Khamis, 3 September 2015

WALI SONGO UTUSAN KHALIFAH

••Boleh dikatakan tidak akan ada Islam di Indonesia tanpa peranan khilafah. Orang sering 

mengatakan bahawa Islam di Indonesia, khususnya di tanah Jawa disebarkan oleh

Walisongo. Tapi tidak banyak orang tahu, siapa sebenarnya Walisongo itu? Dari mana 

mereka berasal? Tidak mungkin mereka tiba-tiba ada, seolah turun dari langit?

••Dalam kitab Kanzul ‘Hum yang ditulis oleh Ibn Bathuthah yang kini tersimpan di 

Muzium Istana Turki di Istanbul, disebutkan bahawa Walisongo dikirim oleh Sultan 

Muhammad I. Awalnya, ia pada tahun 1404 M (808 H) mengirim surat kepada pembesar

Afrika Utara dan Timur Tengah yang isinya meminta dikirim sejumlah ulama yang memiliki

kemampuan diberbagai bidang untuk diberangkatkan ke pulau Jawa.

••Jadi, Walisongo sesungguhnya adalah para Dai atau ulama yang diutus khalifah di masa 

Kekhilafahan Utsmani untuk menyebarkan Islam di Nusantara. Dan jumlahnya ternyata 

tidak hanya sembilan (Songo). Ada 6 angkatan yang masing-masing jumlahnya sekitar

sembilan orang. Memang awalnya dimulai oleh angkatan I yang dipimpin oleh Syeikh 

Maulana Malik Ibrahim, asal Turki, pada tahun 1400an. Beliau seorang ahli politik dan 

kedatangannya itu menjadi peletak dasar pendirian kesultanan di Jawa sekaligus 

mengembangkan bidang pertanian di Nusantara. Seangkatan dengannya, ada dua wali dari

Palestin yang berdakwah di Banten. iaitu Maulana Hasanudin, Datuk Sultan Ageng 

Tirtayasa, dan Sultan Aliudin. Jadi, masyarakat Banten sesungguhnya punya hubungan 

biologis dan ideologis dengan Palestin.

••Sementara itu Syeikh Ja’far Shadiq dan Syarif Hidayatullah yang lebih dikenali dengan 

sebutan Sunan Kudus dan Sunan Gunung Jati. Kedua-duanya juga berasal dari Palestin. 

Sunan Kudus mendirikan sebuah kota kecil di Jawa Tengah yang kemudian disebut Kudus –

berasal dari kata al Quds (Jerusalem).

••Dari para wali itulah kemudian Islam tersebar ke merata tempat di sekitar seperti yang 

kita lihat sekarang. Oleh kerana itu, sungguh aneh kalau ada dari umat Islam sekarang 

yang menolak khilafah. Itu sama ertinya ia menolak sejarahnya sendiri, padahal nenek 

moyangnya dapat mengenal Islam hasil daripada para ulama yang diutus oleh para 

khalifah.

••Islam masuk ke Indonesia pada abad 7M (abad 1H), jauh sebelum penjajah datang. 

Islam terus berkembang dan mempengaruhi situasi politik ketika itu. Berdirilah 

kesultanan-kesultanan Islam seperti di Sumatera setidaknya diwakili oleh institusi 

kesultanan Peureulak (didirikan pada 1 Muharram 225H atau 12 November tahun 839M), 

Samudera Pasai, Aceh Darussalam, Palembang; Ternate, Tidore dan Bacan di Maluku 

(Islam masuk ke kerajaan di kepulauan Maluku ini tahun 1440); Kesultanan Sambas, 

Pontianak, Banjar, Pasir, Bulungan, Tanjungpura, Mempawah, Sintang dan Kutai di 

Kalimantan.

••Adapun kesultanan di Jawa antara lain: kesultanan Demak, Pajang, Cirebon dan 

Banten. Di Sulawesi, Islam diterapkan dalam institusi kerajaan Gowa dan Tallo, Bone, 

Wajo, Soppeng dan Luwu. Sementara di Nusa Tenggara penerapan Islam di sana 

dilaksanakan dalam institusi kesultanan Bima. Setelah Islam berkembang dan menjelma

menjadi sebuah institusi maka hukum-hukum Islam diterapkan secara menyeluruh da

n sistemik dalam kesultanan-kesultanan tersebut.

      PERIODE DAKWAH WALI SONGO
•Kita sudah mengetahui bahawa mereka adalah Maulana Malik Ibrahim ahli tata 

pemerintahan negara dari Turki, Maulana Ishaq dari Samarqand yang dikenali dengan 

nama Syekh Awwalul Islam, Maulana Ahmad Jumadil Kubra dari Mesir, Maulana Muhammad

 al-Maghrabi dari Maroko, Maulana Malik Israil dari Turki, Maulana Hasanuddin dari 

Palestin, Maulana Aliyuddin dari Palestina, dan Syekh Subakir dari Persia. Sebelum ke 

tanah Jawa, umumnya mereka singgah dulu di Pasai. Adalah Sultan Zainal Abidin Bahiyan

 Syah penguasa Samudra Pasai antara tahun 1349-1406 M yang mengantar Maulana Malik 

Ibrahim dan Maulana Ishaq ke Tanah Jawa.

•Pada periode berikutnya, antara tahun 1421-1436 M datang tiga da’i ulama ke Jawa

 menggantikan da’i yang wafat. Mereka adalah Sayyid Ali Rahmatullah putra Syaikh 

Ibrahim dari Samarkand (yang dikenal dengan Ibrahim Asmarakandi) dari ibu Putri Raja 

Campa-Kamboja (Sunan Ampel), Sayyid Ja’far Shadiq dari Palestina (Sunan Kudus), dan 

Syarif Hidayatullah dari Palestina cucu Raja Siliwangi Pajajaran (Sunan Gunung Jati).

••Mulai tahun 1463M makin banyak Da’i ulama keturunan Jawa yang menggantikan da’i 

yang wafat atau pindah tugas. Mereka adalah Raden Paku (Sunan Giri) putra Maulana 

Ishaq dengan Dewi Sekardadu, putri Prabu Menak Sembuyu, Raja Blambangan; Raden Said

 (Sunan Kalijaga) putra Adipati Wilatikta Bupati Tuban; Raden Makdum Ibrahim (Sunan 

Bonang); dan Raden Qasim Dua (Sunan Drajad) putra Sunan Ampel dengan Dewi 

Condrowati, putri Prabu Kertabumi Raja Majapahit.

••Banyaknya gelar Raden yang berasal dari kata Rahadian yang bererti Tuanku di kalangan

para wali, menunjukkan bahawa dakwah Islam sudah terbina dengan subur di kalangan 

elit penguasa Kerajaan Majapahit. Sehingga terbentuknya sebuah kesultanan tinggal 

tunggu waktu.

••Hubungan tersebut juga nampak antara Aceh dengan Khilafah Utsmaniyah. Bernard 

Lewis menyebutkan bahawa pada tahun 1563M, penguasa Muslim di Aceh mengirim 

seorang utusan ke Istambul untuk meminta bantuan melawan Portugis sambil meyakinkan 

bahawa sejumlah raja di kawasan tersebut telah bersedia memeluk agama Islam jika 

kekhalifahan Utsmaniyah mahu menolong mereka.

••Pada ketika itu kekhalifahan Utsmaniyah sedang disibukkan dengan berbagai masalah 

yang mendesak, iaitu pengepungan Malta dan Szigetvar di Hungaria, dan kematian Sultan

Sulaiman Agung. Setelah tertunda selama dua bulan, mereka akhirnya membentuk sebuah

armada yang terdiri dari 19 kapal perang dan sejumlah kapal lainnya yang mengangkut 

persenjataan dan persediaan untuk membantu masyarakat Aceh yang terkepung.

••Namun, sebahagian besar kapal tersebut tidak pernah tiba di Aceh. Banyak dari kapal-

kapal tersebut dialihkan untuk tugas yang lebih mendesak iaitu memulihkan dan 

memperluas kekuasaan Utsmaniyah di Yaman. Ada satu atau dua kapal yang tiba di Aceh. 

Kapal-kapal tersebut selain membawa pembuat senjata, penembak, dan teknision juga 

membawa senjata dan peralatan perang lainnya, yang langsung digunakan oleh penguasa 

setempat untuk mengusir Portugis. Peristiwa ini dapat diketahui dalam berbagai 

kandungan dokumen di negara Turki.

••Hubungan ini dikukuhkan lagi dalam gelaran penganugerahan kehormatan di antaranya 

Abdul Qadir dari Kesultanan Banten misalnya, tahun 1048 H (1638 M) dianugerahi gelaran

Sultan Abulmafakir Mahmud Abdul Kadir oleh Syarif Zaid, Syarif Mekkah saat itu.

Demikian pula Pangeran Rangsang dari Kesultanan Mataram memperoleh gelaran Sultan 

dari Syarif Mekah tahun 1051 H (1641 M) dengan gelaran Sultan Abdullah Muhammad 

Maulana Matarami. Pada tahun 1638 M, sultan Abdul Kadir Banten berhasil mengirim 

utusan membawa misi menghadap syarif Zaid di Mekah.

••Hasil misi ke Mekah ini sangat berjaya, sehingga dapat dikatakan kesultanan Banten 

sejak awal memang menganggap dirinya sebagai kerajaan Islam, dan tentunya termasuk 

Dar al-Islam yang ada di bawah kepemimpinan Khalifah Turki Utsmani di Istanbul. Sultan 

Ageng Tirtayasa mendapat gelaran sultan dari Syarif mekah.

••Hubungan erat ini nampak juga dalam bantuan ketenteraan yang diberikan oleh 

Khilafah Islamiyah. Dalam Bustanus Salatin karangan Nuruddin ar-Raniri disebutkan 

bahawa kesultanan Aceh telah menerima bantuan ketenteraan berupa senjata disertai 

dengan kepakaran kententeraan dari Khilafah Turki Utsmani (1300-1922).

••Bernard Lewis (2004) menyebutkan bahawa pada tahun 1563 Pemimpin Muslim di Aceh

mengirim seorang utusan ke Istanbul untuk meminta bantuan melawan Portugis.

Dikirimlah 19 kapal perang dan sejumlah kapal lainnya mengangkut persenjataan dan 

persediaan; walaupun hanya satu atau dua kapal yang tiba di Aceh.

••Pada tahun 1652 kesultanan Aceh mengirim utusan ke Khilafah Turki Utsmani untuk 

meminta bantuan meriam. Khilafah Turki Utsmani mengirim 500 orang pasukan orang 

Turki beserta sejumlah besar persenjataan (meriam) dan amunisi. Tahun 1567, Sultan 

Salim II mengirim sebuah armada ke Sumatera, meskipun armada itu lalu dialihkan ke 

Yaman. Bahkan Snouck Hourgroye menyatakan, “Di Kota Makkah inilah terletak jantung 

kehidupan agama kepulauan Nusantara, yang setiap detik selalu memompakan darah segar

ke seluruh penduduk Muslimin di Indonesia.” Bahkan pada akhir abad 20, Konsul Turki di 

Batavia membahagi-bahagikan al-Quran atas nama Sultan Turki.

••Di istambul juga dicetak tafsir al-Quran berbahasa Melayu karangan Abdur Rauf Sinkili 

yang pada halaman depannya tertera “dicetak oleh Sultan Turki, raja seluruh orang 

Islam”. Sultan Turki juga memberikan biasiswa kepada empat orang anak keturunan Arab 

di Batavia untuk bersekolah di Turki.

••Pada masa itu, yang disebut-sebut Sultan Turki tidak lain adalah Khalifah, pemimpin 

Khilafah Utsmaniyah yang berpusat di Turki. Selain itu, Snouck Hurgrounye sebagaimana 

dikutip oleh Deliar Noer mengungkapkan bahawa rakyat kebanyakan pada umumnya di 

Indonesia, terutama mereka yang tinggal di pelosok-pelosok yang jauh di penjuru tanah 

air, melihat kedudukan Stambol (Istambul, kedudukan Khalifah Usmaniyah) sebagai 

seorang raja bagi semua orang mukmin walaupun kekuasaannya mungkin agak sedikit 

berkurang kerana adanya kekuasaan orang-orang kafir, tetapi masih dan tetap 

[dipandang] sebagai raja dari segala raja di dunia.

••Mereka juga beranggapan bahawa “sultan-sultan yang belum beragama mesti tunduk 

dan memberikan penghormatannya kepada khalifah.” Demikianlah, dapat dikatakan 

bahawa Islam berkembang di Indonesia dengan adanya hubungan dengan Khilafah Turki 

Utsmani.
••Dengan demikian, hubungan atau perkaitan Nusantara sebagai bahagian dari Khilafah, 

pada era Khilafah Abbasiyah Mesir dan Khilafah Utsmaniyah telah nampak jelas pada 

pengangkatan Meurah Silu menjadi Sultan Malikussaleh di Kesultanan Samudra-Pasai 

Darussalam oleh Utusan Syarif Mekkah, dan pengangkatan Sultan Abdul Kadir dari 

Kesultanan Banten dan Sultan Agung dari Kesultanan Mataram oleh Syarif Mekkah.
••Dengan mengangkat sistem kehilafahan pada ketika itu, Syarif Mekkah adalah Gabenor 


(wali) pada masa Khilafah Abbasiyah dan Khilafah Utsmaniyah untuk kawasan Hijaz. Jadi,


wali yang berkedudukan di Mekkah bukan semata-mata  penganugerahan gelar melainkan

pengukuhannya sebagai sultan. Sebab, sultan ertinya penguasa. Kerananya, 

penganugerahan gelaran sultan oleh wali lebih merupakan pengukuhan sebagai penguasa 

Islam. Sementara itu, kelihatan Aceh memiliki hubungan langsung dengan pusat khilafah

Utsmaniyah di Turki.
      KESIMPULAN
••  Jumlah dai yang diutus ini tidak hanya sembilan (Songo). Bahkan ada 6 angkatan yang dikirimkan, masing-masing jumlanya sekitar sembilan orang. (Versi lain mengatakan 7 bahkan 10 angkatan kerana dilanjutkan oleh anak / keturunannya)
•• Para Wali ini datang dimulai dari Maulana Malik Ibrahim, asli Turki. Beliau ini ahli politik & irigasi, wafat di Gresik. Maulana Malik Ibrahim ini menjadi peletak dasar pendirian kesultanan di Jawa sekaligus mengembangkan pertanian di Nusantara.
••  Seangkatan dengan beliau ada DUA orang wali dari Palestin yang berdakwah di Banten; salah seorang daripada mereka ialah Maulana Hasanudin, beliau adalah datuk kepada Sultan Ageng Tirtayasa.
••  Juga Sultan Aliyudin, beliau dari Palestin dan tinggal di Banten. Jadi masyarakat Banten mempunyai hubungan darah dan ideologi dengan Palestin.
••  Juga Syaikh Ja'far Shadiq dan Syarif Hidayatullah; dikenal disini sebagai Sunan Kudus dan Sunan Gunung Jati; mereka berdua dari Palestin.
••  Maka jangan hairan, Sunan Kudus mendirikan Kota dengan nama Kudus, mengambil nama Al-Quds (Jerusalem) dan Masjid al-Aqsha di dalamnya.
          (Sumber Muhammad Jazir, seorang budayawan & sejarawan Jawa, Pak Muhammad           Jazir ini juga penasihat Sultan Hamengkubuwono X).
••  Adapun menurut Berita yang tertulis di dalam kitab Kanzul ‘Hum karya Ibnul Bathuthah, yang kemudiah dilanjutkan oleh Syekh Maulana Al Maghribi.
••  Sultan Muhammad I itu membentuk kumpulan yang dianggotai oleh 9 orang untuk berangkat ke pulau Jawa dimulai pada tahun 1404. Kumpulan tersebut diketuai oleh Maulana Malik Ibrahim yang merupakan ahli mengatur negara dari Turki.

     Wali Songo Angkatan Ke-1, tahun 1404 M/808 H. Terdiri daripada:
•1. Maulana Malik Ibrahim, berasal dari Turki, ahli mengatur negara.
•2. Maulana Ishaq, berasal dari Samarkand, Rusia Selatan, ahli pengobatan.
•3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, dari Mesir.
•4. Maulana Muhammad Al Maghrobi, berasal dari Maroko.
•5. Maulana Malik Isro’il, dari Turki, ahli mengatur negara.
•6. Maulana Muhammad Ali Akbar, dari Persia (Iran), ahli pengobatan.
•7. Maulana Hasanudin, dari Palestina.
•8. Maulana Aliyudin, dari Palestina.
•9. Syekh Subakir, dari Iran, Ahli ruqyah.

   Wali Songo Angkatan ke-2, tahun 1436 M, terdiri daripada :
•1. Sunan Ampel, asal Champa, Muangthai Selatan
•2. Maulana Ishaq, asal Samarqand, Rusia Selatan
•3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, asal Mesir
•4. Maulana Muhammad Al-Maghrabi, asal Maroko
•5. Sunan Kudus, asal Palestina
•6. Sunan Gunung Jati, asal Palestina
•7. Maulana Hasanuddin, asal Palestina
•8. Maulana 'Aliyuddin, asal Palestina
•9. Syekh Subakir, asal Persia Iran.

   Wali Songo Angkatan ke-3, 1463 M, terdiri daripada:
•1. Sunan Ampel, asal Champa, Muangthai Selatan
•2. Sunan Giri, asal Belambangan,Banyuwangi, Jatim
•3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, asal Mesir
•4. Maulana Muhammad Al-Maghrabi, asal Maroko
•5. Sunan Kudus, asal Palestina
•6. Sunan Gunung Jati, asal Palestin
•7. Sunan Bonang, asal Surabaya, Jatim
•8. Sunan Derajat, asal Surabaya, Jatim
•9. Sunan Kalijaga, asal Tuban, Jatim

   Wali Songo Angkatan ke-4 (1473 M), terdiri daripada:
•1. Sunan Ampel, asal Champa, Muangthai Selatan
•2. Sunan Giri, asal Belambangan,Banyuwangi, Jatim
•3. Raden Fattah, asal Majapahit, Raja Demak
•4. Fathullah Khan (Falatehan), asal Cirebon
•5. Sunan Kudus, asal Palestina
•6. Sunan Gunung Jati, asal Palestin
•7. Sunan Bonang, asal Surabaya, Jatim
•8. Sunan Derajat, asal Surabaya, Jatim
•9. Sunan Kalijaga, asal Tuban, Jatim

   Wali Songo Angkatan ke-51(478 M), terdiri daripada:
•1. Sunan Giri, asal Belambangan,Banyuwangi, Jatim
•2. Sunan Muria, asal Gunung Muria, Jawa Tengah
•3. Raden Fattah, asal Majapahit, Raja Demak
•4. Fathullah Khan (Falatehan), asal Cirebon
•5. Sunan Kudus, asal Palestin
•6. Syaikh Siti Jenar, asal Persia, Iran
•7. Sunan Bonang, asal Surabaya, Jatim
•8. Sunan Derajat, asal Surabaya, Jatim
•9. Sunan Kalijaga, asal Tuban, Jatim

  Wali Songo Angkatan ke-6 (1479 M) terdiri daripada:
•1. Sunan Giri, asal Belambangan,Banyuwangi, Jatim
•2. Sunan Muria, asal Gunung Muria, Jawa Tengah
•3. Raden Fattah, asal Majapahit, Raja Demak
•4. Fathullah Khan (Falatehan), asal Cirebon
•5. Sunan Kudus, asal Palestin
•6. Sunan Tembayat, asal Pandanarang
•7. Sunan Bonang, asal Surabaya, Jatim
•8. Sunan Derajat, asal Surabaya, Jatim
•9. Sunan Kalijaga, asal Tuban, Jatim

sumber:http://www.timunbulat.com/2015/08/wali-songo-utusan-khalifah.html#.VehR4diba1k.facebook

Isnin, 3 Ogos 2015

MURAQABAH TERHADAP ALLAH

Untuk menjadi Mukmin sejati, perlu kepada pengorbanan dan usaha-usaha yang berterusan, iaitu berkorban dan berusaha untuk mendekatkan diri kepada Allah s.w.t. Muraqabah terhadap Allah s.w.t adalah sifat jiwa seorang Mukmin.

Ketika malaikat Jibril a.s. pada suatu kesempatan mengunjungi baginda Rasulullah s.a.w. , baginda menanyakan hal mengenai Islam, Iman dan Ihsan .Muraqabah adalah suatu jalan yang sangat berkaitan dengan Ihsan—ketika kita beribadah kepada Allah, seakan-akan kita melihat Dia. Walaupun kita tidak mampu melihat Dia; Dia pasti melihat kita. Ini adalah bentuk tarbiyah untuk menjadi Ihsan.
Seorang Mukmin yang bermuraqabah terhadap Allah akan sentiasa merasai dan yakin sepenuh hati bahawa Allah s.w.t mengawasi segala perjalanan hidupnya, perasaannya, bisikan hatinya samaada dia berseorangan atau bersama orang lain. Mukmin sejati yakin peristiwa di Padang Mahsyar tempat di hisap dengan seadil-adilnya segala amalan dan perbuatannya ketika di dunia ini. Perasaan takut, malu dan gementar untuk berhadapan di Mahkamah Allah s.w.t nanti membuatkan hati dan jiwanya sentiasa muraqabah terhadap Allah s.w.t.
Ingatlah ketika di sana nanti lidah menjadi kelu, giliran anggota lain yang akan berkata-kata mengeluarkan pengakuan dan saksi bagi semua perbuatan si tuan badan. Mata, telinga, tangan dan kaki bumi yang dipijak, hari dan masa yang bejalan serta lainnya akan mengaku perbuatan itu dan ini. Ketika itu manusia akan terperangkap dengan perbuatan dosa kerana anggota badan sendiri tidak menyebelahinya. Terbongkarlah rahsianya!
Di tambah pula akan di tayangkan 'video clip' atau cctv Allah s.w.t. yang merakamkan 24 jam tidak berhenti-henti semua perbuatannya semasa di dunia. Ia tidak boleh berbohong dan berdalih. Semua ini akan menyingkap kekejiannya. Memalukan dan membawa segunung penyesalan kepadanya.
Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya:
Rasulullah s.a.w membaca ayat ini: "Yang bermaksud: 'Pada hari itu bumi menceritakan beritanya'. Kemudian baginda bertanya:" Adakah kamu tahu apakah yang akan diberitahu oleh bumi itu nanti?"
Para sahabat menjawab:" Allah s.w.t. dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui."
Baginda s.a.w. bersabda:
"Sesungguhnya berita yang akan disampaikan oleh bumi ialah bumi menjadi saksi terhadap semua perbuatan manusia, sama ada lelaki ataupun perempuan terhadap apa yang mereka lakukan di atasnya." Bumi akan berkata: 'Dia telah melakukan itu dan ini pada hari itu dan ini'. Itulah berita yang akan diberitahu oleh bumi." (Hadis riwayat Imam Tirmizi).
Orang yang muraqabah berperibadi tenang walau pun mendapat nikmat, pujian, atau menghadapi kesusahan, tohmahan dan seumpamanya. Dia merasa bimbang sekiranya kehilangan redha dan pertolongan dari Allah s.w.t.
Nabi s.a.w pernah berpesan yang bermaksud :
"Seorang Mukmin itu tidak akan mencuri, ketika mana melakukan perbuatan itu dia adalam Mukmin."
Maknanya , ketika dalam hati sesaorang itu ada iman atau hatinya hadir, maka dia tidak akan melakukan kesalahan. Orang beriman tidak akan mencuri jika dia merasai pengawasan Allah s.w.t. Ini kerana, hati yang di miliki itu adalah hati yang sedar dan mampu merasai Allah s.w.t melihat serta mengawasi segala amalannya. Itulah hakikat muraqabah.
Hati orang Mukmin dan hati yang dapat muraqabah bersedia menerima tarbiyyah dan peringatan, kerana segala peringatan akan memandu seluruh anggata kita melakukan ketaatan.
Firman Allah s.w.t yang bermaksud: "Oleh sebab itu berikanlah peringatan kerana peringatan itu bermenfaat." (Surah al-A'laa, ayat 9).
Dengan saling memberi peringatan ini juga akan melahirkan perasaan takut untuk melakukan kesalahan terhadap Allah s.w.t seperti firmanNya yang bermaksud:
"Orang yang takut kepada Allah akan mendapat pelajaran." (Surah al- A'laa, ayat 10).
Latihan paling utama ke arah mendidik hati yang hadir ialah menerusi ibadat solat. Apabila di dalam solat sesaorang itu merasai Allah s.w.t mengawasinya, maka ketika di luar solat atau di mana jua berada hatinya akan tetap muraqabah.
Nabi s.a.w di waktu malam banyak menghabiskan masa untuk bersolat tahajud, bermunajat, berdoa dan memohon ampun kehadrat Allah a.w.t. Contoh peribadi mulia ini semestinya menjadi pedoman dan amalan setiap para da'i untuk merapatkan hubungan dengan Allah s.w.t, mencari tenaga baru untuk meneruskan kerja-kerja dakwah dan Tarbiyyah.
Sayyidina Umar al- Khattab r.a berkata,"Hisablah dirimu sebelum dihisab pada hari Kiamat"
Setiap Mukmin perlu sentiasa muhasabah diri demi kebahagiaan masa hadapan.
Firman Allah s.w.t yang bermaksud:
"Hai orang-orang yang beriman, takutlah kepada Allah dan hendaklah (tiap-tiap) orang memperhatikan apa yang di usahakannya untuk hari esok (hari kiamat), dan takutlah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan" (Surah ai- Hasyr ayat 18).
Kecemerlangan hidup manusia sebagai hamba Allah s.w.t adalah terletak kepada ketaatan pada perintahNya dan meninggalkan segala laranganNya, mematuhi tanpa soal Kitab Allah s.w.t dan sunnah NabiNya.
Nabi s.a.w bersabda maksudnya:
"Orang yang pandai adalah yang menghisab dirinya serta beramal untuk kehidupan sesudah kematiannya, sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikut hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah s.w.t"(Hadis Riwayat Imam at- Turmudzi).
Imam Mubarakfuri berkata:
"Orang yang lemah adalah bersambong dengan lemahnya ketaatan kepada Allah s.w.t dan selalu ikut hawa nafsunya tidak pernah minta ampun kepada Allah s.w.t bahkan selalu berangan-angan bahawa Allah s.w.t mengampunkan doas-dosanya"
Panjang angan-angan atau berangan-angan adalah satu sifat peribadi yang tidak disukai oleh Nabi s.a.w, mereka-mereka yang memiliki sifat ini sebenarnya malas berusha, mengikut hawa nafsu dan terpengaruh dengan pujukan syaitan laknatullah.Setiap barang yang berharga perlu di bayar dengan harga yang mahal, kejayaan untuk mendapat sekeping ijazah perlu di sertakan dengan usaha yang gigih dan berterusan, begitu juga SYURGA ALLAH S.W.T, untuk memilikinya perlu pengorbanan, jihad yang berterusan, mujahadah,muraqabah dan muhasabah.Di dalam Syurga yang penoh nikmat dan rahmat hanya layak di duduki oleh mereka-mereka yang memiliki hati yang salim, hati yang bersih, hati yang ikhlas dan hati yang bebas daripada syrik kepada Allah s.w.t.

Marilah sama-sama kita menjauhkan diri kita daripada amalan dan perbuatan yang mendatangkan murka Allah s.w.t dan kita berusaha untuk beramal ibadah, amal soleh dan sentiasa memperbaruhi iman kita dan sentiasa bermuraqabah terhadp Allah s.w.t. Ingtlah! Sifat Allah s.w.t. Maha Melihat dan Maha Mendengar dan Dia sentiasa melihat dan memerhatikan diri kita dari tutur kata, perbuatan hinggakan niat-niat dihati yang tersembunyi semuanya dapat dilihat dan di dengar oleh Allah s.w.t.
Adakah kita tidak takut dan malu kepada Allah s.w.t sedangkan terlalu banyak nikmat dan rezeki yang telah Allah s.w.t kurnikan kepada kita? Adakah kita masih tidak mahu menjadi hamba-Nya yang bersyukur?
Rasulullah s.a.w mengajar kita untuk sentiasa berdo'a kepada Allah s.w.t maksudnya :
" Ya Allah, sesungguhnya kami memohon perlindungan-Mu daripada kelemahan, kemalasan, sifat pengecut, kedekut, nyanyuk dan azab kubur. Ya Allah berikanlah ketaqwaan kepadaku dan sucikanlah ia, kerana Engkaulah sebaik-baik Tuhan yang menyucikan, Engkau pelindung dan memeliharanya. Ya Allah, aku memohon perlindungan-Mu daripada ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyuk, nafsu yang tidak puas dan do'a yang tidak di kabulkan"(Hadis Riwayat Muslim).

Ahad, 2 Ogos 2015

KATA-KATA NASIHAT IBNU QAYYIM


◾Di dalam hati manusia ada kekusutan dan tidak akan terurai kecuali menerima kehendak Allah swt.
◾Di dalam hati manusia ada keganasan dan tidak akan hilang kecuali berjinak dengan dengan Allah swt
◾Di dalam hati manusia ada kesedihan dan tidak akan hilang kecuali seronok mengenali Allah swt
◾Di dalam hati manusia ada kegelisahan dan tidak akan tenang damai kecuali berlindung, bertemu dan berjumpa denganNya
◾ Di dalam hati manusia ada penyesalan dan tidak akan padam kecuali redha dengan suruhan dan laranganNya serta qadha dan qadarNya serta senantiasa sabar sehingga menemuiNya
◾ Di dalam hati manusia ada hajat dan tidak akan terbendung kecuali kecintaan kepadaNya dan bermohon kepadaNya.

Kesentiasaan berzikir kepadaNya adalah keikhlasan sebenar kepadaNya. . . . . . 
Andai dunia dan isinya diberikan kepada manusia masih tidak lagi dapat membendung hajat hati sihamba  itu.

Selasa, 14 Julai 2015

SYAIR MERANTAU IMAM SYAFIE

Merantaulah…
Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah…
Kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah,
manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang
Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, akan keruh menggenang
Singa jika tak tinggalkan sarang, tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tak tinggalkan busur, tak akan kena sasaran
Jika matahari di orbitnya tak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang
Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan


Ahad, 12 Julai 2015

Pesanan PAK HABiB TENGKU KHAIRULLAH

Awaslah Musuh Dalam Selimut

Engkau takut sangat barangmu kena rompak
Juga engkau curiga ditipu orang
Lebih-lebih lagi engkau takut barang-barang berharga dicuri orang
Tapi engkau tidak sedar

Ilmu engkau telah merosakkan hati engkau dengan kesombongan
Kekayaan engkau telah merobek-robek iman engkau dengan kesombongan dan riyak
Kefasihan dan kepintaran engkau bercakap dan berpidato mengorbankan pahala engkau
Pujian orang, nama dan glamour telah menghapuskan keikhlasan engkau

Kekuasaan, pangkat dan kedudukan engkau telah merosakkan iman dan ketaqwaan engkau
Bahkan entah apa lagi yang telah mengorbankan amal solehmu
Rupanya apa yang engkau milik, dapati, punyai, kuasai yang memang engkau suka itulah yang menjadi musuh engkau
Ia telah mencuri iman engkau
Ia telah merompak ketaqwaan engkau
Ia telah menyamun barang yang lebih mahal daripada harta dan kekayaan engkau
Semua yang engkau milik telah mengoyak-ngoyak keredhaan Tuhan
Tapi engkau tidak sedar

Engkau tidak perasan musuh di dalam selimut telah merosakkan engkau
Bukan musuh dari luar yang engkau takuti
Bukan perompak dan penyamun dari luar yang engkau curigai kesayangan engkau

Apa yang engkau suka dan cintai
Kesukaan dan kecintaan engkau yang telah menipu engkau
Bukan pencuri, tidak juga penyamun
Engkau telah ditipu oleh penghibur engkau sendiri

Engkau takut ilmu engkau hilang
Tapi ilmu engkau sendiri telah menghilangkan iman engkau
Engkau takut harta dicuri orang, tapi harta engkau menjadi pencuri
Engkau takut jawatan engkau dijatuhkan orang

Tapi jawatan engkau yang menjatuhkan engkau

Engkau akan menjadi orang yang papa-kedana di Akhirat nanti

Kisah Juha Dan Setengah Cambukan

Suatu hari, Juha berhasil menangkap seekor ikan besar yang sangat langka. Ia pun berniat untuk mempersembahkan ikan tersebut kepada Sultan d...