Jumaat, 28 Ogos 2026

AKHiRAT DIDAHULUKAN...

 قال الامام القدوة عون بن عبد الله رحمه الله:

إن من كان قبلنا كانوا يجعلون لدنياهم ما فضل عن آخرتهم، وإنكم اليوم، تجعلون لآخرتكم ما فضل عن دنياكم. مختصر تاريخ دمشق 20/ 8

Imam Aun bin Abdillah berkata: "Orang-orang sebelum kalian menjadikan dunia mereka hanya dengan apa yang tersisa setelah mereka memenuhi kebutuhan akhiratnya. Sedangkan kalian hari ini menjadikan akhirat kalian hanya dengan apa yang tersisa setelah kalian memenuhi urusan dunia kalian."

Makna : Perkataan beliau ini sebenarnya merupakan kritik terhadap perubahan orientasi hidup manusia. Di mana generasi terdahulu menempatkan akhirat sebagai prioritas utama. Mereka bekerja, mencari rezeki, membangun keluarga, dan menikmati kehidupan dunia, tetapi dunia hanya mendapatkan bagian yang tersisa setelah kewajiban dan kepentingan akhirat mereka terpenuhi.
 
Sedangkan manusia pada zaman beliau (terlebih saat ini), sering melakukan hal yang sebaliknya, dimana dunia mendapatkan perhatian utama, sementara akhirat hanya mendapatkan sisa waktu, sisa tenaga, dan sisa perhatian. 

Kita bekerja sepanjang hari untuk dunia, kemudian shalat dikerjakan ketika ada waktu. Kita mampu menyediakan berjam-jam untuk pekerjaan, hiburan, media sosial, dan berbagai urusan dunia, tetapi merasa berat menyediakan beberapa menit untuk membaca Al-Qur'an. 

Kita merencanakan masa depan dunia dengan sangat matang, tetapi terkadang tidak mempersiapkan bekal untuk kehidupan yang tidak memiliki batas akhir.

AKU TIDAK MENYUKAi PEDANG

 نظر أعرابي إلى خالد بن صفوان وهو يتكلم، فقال: كيف لم يسد هذا مع بيانه! فقال خالد: منعتهم مالي، وكرهت السيف!.


البصائر والذخائر - أبو حيان التوحيدي، 8/753.

Seorang Arab Badui melihat Khalid bin Shafwan sedang berbicara. Ia kagum melihat kefasihan dan kepiawaiannya dalam menyampaikan kata-kata, lalu berkata: "Bagaimana mungkin orang ini belum menjadi seorang pemimpin, padahal tutur katanya begitu jelas dan fasih?" Khalid bin Shafwan kemudian menjawab: "Hartaku menghalangi mereka untuk mengangkatku sebagai pemimpin, dan aku sendiri tidak menyukai pedang."

Jawaban Khalid bin Shafwan mengandung sindiran yang cerdas. Secara harfiah ia memiliki harta yang cukup sehingga ia tidak membutuhkan dukungan atau pengaruh politik yang biasanya diperlukan untuk memperoleh kepemimpinan. Sedangkan ungkapan beliau, "aku tidak menyukai pedang" merupakan isyarat bahwa ia tidak memilih jalan kekuasaan melalui kekerasan dan pertumpahan darah. Jadi, meskipun ia memiliki kemampuan berbicara, kecerdasan, dan kefasihan, ia tidak mengejar kepemimpinan dengan segala cara. Ada pelajaran yang menarik di sini:

ليس كل من يصلح للقيادة يطلبها، وليس كل من يطلبها يصلح لها.

"Tidak setiap orang yang layak menjadi pemimpin akan mengejar kepemimpinan; dan tidak setiap orang yang mengejar kepemimpinan layak menjadi pemimpin."

Kefasihan adalah kelebihan, tetapi kepemimpinan membutuhkan lebih daripada kefasihan: kebijaksanaan, keberanian, kemampuan menanggung amanah, dan -yang tidak kalah penting- kemampuan mengendalikan ambisi diri. Kadang-kadang, orang yang paling pantas memimpin justru adalah orang yang tidak menjadikan kepemimpinan sebagai tujuan hidupnya.

Catatan Al-Hikam

Sabtu, 22 Ogos 2026

 Cerita tentang seorang wanita yang menawarkan dirinya untuk dinikahi oleh Abdullah bin Abdul Muththalib, seorang lelaki yang di kemudian hari menjadi ayah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.


Ibnu Hisyam dalam kitab As-Sirah an-Nabawiyah mengawali narasi mengenai peristiwa ini dengan kisah setelah rencana penyembelihan Abdullah dibatalkan. Abdullah ditebus dengan penyembelihan seratus ekor unta.

Setelah peristiwa itu, ayahnya, Abdul Muththalib, menggandeng Abdullah dan berjalan bersamanya. Dalam perjalanan, keduanya melintasi Ka’bah.

Ketika berada di sekitar Ka’bah, berdirilah seorang wanita yang disebut Ruqayyah, saudari dari Waraqah bin Naufal. Ketika melihat Abdullah, wanita tersebut langsung menegurnya.

أين تذهب يا عبد الله؟
“Aina tadzhabu ya ‘Abdallah?”
“Engkau hendak pergi ke mana, wahai Abdullah?”

Abdullah menjawab:

مع أبي
“Ma‘a abi.”
“Bersama ayahku.”

Abdullah menjelaskan bahwa ia sedang pergi ke suatu tempat bersama ayahnya.

Ruqayyah kemudian semakin berani menyampaikan keinginannya kepada Abdullah. ungkapan:

قع علي الآن

Ajakan tersebut disampaikan dengan maksud:

“Maukah engkau menikahiku sekarang juga?”

Namun Abdullah menolak ajakan tersebut. Ia menjelaskan bahwa saat itu dirinya sedang bersama ayahnya, Abdul Muththalib, dan tidak berani menentang kehendak sang ayah.
Mengungkapkan :

أنا مع أبي ولا أستطيع خلافه ولا فراقه

Maknanya kurang lebih:

“Aku sedang bersama ayahku. Aku tidak dapat menyelisihi kehendaknya dan tidak dapat meninggalkannya.”

Abdullah kemudian melanjutkan perjalanan dengan didampingi Abdul Muththalib. Mereka menemui Wahab bin Abdi Manaf untuk melamar putrinya yang bernama Aminah binti Wahab.

Abdullah kemudian dinikahkan dengan Aminah binti Wahab.

Singkat cerita, pernikahan berlangsung.

Keesokan harinya, Abdullah kembali menemui wanita yang sebelumnya menawarkan dirinya tersebut. Abdullah kemudian bertanya kepadanya:

ما لك لا تعرضين علي اليوم ما كنت عرضت علي بالأمس

“Kenapa hari ini engkau tidak lagi menawarkan dirimu kepadaku sebagaimana yang engkau tawarkan kepadaku kemarin?”

Ruqayyah menjawab dengan tegas:

فارقك النور الذي كان معك بالأمس فليس لي بك اليوم حاجة

“Cahaya yang kemarin bersamamu telah meninggalkanmu. Karena itu, hari ini aku tidak lagi membutuhkanmu.”

Wanita tersebut mengatakan bahwa ketika mereka bertemu di Ka’bah pada hari sebelumnya, ia melihat sinar yang memancar dari wajah Abdullah.

Namun setelah Abdullah menikah dengan Aminah, sinar tersebut sudah tidak terlihat lagi pada wajahnya. Karena itulah wanita tersebut tidak lagi menawarkan dirinya kepada Abdullah.

Bahwa sinar yang dimaksud adalah pancaran Nur Muhammad.

Pada awalnya, cahaya tersebut digambarkan memancar dari fisik Abdullah, terutama dari wajah dan matanya.

Setelah Abdullah menikahi Aminah binti Wahab, sinar tersebut digambarkan berpindah kepada Aminah binti Wahab.

Kemudian Siti Aminah mengandung janin yang kelak lahir sebagai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

AKHiRAT DIDAHULUKAN...

 قال الامام القدوة عون بن عبد الله رحمه الله: إن من كان قبلنا كانوا يجعلون لدنياهم ما فضل عن آخرتهم، وإنكم اليوم، تجعلون لآخرتكم ما فضل عن د...