Namun, ketika tiba di gerbang istana, ia dicegat oleh seorang penjaga. Penjaga tersebut melarang Juha masuk kecuali dengan satu syarat licik: Juha harus memberikan setengah dari total hadiah apa pun yang nanti diberikan oleh Sultan kepadanya. Setelah melalui perdebatan dan terpaksa oleh keadaan, Juha akhirnya menyetujui syarat tersebut dan diizinkan masuk untuk menghadap Sultan.
Di dalam istana, Sultan merasa sangat kagum melihat keindahan ikan langka yang dibawa oleh Juha. Sebagai bentuk apresiasi, Sultan berkata kepada Juha, "Mintalah apa saja yang engkau inginkan, wahai Juha!"
Namun, jawaban Juha di luar dugaan dan sukses membuat seluruh orang di istana terkejut. Juha berkata, "Aku hanya ingin 100 kali cambukan."
Sultan tercengang mendengar permintaan yang tidak biasa itu. Ia berusaha membujuk Juha agar meminta emas, uang, atau hadiah berharga lainnya. Akan tetapi, Juha tetap kukuh pada pendiriannya dan meminta 100 cambukan.
Merasa tidak ada pilihan lain, Sultan akhirnya memerintahkan algojo untuk melaksanakan hukuman tersebut, namun dengan catatan cambukan harus dilakukan secara pelan mengingat usia Juha yang sudah tua.
Ketika cambukan mendarat dan mencapai hitungan yang ke-50, Juha tiba-tiba berteriak, "Berhenti! Hentikan cambukan ini!"
Sultan yang kebingungan bertanya, "Ada apa, Juha?"
Juha menjawab dengan cerdik, "Aku memiliki rekan dalam hadiah ini. Sisa cambukan ini adalah haknya dan ia harus segera menerima bagian yang menjadi miliknya!"
Sultan semakin heran dan bertanya, "Siapa rekanmu itu?"
Dengan santai Juha menunjuk ke arah pintu gerbang dan berkata, "Dia adalah penjaga gerbang istana. Dialah yang mensyaratkan agar aku memberikan setengah dari hadiah apa pun yang kuterima agar diizinkan masuk menemui Paduka."
Mendengar penjelasan tersebut, Sultan tertawa terbahak-bahak hingga air matanya keluar. Beliau langsung memerintahkan agar penjaga gerbang yang serakah itu diseret ke hadapannya untuk menerima 50 cambukan sisanya sebagai balasan atas perbuatannya. Setelah keadilan ditegakkan, Sultan memberikan hadiah berupa uang yang sangat besar kepada Juha sebagai bentuk penghargaan atas kecerdikan dan akalnya yang luar biasa.
Hikmah
Kecerdikan Mengalahkan Kelicikan: Orang yang cerdik dan tenang sering kali mampu membalikkan keadaan serta mematahkan tipu muslihat orang yang serakah tanpa harus menggunakan kekerasan.
Akibat Keserakahan: Sifat serakah dan suka memeras orang lain—seperti yang dilakukan oleh penjaga gerbang—pada akhirnya akan berbalik menjerat dan mendatangkan hukuman bagi diri sendiri.
Pemberian yang Setimpal: Kejujuran dan kecerdikan Juha tidak hanya menghukum orang yang zalim, tetapi juga mendatangkan kebaikan dan rezeki yang berlimpah bagi dirinya sendiri.
Catatan Al-Hikam..

Tiada ulasan:
Catat Ulasan