Bantani masih muda, sekitar usia belasan tahun, pernah shalat di Masjid Pekojan Jakarta Kota dekat kediaman Habib Utsman bin Yahya. Usai shalat Syaikh Nawawi menghampiri dan berkata kepada Habib Utsman, yang waktu itu juga berada di masjid, dengan nada lemah lembut dan penuh hormat: “Wahai Habib yang saya hormati. Sebelumnya saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.”

“Ya, ada apa anak muda?” Jawab Habib Utsman.

“Begini Habib, masjid ini kurang ngiblat dan kurang nyerong ke sebalah kanan (ke arah utara).”

Karena Habib Utsman adalah seorang pakar ilmu falak, beliu pun heran dan menyanggah: “Masid ini sudah saya ukur dengan alat kompas dan berdasarkan ilmu falak.”

Kemudian Syaikh Nawawi al-Bantani dengan sopannya menunjuk ke arah kiblat. Dan seketika itu juga Ka’bah terlihat sangat jelas di hadapan mereka berdua. Menyaksikan itu, Habib Utsman bin Yahya terperanjat dan kemudian langsung menubruk ingin mencium tangan Syaikh Nawawi al-Bantani. Namun Syaikh Nawawi menarik dan menolak tangannya untuk dicium oleh Habib Utsman bin Yahya. Dan beliau berkata: “Wahai Habib yang mulia. Saya tidak pantas untuk dicium tangani oleh Habib. Karena, Habib adalah orang mulia dan keturunan Rasulullah, sedangkan saya adalah orang kampung biasa.”

Mendengar kata-kata itu, Habib Utsman bin Yahya langsung merangkul badan Syaikh Nawawi dan mereka saling berpelukan sambil menangis dengan bercucuran air mata.

Syaikh Nawawi al-Bantani juga termasuk salah seorang ulama pakar ilmu falak. Banyak kitab-kitab karyanya yang menerangkan tentang ilmu falak. Hanya saja kitab yang masuk ke Indonesia (yang saya tahu) adalah kitab Sullam al-Munajat.

Di dalam kitab Sullam al-Munajat halaman 23-24, cetakan Darul Kutub al-Islamiyyah Kalibata-Jakarta Selatan, Syaikh Nawawi menerangkan tentang ilmu arah kiblat beserta hukumnya. Hanya saja untuk menghitung arah kiblat wilayah Banten, beliau menggunakan sebagai bujur nol derajatnya adalah “Az-Zajairatul Khalidat”, bukan Greewich. Tapi setelah saya hitung dan saya bandingkan dengan perhitungan ilmu falak arah kiblat “Sistem Kontemporer” hasilnya tidak beda jauh alias hampir sama. (Diedit dari tulisan KH. Thobary Syadzily al-Bantani, cucu Syaikh Nawawi al-Bantani dan Pengasuh PP Al-Husna Tangerang).

SYEKH NAWAWI AL BANTANI JENAZAHNYA TETAP UTUH

Telah menjadi kebijakan Pemerintah Arab Saudi bahwa orang yang telah dikubur selama setahun kuburannya harus digali. Tulang belulang si mayat kemudian diambil dan disatukan dengan tulang belulang mayat lainnya. Selanjutnya semua tulang itu dikuburkan di tempat lain di luar kota. Lubang kubur yang dibongkar dibiarkan tetap terbuka hingga datang jenazah

berikutnya terus silih berganti. Kebijakan ini dijalankan tanpa pandang bulu. Siapapun dia, pejabat atau orang biasa, saudagar kaya atau orang miskin, sama terkena kebijakan tersebut. Inilah yang juga menimpa makam Syaikh Nawawi. Setelah kuburnya genap berusia satu tahun, datanglah petugas dari pemerintah kota untuk menggali kuburnya. Tetapi yang terjadi adalah hal yang tak lazim. Para petugas kuburan itu tak menemukan tulang belulang seperti biasanya. Yang mereka temukan adalah satu jasad yang masih utuh. Tidak kurang satu apapun, tidak lecet atau tanda-tanda pembusukan seperti lazimnya jenazah yang telah lama dikubur. Bahkan kain putih kafan penutup jasad beliau tidak sobek dan tidak lapuk sedikitpun.Terang saja kejadian ini mengejutkan para petugas. Mereka lari berhamburan mendatangi atasannya dan menceritakan apa yang telah terjadi. Setelah diteliti, sang atasan kemudian menyadari bahwa makam yang digali itu bukan makam orang sembarangan. Langkah strategis lalu diambil. Pemerintah melarang membongkar makam tersebut. Jasad beliau lalu dikuburkan kembali seperti sediakala. Hingga sekarang makam beliau tetap berada di Ma΄la, Mekah.Siapakah Syekh Nawawi Al Bantani ??

SYAIKH NAWAWI AL-JAWI AL-BANTANI (1813-1898)

Sejarah Hidup

Nama lengkapnya ialah Abu Abdul Mu’thi Muhammad Nawawi bin ‘Umar bin Arabi al-Jawi al-Bantani. Ia dilahirkan di Tanara, serang, Banten, pada tahun 1230 H/ 1813 M. Ayahnya seorang tokoh agama yang sangat disegani. Ia masih punya hubungan nasab dengan Maulana Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati (Cirebon).

Pada usia 15 tahun, Nawawi muda pergi belajar ke Tanah Suci Makkah, karena saat itu Indonesia –yang namanya masih Hindia Belanda- dijajah oleh Belanda, yang membatasi kegiatan pendidikan di Nusantara. Beberapa tahun kemudian, ia kembali ke Indonesia untuk menyalurkan ilmunya kepada masyarakat.

Tak lama ia mengajar, hanya tiga tahun, karena kondisi Nusantara masih sama, di bawah penjajahan oleh Belanda, yang membuat ia tidak bebas bergiat. Ia pun kembali ke Makkah dan mengamalkan ilmunya di sana, terutama kepada orang Indonesia yang belajar di sana. Banyak sumber menyatakan Syekh Nawawi wafat di Makkah dan dimakamkan di Ma’la pada 1314 H/ 1897 M, namun menurut Al-A’lam dan Mu’jam Mu’allim, dua kitab yang membahas tokoh dan guru yang berpengaruh di dunia Islam, ia wafat pada 1316 H/ 1898 M.

Posisi Strategis al-Bantani bagi Dunia dan Indonesia

1. Syekh Nawawi Al-Bantani adalah satu dari tiga ulama Indonesia yang mengajar di Masjid Al-Haram di Makkah Al-Mukarramah pada abad ke-19 dan awal abad ke-20. Dua yang lain ialah muridnya, Ahmad Khatib Minangkabau dan Kiai Mahfudz Termas. Ini menunjukkan bahwa keilmuannya sangat diakui tidak hanya di Indonesia, melainkan juga di semenanjung Arab. Syekh Nawawi sendiri menjadi pengajar di Masjid al-Haram sampai akhir hayatnya yaitu sampai 1898, lalu dilanjutkan oleh kedua muridnya itu. Wajar, jika ia dimakamkan berdekatan dengan makam istri Nabi Khadijah di Ma’la.

2. Syekh Nawawi Al-Bantani mendapatkan gelar “Sayyidu Ulama’ al-Hijaz” yang berarti “Sesepuh Ulama Hijaz” atau “Guru dari Ulama Hijaz” atau “Akar dari Ulama Hijaz”. Yang menarik dari gelar di atas adalah \beliau tidak hanya mendapatkan gelar “Sayyidu ‘Ulama al-Indonesi” sehingga bermakna, bahwa kealiman beliau diakui di semenanjung Arabia, apalagi di tanah airnya sendiri. Selain itu, beliau juga mendapat gelar “al-imam wa al-fahm al-mudaqqig” yang berarti “Tokoh dan pakar dengan pemahaman yang sangat mendalam”. Snouck Hourgronje member gelar “Doktor Teologi”.

3. Pada tahun 1870, Syekh Nawawi diundang para ulama Universitas Al-Azhar dalam sebuah seminar dan diskusi, sebagai apresiasi terhadap penyebaran buku-buku Syekh Nawawi di Mesir. Ini membuktikan bahwa ulama al-Azhar mengakui kepakaran Syekh Nawawi al-Bantani.

4. Paling tidak terdapat 34 karya Syekh Nawawi yang tercatat dalam Dictionary of Arabic Printed Books. Namun beberapa kalangan lainnya malah menyebut karya-karyanya mencapai lebih dari 100 judul, meliputi berbagai disiplin ilmu, seperti tauhid, ilmu kalam, sejarah, syari’ah, tafsir, dan lainnya. Sebagian karyanya tersebut juga diterbitkan di Timur Tengah. Dengan kiprah dan karya-karyanya ini, menempatkan dirinya sebagai alim terpandang di Timur Tengah, lebih-lebih di Indonesia.

5. Kelebihan dari Syekh Nawawi al-Bantani adalah menjelaskan makna terdalam dari bahasa Arab, termasuk sastera Arab yang susah dipahami, melalui syarah-syarahnya. Bahasa yang digunakan Syekh Nawawi memudahkan pembaca untuk memahami isi sebuah kitab. Wajar jika syarah Syekh Nawawi menjadi rujukan, karena dianggap paling otentik dan paling sesuai maksud penulis awal. Bahkan, di Indonesia dan beberapa segara lain, syarah Syekh Nawawi paling banyak dicetak yang berarti paling banyak digunakan dibandingkan dengan buku yang terbit tanpa syarahnya.

6. Syekh Nawawi hidup di zaman di mana pemikiran Islam penuh perdebatan ekstrim antara pemikiran yang berorientasi pada syari’at dan mengabaikan hal yang bersifat sufistik di satu sisi (seperti Wahabi) serta sebaliknya pemikiran yang menekankan sufisme lalu mengabaikan syari’at di sisi lain (Seperti tarekat aliran Ibn Arabi). Kelebihan dari Syekh Nawawi adalah mengambil jalan tengah di antara keduanya. Menurutnya, syari’at memberikan panduan dasar bagi manusia untuk mencapai kesucian rohani. Karena itu, seseorang dianggap gagal jika setelah melaksanakan panduan syari’at dengan baik, namun rohaninya masih kotor. Hal sama juga berlaku bagi seorang sufi. Mustahil ia akan mencapai kesucian rohani yang hakiki, bukan kesucian rohani yang semu, jika ia melanggar atau malah menabrak aturan syari’at. Selain itu, di masa itu juga muncul pemikiran yang secara ekstrem mengutamakan aqli dan mengabaikan naqli atau sebaliknya mengutamakan naqli dan mengabaikan aqli. Namun Syekh Nawawi berhasil mempertemukan di antara keduanya, bahwa dalil naqli dan aqli harus digunakan secara bersamaan. Namun jika ada pertentangan di antara kedunya, maka dalil naqli harus diutamakan.

7. Dalam konteks Indonesia, Syekh Nawawi merupakan tokoh penting yang memperkenalkan dan menancapkan pengaruh Teologi ‘Asy’ariyah. Teologi ini merupakan teologi jalan tengah antara Teologi Qadariyah bahwa manusia mempunyai kebebasan mutlak dengan teologi Jabariyah yang menganggap manusia tidak mempunyai kebebasan untuk berbuat baik atau berbuat jahat.

8. Cara berpikir jalan tengah ini kemudian diadopsi dengan baik oleh Nahdlatul Ulama (NU). Karena itu, banyak kalangan yang berpandangan bahwa NU merupakan institusionalisasi dari cara berpikir yang dianut oleh Syekh Nawawi al-Bantani. Apalagi pendiri NU, KH. Hasyim ‘Asy’ari merupakan salah satu murid dari Syekh Nawawi al-Bantani.

9. Dalam konteks penjajahan, Syekh Nawawi al-Bantani berpendapat bahwa bekerja sama dengan penjajah Belanda adalah haram hukumnya. Karena itu, murid-murid Syekh Nawawi al-Bantani merupakan bagian terpenting dari sejarah perjuangan memperebutkan kemerdekaan Indonesia. Pemberontakan Petani Banten di abad 18 yang sangat merugikan Belanda, misalnya, merupakan salah satu contoh dari karya murid Syek Nawawi. Karena itu, wajar jika Syekh Nawawi menjadi salah satu objek “mata-mata” Snouck Hourgronje.

10. Berdasarkan penelitian Martin Van Bruinesen (Indonesianis dari Belanda) setelah mengadakan penelitian di 46 pesantren terkemuka di Indonesia ia berkesimpulan bahwa 42 dari 46 pesantren itu menggunakan kitab-kitab yang ditulis Syekh Nawawi al-Bantani. Menurut Martin, sekurang-kurangnya 22 karangan Nawawi yang menjadi rujukan di pesantren-pesantren itu.

Karya-karya Monumental

Syekh Nawawi al-Bantani dikenal sebagai penulis produktif, khususnya komentar terhadap karya-karya klasik sebelumnya, dalam banyak bidang. Karya-karyanya mencapai seratusan judul.

Bidang-bidang ditulis Syekh Nawawi cukup beragam, mulai di bidang Tafsir Hadist, Akidah, Fiqih, dan Tasauf. Dalam Bidang Tafsir, beliau menulis Al-Tafsir al-Munir li al-Muallim al-Tanzil al-Mufassir ‘an wujuh mahasin al-Ta’wil musamma Murah Labid li Kasyfi Ma’na Quran Majid (yang dikenal dengan nama Tafsir Munir). Tafsir al-Munir sering disejajarkan dengan Tafsir Jalalain, bahkan banyak kalangan yang menganggap lebih baik.

Dalam Bidang Ilmu Akidah beliau menulis antara lian Tîjan al-Darary, Nur al-Dhalam, Aqidah Fath al-Majîd. Pokok pikiran Syekh Nawawi dalam akidah adalah bahwa manusia dalam keadaan tertentu mempunyai pilihan untuk berbuat baik atau jahat. Namun dalam kesempatan lain, seperti dalam soal kelahiran dan kematian manusia tidak mempunyai pilihan apapun, karena semuanya sudah ditakdirkan. Pemikiran ini merupakan pemikiran ‘Asy’ariyah.

Dalam Bidang Ilmu Hadits beliau menulis Tanqih al-Qaul yang merupakan syarah atas Lubab Hadist, namun di pesantren di Indonesia justru Tanqi al-Qaul lebih terkenal dari Lubab Hadist.

Bidang Ilmu Fiqih beliau menulis Sullam al-Munâjah, Nihayah al-Zain, Kâsyifah al-Saja. Kasyifah al-Saja syarah atau komentar terhadap kitab fiqih Safînah al-Najâ, karya Syaikh Sâlim bin Sumeir al-Hadhramy. Kitab fiqih lainnya yang sangat terkenal di kalangan para santri pesantren di Jawa ’Uqûd al-Lujain fi Bayân Huqûq al-Zaujain. Dalam bidang fikih, Syekh Nawawi berhasil memperkenalkan dan menancapkan pengaruh Madzhad Syafi’i di Indonesia seperti yang kita saksikan sekarang ini.

Bidang Ilmu Tasawuf beliau menulis Qami’u al-Thugyan, Nashâih al-‘Ibâd, dan Minhâj al-Raghibi. Kitab Nashâih al-‘Ibâd merupakan syarah atas kitab syarah atas al-Manbaĥâtu ‘ala al-Isti’dâd li yaum al-Mi’âd. Namun di Indonesia Nashâih al-‘Ibâd lebih terkenal dari kitab yang disyarahinya. Dalam bidang tasauf, Syekh Nawawi selalu menekankan bahwa kesucian rohani bisa dicapai dengan cara menjalankan syari’at Islam secara penuh dan konsekwen. Syekh Nawawi mengibaratkan syari’at sebagai sebuah kapal, tarekat adalah lautan, dan hakikat adalah intan dalam lautan. Intan dalam lautan dapat diperoleh dengan kapal yang harus berlayar di lautan. Karena itu, kapal, laut, dan intan sangat terkait sebagaimana syariat, tarekat, dan hakikat tidak bisa berjalan sendiri-sendiri.

Karya-karya Syekh Nawawi al-Bantani secara lebih lengkap antara lain adalah sebagai berikut:

1. al-Tsamâr al-Yâni’ah syarah al-Riyâdl al-Badî’ah
2. al-‘Aqd al-Tsamîn syarah Fath al-Mubîn
3. Sullam al-Munâjah syarah Safînah al-Shalâh
4. Baĥjah al-Wasâil syarah al-Risâlah al-Jâmi’ah bayn al-Usûl wa al-Fiqh wa al-Tasawwuf
5. al-Tausyîh/ Quwt al-Habîb al-Gharîb syarah Fath al-Qarîb al-Mujîb
6. Niĥâyah al-Zayyin syarah Qurrah al-‘Ain bi Muĥimmâh al-Dîn
7. Marâqi al-‘Ubûdiyyah syarah Matan Bidâyah al-Ĥidâyah
8. Nashâih al-‘Ibâd syarah al-Manbaĥâtu ‘ala al-Isti’dâd li yaum al-Mi’âd
9. Salâlim al-Fadhlâ΄ syarah Mandhûmah Ĥidâyah al-Azkiyâ΄
10. Qâmi’u al-Thugyân syarah Mandhûmah Syu’bu al-Imân
11. al-Tafsir al-Munîr li al-Mu’âlim al-Tanzîl al-Mufassir ‘an wujûĥ mahâsin al-Ta΄wil musammâ Murâh Labîd li Kasyafi Ma’nâ Qur΄an Majîd
12. Kasyf al-Marûthiyyah syarah Matan al-Jurumiyyah
13. Fath al-Ghâfir al-Khathiyyah syarah Nadham al-Jurumiyyah musammâ al-Kawâkib al-Jaliyyah
14. Nur al-Dhalâm ‘ala Mandhûmah al-Musammâh bi ‘Aqîdah al-‘Awwâm
15. Tanqîh al-Qaul al-Hatsîts syarah Lubâb al-Hadîts
16. Madârij al-Shu’ûd syarah Maulid al-Barzanji
17. Targhîb al-Mustâqîn syarah Mandhûmah Maulid al-Barzanjî
18. Fath al-Shamad al ‘Âlam syarah Maulid Syarif al-‘Anâm
19. Fath al-Majîd syarah al-Durr al-Farîd
20. Tîjân al-Darâry syarah Matan al-Baijûry
21. Fath al-Mujîb syarah Mukhtashar al-Khathîb
22. Murâqah Shu’ûd al-Tashdîq syarah Sulam al-Taufîq
23. Kâsyifah al-Sajâ syarah Safînah al-Najâ
24. al-Futûhâh al-Madaniyyah syarah al-Syu’b al-Îmâniyyah
25. ‘Uqûd al-Lujain fi Bayân Huqûq al-Zaujain
26. Qathr al-Ghais syarah Masâil Abî al-Laits
27. Naqâwah al-‘Aqîdah Mandhûmah fi Tauhîd
28. al-Naĥjah al-Jayyidah syarah Naqâwah al-‘Aqîdah
29. Sulûk al-Jâdah syarah Lam’ah al-Mafâdah fi bayân al-Jumu’ah wa almu’âdah
30. Hilyah al-Shibyân syarah Fath al-Rahman
31. al-Fushûsh al-Yâqutiyyah ‘ala al-Raudlah al-Baĥîyyah fi Abwâb al-Tashrîfiyyah
32. al-Riyâdl al-Fauliyyah
33. Mishbâh al-Dhalâm’ala Minĥaj al-Atamma fi Tabwîb al-Hukm
34. Dzariyy’ah al-Yaqîn ‘ala Umm al-Barâĥîn fi al-Tauhîd
35. al-Ibrîz al-Dâniy fi Maulid Sayyidina Muhammad al-Sayyid al-Adnâny
36. Baghyah al-‘Awwâm fi Syarah Maulid Sayyid al-Anâm
37. al-Durrur al-Baĥiyyah fi syarah al-Khashâish al-Nabawiyyah
38. Lubâb al-bayyân fi ‘Ilmi Bayyân.

Karomah Syekh Nawawi Banten dan Belut

Kiai Tamad (90) meriwayatkan salah satu kebesaran Syekh Nawawi Al-Bantani. Ia mendapat riwayat itu dari gurunya, Mama Ajengan Tubagus Ahmad Bakri (Mama Sempur) Purwakarta. Mama Sempur adalah salah seorang murid langsung Syekh Nawawi di Makkah.

Syekh Nawawi adalah seorang alim yang seumur-umur tidak pernah memakan ikan jenis apapun. Suatu ketika, seorang Arab (tidak disebutkan namanya) mengejek kebiasaan orang Nusantara. Ia mengatakan, orang Nusantara itu memakan barang haram, yaitu belut.

Menurut orang Arab itu, belut adalah ular, maka hukumnya haram.

Meski Syekh Nawawi tak pernah memakan belut, ia yakin hewan yang umum dimakan di tanah kelahirannya itu halal. Maka ia mengatakan kepada orang Arab, bahwa belut halal!

Orang Arab menolak pendapat itu.

Karena kehabisan cara untuk menjelaskan, Syekh Nawawi memukulkan tangannya ke dalam pasir di hadapan orang itu. Tangannya langsung menelusup seperti ke dalam lumpur. Ia mengambil sesuatu.

Ketika tangannya diangkat kembali, seekor belut berada dalam genggamannya. Lalu ia menunjukkan kepada orang itu. Inilah belut yang dimakan orang Nusantara. Beda dengan ular.

Syekh Nawawi menjelaskan perbedaan ular dan belut terletak pada insangnya. Karena belut memilki insang, maka hukumnya seperti ikan.

Kiai Tamad menjelaskan kisah itu di kediamannya, kampung Pungangan, Kecamatan Patokbeusi, Kabupaten Subang pada Rabu,(10/4).

Kisah Ulama Asal Banten yang Menjadi Imam Masjidil Haram

Indonesia pernah memiliki seorang ulama ternama di jazirah Arab. Ia menjadi imam di Masjidil Haram, mengajar di Haramain, menulis buku yang tersebar di Timur Tengah.

Dialah Syekh Nawawi Al Bantani. Namanya sangat terkenal di Saudi hingga dijuluki “Sayyidul Hijaz”, yakni ulama di kawasan Hijaz. Kefakihannya dalam agama pun membuatnya dijuluki Nawawi kedua, maksudnya penerus ulama dunia terkenal, Imam Nawawi.

Nama dan gelar lengkap beliau, yakni Abu Abdullah Al-Mu’thi Muhammad Nawawi bin Umar Al-Tanari Al-Bantani Al-Jawi. Ia lahir di Kampung Pesisir Desa Tanara, Kecamatan Tirtayasa, Serang, Banten, 1230 Hijriyah atau 1815 Masehi. Ayahnya, Umar bin Arabi, merupakan seorang ulama di Banten. Bahkan, ada kabar Syekh Nawawi merupakan keturunan Sunan Gunung Jati dari Sultan Banten pertama, Maulana Hasanuddin. Syekh Nawawi juga dikabarakan masih memiliki jalur nasab dari Husein, cucu Rasulullah.

Sejak kecil, ia dibawah didikan sang ayah. Tak heran jika Nawawi kecil telah terbiasa dengan didikan agama. Tak hanya itu, ayahnya juga mengirimnya kepada temannya yang juga seorang ulama Banten, KH Sahal, dan seorang ulama di Purwakarta, KH Yusuf. Baru, pada usia 15 tahun, Syekh Nawawi pergi ke Arab Saudi. Di tanah kelahiran Islam, ia memantapkan ilmu agamanya. Ulama besar Saudi menjadi gurunya.

Setelah tiga tahun menempa ilmu di Tanah Suci, Syekh Nawawi kembali ke Tanah Air. Tapi, saat pulang, ia tak senang dengan kondisi penjajahan Belanda. Ia kemudian kembali lagi ke Makkah dan menjadi penuntut ilmu. Sejak keberangkatan itu, ia tak lagi pulang ke Indonesia hingga akhir hayat.

Di Makkah, Syekh giat menghadiri majelis ilmu di Masjidil Haram. Hingga, kemudian seorang imam masjid utama tersebut, Syekh Ahmad Khatib Sambas meminta Nawawi untuk menggantikan posisinya. Maka, mulailah Syekh Nawawi menjadi pengajar dan membuka majelisnya sendiri di Masjidil Haram. Murid syekh berdatangan dengan jumlah yang banyak. Bahkan, beberapa di antara muridnya merupakan pemuda asal Indonesia. Salah satu muridnya, yakni KH Hasyim Asy’ari pendiri Nadlatul Ulama (NU).

Syekh Nawawi mengabdikan hidupnya untuk mengajar. Ia pun terkenal giat menulis dan menghasilkan banyak karya. Sampai-sampai, banyak manuskripnya disebarkan bebas kemudian diterbitkan tanpa royalti. Sedikitnya, 34 tulisannya juga masuk dalam Dictionary of Arabic Printed Books. Karya lainnya mencapai seratus buku dari berbagai cabang ilmu Islam.
Di antara bukunya yang terkenal, yakni Tafsir Marah Labid, Atsimar Al-Yaniah fi Ar-Riyadah al-Badiah, Nurazh Sullam, Al-Futuhat Al-Madaniyah, Tafsir Al-Munir, Tanqih Al-Qoul, Fath Majid, Sullam Munajah, Nihayah Zein, Salalim Al-Fudhala, Bidayah Al-Hidayah, Al-Ibriz Al-Daani, Bugyah Al-Awwam, Futuhus Samad, dan al-Aqdhu Tsamin. Tak sedikit dari karya-karyanya yang diterbitkan di Timur Tengah. Universitas Al Azhar Kairo juga pernah mengundang syekh karena karya-karyanya yang digemari kalangan akademisi.

Buku-bukunya memang tersebar di Mesir. Di universitas Islam tertua itu, syekh menjadi pembicara dalam sebuah diskusi ilmiah.

Meski tak pernah mengajar di ranah nusantara, syekh menyebarkan ilmu melalui karya kepada masyarakat Indonesia. Karya-karyanya bahkan menjadi buku wajb di pesantren-pesantren. Bagi komunitas santri, Syekh Nawawi merupakan mahaguru yang banyak memberikan ilmu mengenai landasan beragama. Apalagi, ia juga merupakan guru dari sang pendiri NU. Sehingga, tak sedikit yang menyebut Syekh Nawawi sebagai akar tunjang tradisi intelektual ormas Islam terbesar di Indonesia tersebut.


Pemikiran
Syekh Nawawi sering kali menyatakan diri sebagai penganut paham Asy’ariyyah dan Maturidiyyah, sebuah paham yang dilahirkan Abu Hasan Al Asyari dan Abu Manshur Al Maturidi. Keduanya merupakan kelompok yang memfokuskan diri pada pembelajaran sifat-sifat Allah. Dari Syekh Nawawi, paham tersebut pun kemudian tersebar di nusantara.

Adapun dalam mazhab fikih, syekh Nawawi memilih mengikuti Imam Syafi’i. Hal ini terlihat dari karya-karyanya dalam ilmu fikih. Syekh Nawawi juga mempelajari ilmu tasawuf dan mengajarkannya. Ia bahkan menulis sebuah karya yang menjadi rujukan utama seorang sufi. Imam Al Ghazali juga banyak memengaruhi pemikiran Syekh Nawawi.

Ulama Nusantara ternama internasional ini wafat di Syeib A’li, pinggiran Kota Makkah, pada 25 Syawal 1314 Hijriyah atau 1879 Masehi. Ia kemudian dimakamkan di pemakaman Ma’la. Hingga kini, masyarakat Nusantara, terutama masyarakat Banten, selalu memperingati hari wafatnya setiap tahun.

Wallahu ‘alam bi showab

Ditulis oleh Wakid Yusuf- 22 Mei 2018

https://wakidyusuf.wordpress.com/2018/05/22/kisah-karomah-syeikh-na

Isnin, 26 Januari 2026

Adab dan Sunnah #15

 Aisyah رضي الله عنها meriwayatkan bahawa sewaktu Rasulullah ‎ﷺ diusir oleh penduduk Taif ketika menyeru kepada ajaran Islam, Malaikat Jibril عليه السلام yang menyaksikan kejadian itu berkata, "Allah mengetahui apa yang terjadi padamu dan orang-orang ini. Allah telah memerintahkan malaikat-malaikat di gunung-gunung untuk mentaati perintahmu."

Para malaikat penjaga gunung kemudian berkata, "Wahai Muhammad! Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan kaummu terhadapmu. Aku adalah malaikat penjaga gunung dan Tuhanmu telah mengutusku kepadamu untuk engkau perintahkan menurut kehendakmu, jika engkau suka, aku mampu menterbalikkan Gunung Akhsyabin ini ke atas mereka."

Namun jawapan Nabi ‎ﷺ sangat menyentuh hati. Nabi ‎ﷺ dengan lembut berkata kepada Jibril عليه السلام dan malaikat penjaga gunung, "Walaupun mereka menolak ajaran Islam, aku berharap dengan kehendak Allah, keturunan mereka suatu masa nanti akan menyembah Allah dan beribadah kepadaNya."

Nabi ‎ﷺ bahkan berdoa, "Ya Allah! Berikanlah petunjuk kepada kaumku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui."

Hadis Riwayat Bukhari

(Al-Quran & Hadith)

KENAPA DARIPADA BANI HASHIM

"Bukan Kebetulan, Tapi 'Grand Design'. Kenapa Allah Pilih Bani Hashim Untuk Lahirkan Manusia Paling Agung?"

Pernah tak korang terfikir, kenapa Nabi Muhammad ‎ﷺ lahir dalam keluarga Bani Hashim?

Kenapa bukan dari Parsi yang kaya raya? Kenapa bukan dari Rom yang bertamadun tinggi?

Kenapa mesti dari tengah padang pasir yang kering kontang, dari satu kabilah yang bernama Quraisy?

Jawapannya bukan nasib. Bukan kebetulan.

Ini adalah satu proses "Penyaringan Ilahi" yang sangat teliti.

Bayangkan kalau korang nak simpan satu permata yang paling mahal dalam dunia. Korang takkan letak permata tu dalam bekas plastik pasar malam.

Korang akan cari bekas emas, dibalut sutera, diletak dalam peti besi, dan dijaga oleh pengawal elit.

Macam itulah perumpamaan keturunan Rasulullah ‎ﷺ.

Allah telah "menapis" manusia sejak zaman Nabi Adam عليه السلام lagi.

Daripada semua anak Adam, Allah pilih keturunan Nabi Nuh.

Daripada Nuh, Allah pilih Ibrahim.

Daripada Ibrahim, Allah pilih Ismail (bukan Ishak).

Dan daripada keturunan Ismail yang ramai tu, Allah pilih Kabilah Kinanah.

Daripada Kinanah, Allah pilih Quraisy.

Dan daripada Quraisy, Allah pilih permata paling bersinar: Bani Hashim.

Siapa sebenarnya Bani Hashim ni? Apa special sangat dorang ni sampai Allah pilih? 

Mari kita zoom in pada datuk moyang Baginda, Hashim bin Abd Manaf.

Nama asal dia 'Amr. Tapi orang panggil dia Hashim (Pemelatah/Pecah) sebab dia suka pecahkan roti untuk bagi makan orang miskin.

Hashim ni jutawan yang dermawan.

Masa Mekah dilanda kebuluran, dia keluarkan duit poket sendiri, beli tepung dari Syam, buat bubur dan roti, jamu satu Mekah makan sampai kenyang.

Dia jugalah "Menteri Ekonomi" yang bijak.

Dialah yang mulakan sistem perdagangan dua musim (Rihlah as-Syita' was-Saif). Musim sejuk ke Yaman, musim panas ke Syam.

Sebab otak geliga Hashim lah, Quraisy jadi kaya raya dan dihormati satu Semenanjung Arab.

Kemudian, tengok pula anak dia, datuk Nabi ‎ﷺ, Abdul Muttalib.

Ini lagi legend.

Korang ingat tak peristiwa tentera bergajah Abrahah nak hancurkan Kaabah?

Satu Mekah lari panik naik bukit. Takut.

Tapi Abdul Muttalib? Dia relaks je turun jumpa Abrahah.

Bila Abrahah tanya, "Kau tak nak minta aku batalkan serangan ke?", Abdul Muttalib jawab dengan tenang:

"Aku datang nak minta balik 200 ekor unta aku yang kau rampas. Pasal Kaabah tu... itu Rumah Allah. Pandai-pandailah Tuan Punya Rumah jaga rumah Dia."

Fuh, berderau darah Abrahah dengar.

Itu bukan tanda dia pengecut. Itu tanda Tawakkul level tertinggi. Dia tahu Allah ada.

Dan terbukti, Allah hantar burung Ababil hancurkan tentera gajah tu macam daun dimakan ulat.

Dalam keturunan yang hebat macam inilah, Allah takdirkan lahirnya Abdullah.

Abdullah ni pemuda paling kacak, paling baik akhlak, dan paling disayangi Abdul Muttalib.

Dia dikahwinkan dengan Aminah binti Wahab, wanita paling mulia dari Bani Zuhrah.

Gabungan dua paling suci di Mekah.

Tapi, Allah ada perancangan yang pedih tapi penuh hikmah.

Abdullah dijemput pulang semasa Nabi masih dalam kandungan.

Aminah pula dijemput pulang semasa Nabi umur 6 tahun.

Kenapa?

Kenapa "Permata" ni perlu jadi yatim piatu?

Supaya dunia tahu, Muhammad ‎ﷺ tidak dididik oleh ayahnya. Tidak dimanjakan oleh ibunya.

Baginda dididik terus oleh Allah.

Supaya musuh tak boleh cakap, "Alaa, Muhammad tu pandai sebab ayah dia ajar, sebab atuk dia ketua kaum."

Tidak. Baginda membesar sendiri, dijaga oleh Allah, di celah-celah masyarakat Jahiliyah, tapi sedikit pun tak terpalit dengan kekotoran penyembahan berhala.

Keturunan Bani Hashim ni bukan sekadar bangsawan.

Mereka adalah simbol kemurahan hati (Hashim), simbol keberanian (Abdul Muttalib), dan simbol kesucian (Abdullah).

Semua sifat-sifat "DNA" ini dikumpul, disaring, dan akhirnya ditiupkan ke dalam jasad seorang lelaki bernama Muhammad bin Abdullah.

Sebab itulah, bila Nabi mula berdakwah, musuh boleh tolak ajaran Baginda, tapi musuh tak boleh tolak peribadi Baginda.

Abu Jahal pun pening.

Dia benci Islam, tapi dia tak boleh cakap Nabi ‎ﷺ penipu sebab dia tahu keturunan Hashim tak pernah menipu.

Nasab yang suci, untuk membawa Risalah yang suci.

MasyaAllah, sesungguhnya Allah SWT Maha Halus dalam perancanganNya.

Dia tidak membiarkan Kekasih-Nya lahir daripada susur galur yang sembarangan, sebaliknya dipelihara kesucian keturunan itu dari zaman berzaman.

Kisah Bani Hashim mengajar kita bahawa kemuliaan bukan terletak pada harta semata-mata, tetapi pada akhlak, sifat dermawan, dan keberanian mempertahankan hak Allah.

Moga kita dan keturunan kita juga terpilih untuk menjadi penyambung perjuangan Baginda yang mulia ini.

Kredit: Mazlan Syafie

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ

Hanya Allah Maha Mengetahui

Perkara Yang Benar

Ahad, 25 Januari 2026

Kisah Hikmah (123)

Grup : Fawaid wa Faroid Al-Yaumiyyah

Rahasia Manisnya Ibadah: Kisah Abu Yazid Al-Busthami dan Sesuap Keju.

> Sumber kitab: An nawadir karya Al imam Al Qolyubi Hal 35

Dahulu kala, hiduplah seorang ulama besar dan sufi yang sangat masyhur, *Abu Yazid Al-Busthami.* Beliau dikenal sebagai sosok yang sangat tekun beribadah. Namun, di balik ketekunannya, Abu Yazid merasakan ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Selama bertahun-tahun ia bersujud, berzikir, dan bermunajat, namun ia merasa hatinya kering. Ia tidak merasakan manisnya iman maupun kelezatan dalam ketaatan. Merasa ada yang tidak beres dengan keadaan spiritualnya, Abu Yazid lantas menemui ibunya. Dengan penuh rasa hormat, ia bertanya:

"Wahai Ibu, sudah sekian lama aku menyembah Allah, namun aku tidak pernah merasakan manisnya ibadah. Cobalah Ibu ingat kembali, apakah saat Ibu mengandungku atau menyusuiku dulu, Ibu pernah memakan sesuatu yang tidak halal atau sesuatu yang bukan hak Ibu?"

Sang ibu terdiam dan merenung cukup lama. Ia mencoba mengingat setiap detil masa lalunya. Hingga akhirnya, ia teringat sebuah kejadian kecil. 

"Putraku," jawab sang ibu, "Dulu saat engkau masih di dalam kandungan, aku pernah naik ke atap rumah. Di sana aku melihat sebuah wadah milik tetangga berisi 'aqat' (keju kering). Aku sangat menginginkannya, lalu aku mengambil sedikit saja, hanya seukuran ujung jari, dan memakannya tanpa izin pemiliknya."

Mendengar hal itu, Abu Yazid tersentak. "Wahai Ibu, mungkin inilah penghalangnya. Pergilah Ibu, cari pemiliknya dan mintalah kehalalannya."

Ibunya pun segera menemui sang pemilik keju dan menceritakan kejadian bertahun-tahun silam itu. Dengan penuh kerelaan, pemilik keju memaafkannya dan mengikhlaskan apa yang telah dimakan sang ibu.

Setelah urusan hak itu selesai, keajaiban pun terjadi. Saat Abu Yazid kembali beribadah, seketika itu juga Allah membukakan pintu kemanisan dalam hatinya. Ia merasakan kelezatan yang luar biasa dalam setiap sujud dan Dzikirnya, sesuatu yang selama puluhan tahun tidak ia rasakan.

Sumber: Catatan Al-Hikam

Tanya Jawab islami -PERIHAL SOLAT JUMAAT

Grup Fawaid wa Faroid Al-Yaumiyyah

PERTANYAAN: Assalamualaikum ustad . Saya Eko dari Jawa timur ,, bolehkah bertanya tanya tentang hal sholat ? Saya bekerja di bagian satpam di sebuah perusahaan kereta api. Setiap hari Jum at saya harus gantian dengan rekan kerja saya ketika akan sholat jum at , di total dalam satu bulan saya bisa sholat Jum at hanya 2x dalam sebulan,Saya pernah baca dan dengar juga kalau kita tidak sholat Jum at sebanyak 3x , maka akan jadi kafir Apakah saya bisa termasuk di dalam golongan itu ustad ?

*JAWABAN*

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته... 

Hukum meninggalkan sholat Jumat adalah *Haram dan dosa besar* sama seperti meninggalkan sholat wajib jika tanpa ada udzur (alasan) yang dibenarkan syari'at. Bahkan jika ia terus terusan meninggalkan sholat Jumat para ulama Syafi'iyah memberikan hukuman berat yaitu *Disuruh taubat atau dibunuh*.

Al imam Ibnu Sholah menukil Kalam Al imam abu bakar asy syasyi :

فقد ذكر ذَلِك الإِمَام أَبُو بكر الشَّاشِي رضي الله عنه من غير أَن يشبب فِيهِ بِخِلَاف وَكَانَ رحمه الله قد استفتى فَأفْتى بِوُجُوب قَتله وَإِن كَانَ يُصليهَا ظهرا وَذَلِكَ فِي فَتَاوِيهِ مَوْجُود هَا هُنَا وكما أَنه لَا يتَوَقَّف اسْتِحْقَاق قَتله على امْتِنَاعه من فعل الظّهْر فَكَذَلِك أصل اسْتِحْقَاق قَتله لَا يتَوَقَّف على الْإِصْرَار وَترك الْإِنَابَة وَالتَّوْبَة وَهُوَ هَذَا كَتَرْكِ سَائِر الصَّلَوَات الْمَكْتُوبَة يُوجب الْقَتْل غير مُتَوَقف فِيهِ أصل وجوب الْقَتْل على الِامْتِنَاع من الْقَضَاء وَالتَّوْبَة بل يتَوَقَّف اسْتِيفَاؤهُ على الاستتابة والإصرار

_"Hal itu telah disebutkan oleh Imam Abu Bakar asy-Syasyi radhiyallahu 'anhu tanpa menyebutkan adanya perbedaan pendapat (khilaf) di dalamnya. Beliau rahimahullah pernah dimintai fatwa, lalu beliau berfatwa tentang wajibnya hukuman mati bagi orang tersebut, meskipun ia mengerjakan salat Dzuhur (sebagai ganti Jumat). Fatwa ini ada di dalam kumpulan fatwa-fatwa beliau di sini._[Fatawa Ibnu Sholah 1/252]

Namun dalam konteks yang antum berikan yaitu meninggalkan *sholat Jumat sebanyak 3 kali* maka terdapat hadits khusus menjelaskannya diantaranya:

من ترك ثلاث جمع تهاونا بها طبع الله على قلبه

_"Barangsiapa meninggalkan tiga kali shalat Jumat karena meremehkannya, maka Allah akan menutup (mengunci) hatinya."_

من ترك الجمعة ثلاث جمع متواليات فقد الإسلا وراء ظهره يعني بلا عذر شرعي

_"Barangsiapa meninggalkan shalat Jumat sebanyak tiga kali berturut-turut, maka sungguh ia telah melemparkan Islam ke belakang punggungnya maksudnya (simbol dari sikap mengabaikan ajaran agama) (jika dilakukan) tanpa adanya uzur syar'i."_

من ترك ثلاث جمعات من غير عذر كتب من المنافقين

_"Barangsiapa meninggalkan tiga kali shalat Jumat tanpa adanya uzur, maka ia akan dicatat sebagai golongan orang-orang munafik."_

Sehingga yang dimaksud meninggalkan dalam hadits hadits tersebut adalah jika *sengaja meninggalkan/tanpa alasan*. Trs apakah pekerjaan termasuk udzur? 

Maka para ulama memperbolehkan seorang pekerja berat/semisalnya dalam kasus ini (penjaga/satpam) yang tanpanya akan berbahaya bagi keselamatan nyawa harta dll seseorang maka ia diperbolehkan tidak hadir sholat Jumat namun tetap diwajibkan *sholat Dzuhur* -• *Al Imam An Nawawi (ulama besar Syafi'i)*

ومنها أن يخاف على نفسه أو ماله أو على من يلزمه الذب عنه من سلطان أو غيره ممن يظلمه

_"Termasuk uzur-uzur bolehnya meninggalkan Jumat dan sholat jamaah adalah adanya kekhawatiran atas nyawa, harta, atau orang-orang yang wajib dilindungi dari (intimidasi) penguasa atau orang lain yang hendak menzaliminya."_ [Roudhotu Tholibin 1 Hal 345] -• *Al Imam Zarkasyi*

مسألة  استؤجر لعمل مدة فأوقات الصلاة مستثناة فلا ينقص من الأجر شيء سواء الجمعة وغيرها وعن ابن سريج أنه يجوز له ترك الجمعة بهذا السبب حكاه في أواخر الإجارة

_"Bila seseorang menerima upah atas suatu pekerjaan dalam jangka waktu tertentu, maka waktu shalat dikecualikan. Pahalanya tidak berkurang sedikitpun (karena pengecualian itu) baik shalat Jumat maupun shalat lainnya.

...........................................................................................................................................................

Dari Ibnu Suraij, dikatakan bahwa seseorang boleh meninggalkan shalat Jumat karena sebab tersebut seperti dihikayatkannya di akhir bab Ijarah,”_ [Khobaya az zawaya Hal 119]

• *Syaikh Sholih Fauzan (ulama panutan wahabi)* 

وأما قضية إذا كان العمل يتطلب من يبقى حارسًا على معدات أو أشياء مالية يخاف عليها لو ذهب الجميع للصلاة؛ فإنه لا بأس أن يبقى من تنسد به الحاجة لأجل حراسة هذه الأموال، ويكون معذورًا عن حضور الجمعة والجماعة .

_"Adapun apabila pekerjaan tersebut mengharuskan adanya orang yang menjaga mesin-mesin atau harta benda yang dikhawatirkan hilang jika semua karyawan pergi untuk  sholat maka tidak mengapa sebagian karyawan (sesuai dengan kebutuhan) tetap tinggal di tempat untuk menjaga harta tersebut, dan dia diperbolehkan untuk tidak menghadiri Jumat dan jama’ah"

Wallahu A'lam bishowab

Sumber: CATATAN AL-HIKAM

MEMAHAMI PESAN ALLAH DALAM RASA SAKIT

 Oleh: M. Alfianurrahman, M.Pd.

Pendahuluan: Sakit Sebagai Surat Cinta

Dalam perjalanan hidup, rasa sakit -baik fisik maupun bati- adalah tamu yang seringkali tidak kita harapkan. Namun, bagi seorang mukmin, sakit bukan sekadar kerusakan sel atau gangguan biologis. Ia adalah "pesan khusus" dari Sang Khaliq untuk melatih kemurnian tauhid dan kesabaran kita.

Imam Al-Awzai rahimahullah memberikan sebuah perumpamaan yang sangat indah mengenai balasan bagi mereka yang diuji:

لا تُكال الأُجورُ للصَّابرين ولا تُوزَن، وإنَّما تُغرَف لهُم غَرفًا!

"Pahala bagi orang-orang yang bersabar itu tidak lagi ditakar atau ditimbang, melainkan dicurahkan kepada mereka sepuas-puasnya (dalam jumlah yang melimpah)!"

Kalimat ini merujuk pada firman Allah dalam QS. Az-Zumar: 10, bahwa pahala sabar itu bighairi hisab (tanpa batas). Maka, di balik setiap denyut nyeri yang kita rasakan, ada limpahan ampunan dan derajat yang sedang ditinggikan.

Ikhtiar Syar’i: Mengambil Berkah Al-Qur’an

Islam adalah agama yang paripurna, mengajarkan kita untuk bersabar sekaligus berusaha (ikhtiar). Selain pengobatan medis, kita diajarkan untuk mengambil tabarruk (berkah) dari ayat-ayat suci Al-Qur'an. Dalam kitab Hashiyat al-Bajuri, salah satu rujukan utama dalam fikih mazhab Syafi'i, disebutkan sebuah faedah yang telah teruji (mujarrab) bagi mereka yang menderita demam (humma):

 فائدة للحمى من كتاب حاشية البيجوري :

 أن يكتب في ثلاث ورقات ، في الأولى " إنا أعطيناك الكوثر" وفي الثانية " فصلّ لربك وانحر " وفي الثالثة " إن شانئك هو الأبتر " . ثم يبخر بالورقة الأولى مع حب كزبرة صحيحة وقطعة لبان ذكر على نار طاهرة عند مجيئها له ، فإن عادت له بخر بالثانية كذلك ثم بالثالثة كذلك أيضا. فيشفى بإذن الله تعالى فقد جرب ذلك . اه. البيجوري ١/٥٧٩ ، ط الهدي المحمدي

Jika seseorang mengalami demam, dianjurkan untuk: 

1. Menuliskan Surah Al-Kautsar pada tiga lembar kertas secara terpisah:

   - Kertas 1: inna a'tainakal-kauthar

   - Kertas 2: Fa shalli li rabbika wanhar

   - Kertas 3: Inna shani'aka huwal-abtar

2. Proses Pengobatan: Saat demam datang, ambil kertas pertama, letakkan di atas api yang suci (untuk diasapkan), bersama dengan biji ketumbar utuh dan sepotong luban dzakar (kemenyan Arab).

3. Pengulangan: Jika demam belum reda, ulangi proses yang sama dengan kertas kedua, lalu ketiga jika diperlukan.

4.  Keyakinan: Kesembuhan datangnya dari Allah SWT, dan metode ini adalah bentuk wasilah melalui keagungan kalam-Nya.

Kesimpulan

Sakit mengajarkan kita tentang keterbatasan manusia dan kemahakuasaan Allah. Mari hadapi setiap ujian kesehatan dengan dua sayap: Sayap Sabar (mengharap pahala tanpa batas) dan Sayap Ikhtiar (mencari kesembuhan melalui medis maupun jalur spiritual yang diajarkan para ulama).

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kita kesehatan yang berkah dan hati yang rida atas segala ketetapan-Nya.

Sumber:Catatan Al-Hikam

Sabtu, 10 Januari 2026

KiSAH RASULULLAH Dengan YAHUDi

Seorang Yahudi yang kaya telah menawarkan hutang kepada Nabi s.a.w dengan berkata, "Ya Muhammad, jika engkau memerlukannya, pinjamlah dengan aku." Maka Nabi s.a.w bersetuju mengikut syarat-syarat yang telah ditetapkan.

Beberapa hari sebelum tempoh membayar hutang itu tiba, Yahudi tadi dengan biadabnya bertemu Nabi s.a.w lalu berkata, "Muhammad, bila kau nak bayar hutang aku?" Beliau mendesak Nabi s.a.w segera membayar hutangnya itu walaupun tempoh bayar yang telah dipersetujui belum tiba lagi.

Umar r.a yang ketika itu berada di sebelah Nabi s.a.w telah marah lalu mengenakan kata-kata kesat kepada Yahudi tersebut kerana kebiadaban dan mungkir janjinya.

Lalu para sahabat r.hum berkongsi bersama membantu Nabi s.a.w mengumpulkan wang yang secukupnya bagi membolehkan hutang Yahudi ni tadi dibayar seperti yang diminta.

Tapi kerana kata-kata kesat Umar r.a kepada Yahudi tadi, Nabi s.a.w telah memerintahkan Umar r.a untuk membayar lebih ataupun memohon maaf kepada Yahudi tersebut.

Umar r.a telah membayar lebih hutang Nabi s.a.w daripada sahabat yang lain sambil menyerahkannya kepada Yahudi tadi.

Yahudi itu bertemu Nabi s.a.w dan berkata, "Ya Muhammad! Benarlah engkau ini pesuruh Allah." Maka Yahudi tersebut telah mengucap syahadah di tangan Nabi s.a.w.

Inilah akhlak yang ditunjukkan Nabi s.a.w dan para sahabat r.a yang dengar dan taat semata-mata untuk mendapat kasih sayang Allah, hasilnya seorang Yahudi yang biadab telah mendapat hidayah.

Hablum minnan nas, jagalah hubungan kita dengan manusia menerusi akhlak cara Nabi s.a.w.

Hanya Allah Maha Mengetahui

Perkara Yang Benar

KISAH KAROMAH SYEIKH NAWAWI

Kisah Syeikh Nawawi Diarak Keliling Ka`Bah Kemasyhuran dan nama besar Syeikh Nawawi al-Bantani kiranya sudah tidak perlu diragukan lagi. Mel...