Ahad, 24 November 2013

Anak perisai api neraka

Anak perisai api neraka

DARIPADA Aisyah r.ha katanya: “Datang ke rumahku seorang perempuan meminta (makanan), tidak ada sesuatu disisiku melainkan sebiji kurma lalu aku beri kepadanya”. Maka dia pun membahagi sebiji kurma tadi kepada dua orang anaknya dan dia sendiri tidak memakannya. Kemudian dia pun keluar (dari rumah Aisyah). Setelah Nabi SAW datang kepada kami lalu aku pun memberitahunya (peristiwa tersebut), maka baginda bersabda: €œSesiapa yang diuji dengan anak-anak perempuan ini dengan sesuatu lalu dia melayan (memelihara) mereka dengan baik, adalah mereka menjadi penghalang daripada api neraka. (riwayat Bukhari dan Muslim)

Huraian:

Orang Islam disuruh memenuhi hajat orang yang meminta sekali pun dengan pertolongan yang sedikit.

Ibu bapa mestilah mengutamakan keperluan anak-anaknya seperti makan, minum, pakaian dan sebagainya.

Ibu bapa yang mendidik dan mengasuh anaknya dengan sempurna dijamin bebas daripada api neraka.

Hadis ini menunjukkan kelebihan menjaga dan mendidik anak-anak perempuan. Ia akan menjadi perisai daripada api neraka jika dilakukan seperti yang diperintah Allah SWT dan rasul-Nya.

Ikut sahaja Al Quran dan As Sunnah ?

Ikut sahaja Al Quran dan As Sunnah ?


Slogan cantik, dan boleh membawa kerosakan bagi yang mengikut membuta tuli.

Jika ini ajakan anda untuk orang yang jahil tanpa ada merujuk alim ulamak. Memang ajakan anda ini untuk menjadikan lebih ramai ulamak jadian, mufti segera, mujtahid jadian yang sesat lagi menyesatkan.

Tahukah anda ? Allah meminta kita merujuk kepada alim ulamak dalam Surah an Nahl ayat 43.

Terdapat banyak hadith sahih yang hampir mencapai darjat mutawattir maknawi yang memerintahkan kaum Muslimin agar menetapi jemaah dan tidak keluar darinya. (Mengikut majoriti para Ulamak, umat Islam)

Hadith-hadith tersebut di antaranya:

1. Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dari Anas bin Malik radiyaLLahu ‘anhu. Ia berkata, bahawa RasuluLlah sallaLLahu ‘alaihi wasallam bersabda yang bererti :

“Sesungguhnya umatku akan berpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan, semuanya berada dalam neraka kecuali satu iaitu Jemaah”

Pengarang kitab az Zawa’id berkata: Sanad hadith tersebut adalah sahih dan para perawinya dapat dipercayai.

2. Hadith yang diriwayatkan oleh Imam At Tirmidzi dan Imam Ibnu Majah dengan sanad sahih dari Umar bin Khatab radiyaLLahu ‘anhu dari RasuluLLah sallaLLahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda yang bererti :

“Kamu sekalian harus menetapi jemaah dan jangan sekali-kali (memisahkan diri), kerana sesungguhnya syaitan selalu bersama seorang dan dia menjauhi dari dua orang. Dan barangsiapa menginginkan pelataran syurga, hendaklah menetapi jemaah.

Imam At Tirmidzi berkata, “Hadith ini hasan sahih dan gharib dari segi ini. Imam Ibnul Mubarak pun meriwayatkan hadith tersebut dari Muhammad bin Sauqah. Hadith ini diriwayatkan dari Umar al Khattab radiyaLLahu ‘anhu dari RasuluLlah sallaLLahu ‘alaihi wasallam melalui beberapa riwayat.

3. Sabda RasuluLlah yang bererti : “Umatku tidak akan bersepakat dalam perkara salah”
(Riwayat at Tirmidzi, Ibnu Majah, Abu Daud dan Daruqutni)

4. Nabi bersabda (yang bererti ) : “Apa sahaja yang menurut pandangan orang Muslimin itu baik, maka ia juga baik di sisi ALlah. Dan apa-apa menurut pendapat orang Muslimin itu buruk, maka ia adalah buruk di sisi ALlah”. (Riwayat Ahmad : Hadith Hasan)

5. Hadith lain, RasuluLlah bersabda (yang bererti) : “Sesiapa yang mengasingkan atau memisahkan diri daripada Jemaah, ia mati seperti kematian orang jahiliyyah.” (Riwayat Al Bukhari, Muslim, Ahmad dan an Nasa’ie)

Sumber rujukan :

1. Dr Said Ramadhan al Buthi, Allaa Madzhabiyyatu Akhtaru Bid’atin Tuhaddidu Asy Syariiata al Islamiyyah, Bebas Mazhab Adalah Suatu Bid’ah Paling Merbahaya Yang Dapat Menghancurkan Syariat Islam, 2002, Pustaka Setia, Bandung

2. Ustaz Abd Latif Muda, Ustazah Rosmawati Ali @ Mat Zin, Pengantar Usul Fiqh, Cetakan Pertama 1997, Pustaka Salam, Kuala Lumpur

Dari AbduLLah ibn Amr radiyaLLahu ‘anhu bahawa RasuluLlah sallaLLahu ‘alaihi wasallam bersabda yang bermaksud :

ALLah subhanahu wa ta’ala tidak akan mengangkat ilmu pengetahuan dengan cara mencabutnya dari hati ulama, tetapi dengan cara mematikan mereka, dan jika sudah tidak ada lagi seorang ulama yang masih hidup, maka manusia akan mengangkat pemimpin di kalangan orang-orang yang jahil (bodoh), jika (para pemimpin tersebut ditanya tentang kemusykilan agama) maka mereka akan berfatwa tanpa dasar ilmu, dengan itu mereka menjadi sesat dan menyesatkan. (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Masih berdegil lagi ? Ikut sahaja dengan bertaqlid buta individu/golongan yang suka bawa slogan di atas yang sebenarnya inginkan kerosakan dalam agama. Anda akan bersama-sama dengan mereka.

Dan kami ingin bersama-sama dengan MAJORITI ALIM ULAMAK. As sawad al a’zhom – Asya’iroh al Maturidiyyah.

http://pondokhabib.wordpress.com/2013/11/04/ikut-sahaja-al-quran-dan-as-sunnah/

Jumaat, 22 November 2013

Dari Malaysia bersemadi di Istanbul - Kisah Ammar

Maka hari ini Allah telah menghantar kisah arwah Ammar untuk menempelak dan menyepak aku agar bangkit dari tidur. Berita pemergian beliau aku sudah maklum semenjak jam awal pemergiannya lagi cuma baru hari ini aku betul-betul mendalami sejarah hidup beliau.

Umur 20, sama dengan aku. Pencapaiannya jauh tinggi dan hebat dari aku bahkan dari sesiapa sahaja yang aku kenal yang sebaya dengan aku dan dia. Dari Malaysia bersemadi di Istanbul berjirankan Abu Ayub Al-Ansari sahabat Nabi yang dari madinah juga bersemadi di istanbul.

"Kematian Ahmad Ammar telah menyentuh satu bahagian dalam diri saya yang tak mampu disentuh oleh tasawwuf mahupun rasional. Bukan hati dan bukan akal. Tetapi sesuatu. Saya yang fakir perkataan, menamakannya sebagai 'ammar'." - Ust Hasrizal

Hari ini aku malu dengan diri sendiri. Aku malu dengan Ammar.

Allahumma firlahu warhamhu. Inginku coretkan kisahmu dalam diariku agar kisahmu menggapai dan menyentuh lebih banyak jiwa di luar sana.

Alfatihah.

Let's Follow Ammar : http://youtu.be/HIR30U3E9sE (ANDA WAJIB TONTON) — with Pelita Hidup

GPTD: Ahmad Ammar Dalam Kenangan (1993 - 2013)

Selasa, 19 November 2013

Lalat, Sehina Itukah Dia, atau Dia Lebih Mulia Dari Itu?

Oleh: Dr. Muhammad Widus Sempo, MA. 

dakwatuna.com - Tidak ada entitas kehidupan yang tercipta sia-sia. Sadar akan hal ini, penulis berupaya menyuguhkan tulisan singkat tentang hakikat penciptaan lalat. Makhluk lemah ini sering kali dituding oleh sebagian dari mereka sebagai serangga pembawa sial, kuman penyakit, dan hewan yang cukup mengganggu. Akan tetapi, pernahkah mereka memikirkan hakikat penciptaannya?
Hampir semua jenis serangga, termasuk lalat, tidak terlihat di musim dingin, mereka nantinya muncul beterbangan di awal musim semi, tetapi sebagian dari mereka, seperti lalat hijau telah menampakkan diri di penghujung musim dingin. Tentunya, fenomena seperti ini membangkitkan selera tanya pemerhati yang berkata: “rahasia apa lagi di balik fenomena ini? Apakah di sana ada pesan-pesan kehidupan untuk manusia?”

Siklus kehidupan seperti ini menunjukkan kesempurnaan penciptaan Allah SWT. Mereka seperti bala tentara Allah yang menyeru dan berkata: “wahai manusia, khalifah Allah, jangan pernah melihat aku pada batas penciptaan semata, tetapi temukan nilai-nilai ketuhanan dan kehidupan di balik penciptaanku! Aku melukiskan seribu satu makna bagi insan-insan Rabbânî. Olehnya itu, jangan pernah mengusirku dengan begitu kasar, hanya karena aku hinggap di batang hidungmu. Aku tidak sepantasnya mendapatkan perlakuan seperti itu, jika Anda mengetahui hakikat-hakikat penciptaan yang aku biaskan. Boleh jadi, dengan bertenggernya aku di batang hidungmu sedetik, itu dapat menyadarkanmu dari kelalaian tentang hakikat penciptaan setiap entitas kehidupan. Coba lihat dan pikirkan itu!”

Di musim panas sampah dan bangkai binatang cepat mengalami pembusukan oleh pengaruh bakteri. Olehnya itu, untuk menekan bahaya bakteri tersebut, Allah menciptakan lalat di luar perhitungan matematis sebagai pembasmi gratis terhadap kuman-kuman penyakit.

Syekh Mutawallî as-Sya’râwî dengan singkat mengatakan:
“Sebagian manusia bertanya: “apa hikmah penciptaan lalat di kosmos ini?” mereka tidak tahu bahwa lalat senantiasa memberikan layanan jasa yang sangat urgen, dia memakan kotoran dan kuman penyakit yang melengket di tubuhnya, dan seandainya manusia memproteksi diri dengan kebersihan, pasti lalat tidak mengerumuni mereka.

Jadi, setiap entitas kehidupan memerankan fungsi mereka dengan teratur. Sesungguhnya keteraturan yang apik itu datang dari Sang Pencipta yang Maha Mengetahui lagi Bijak. Dan selagi Dia yang Bijak yang menciptakan, maka tidak layak bagi mereka membantah dan berkata: “kenapa lagi dia tercipta?” Karena setiap makhluk punya tugas tersendiri di alam ini.”[1]

Sebelumnya, Bediuzzaman Said Nursi mendeskripsikan fungsi penciptaan makhluk ini dengan panjang lebar, beliau berkata:
“Sesungguhnya lalat sangat memerhatikan kebersihan, dia senantiasa membersihkan muka, mata dan sayapnya, seperti orang yang sedang berwudhu. Olehnya itu, tanpa ragu, jenis makhluk ini punya tugas penting dan mulia, tetapi kaca mata hikmah dan ilmu manusia tidak mampu menangkap semua fungsi yang sedang dilaksanakan.

Di antara hewan yang diciptakan Allah binatang buas, pemakan daging (karnivor). Mereka seperti petugas kebersihan yang menjalankan tugas dengan begitu sempurna. Dengan melahap bangkai binatang darat dan laut, mereka telah menjaga kebersihan laut dan udara dari polusi.

Di lain sisi, di sana ada burung-burung pemangsa yang siap mencengkeram bangkai binatang laut dan darat sebelum membusuk. Dengan desain indera perasa yang Allah ciptakan terhadapnya, mereka mampu menangkap sinyal bangkai dari jarak tempuh sekitar 6 jam perjalanan. Seandainya petugas kebersihan ini tidak ada, dunia sungguh menyedihkan dan wajah laut murung tidak berseri.
Tidak jauh dari itu, lalat punya fungsi serupa. Serangga ini telah diformat khusus untuk membasmi kuman penyakit yang tidak terlihat oleh kasat mata. Dia bukan pembawa kuman, melainkan dia penghancur pelbagai basil yang berbahaya dengan memakan dan mendaur ulang materi beracun ini menjadi materi lain, sehingga dengan sendirinya penyakit-penyakit pun tidak tersebar dalam skala besar dan menakutkan.

Bukti nyata bahwa mereka makhluk petugas kebersihan, pembasmi bahan-bahan kimia yang mengancam, dan keberadaannya penuh dengan hikmah, adalah jumlahnya yang tidak terhitung di musim panas. Bukankah materi yang bermanfaat itu diperbanyak kopiannya?”[2]

Yang menarik lagi dari hewan ini, justifikasi hukum dari hadits bahwa spesies ini, meskipun datang dari kotoran, tetapi ia diperlengkapi dengan anti-bakteri. Ini telah ditegaskan sabda Nabi Saw berikut ini:

(إِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِى إِنَاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ كُلَّهُ، ثم لْيَطْرَحْهُ، فَإِنَّ فِى أَحَدِ جَنَاحَيْهِ شِفَاءً، وَفِى الآخَرِ دَاءً).
“Jika lalat jatuh di tempat minum (gelas) salah seorang dari kalian, maka celupkan semua tubuhnya. Sesungguhnya di salah satu sayapnya ada obat, dan di sayap lain ada penyakit.”[3]

Jika Anda bertanya dan berkata: “Apakah mungkin lalat punya anti-bakteri, sementara, dia hidup di kotoran? Tolong buktikan dengan dalil-dalil ilmiah?”

Kebenaran medis Nabi Saw tersebut, yang diingkari oleh sebagian orientalis, telah dibuktikan oleh kedokteran kuno dan modern.

Imam Ibn Qutaiba berkata:
“Ahli medis kuno menganggap bahwa lalat yang diaduk dengan serbuk antimon [4] dapat menjadi ramuan celak yang ampuh mempertajam penglihatan dan mempertebal pertumbuhan bulu-bulu mata.”[5]

Olehnya itu, bagi Imam Ibn Qayyîm sendiri, hadits ini tidak patut diingkari oleh mereka, karena bukan hanya lalat saja seperti ini, tetapi ular, lebah dan yang lain punya mekanisme serupa. Beliau menjelaskan:
“Sebagian dari mereka merasa aneh terhadap penyakit dan obat yang ditemukan dalam satu makhluk. Itu bukanlah keanehan, sesungguhnya mulut lebah membawa madu dan pantatnya menyimpan sengat, bisa ular dapat dilumpuhkan dengan ramuan Tiryak (pengobatan kuno yang komposisinya terdiri dari bisa dan serbuk daging ular yang dicampur dan diaduk rata), dan mereka menyarankan kepada korban yang mukanya digigit anjing untuk ditutupi. Karena jika lalat hinggap, penyakitnya dapat bertambah parah.”[6]

Dunia medis modern pun telah menemukan hal yang tidak jauh beda dari penemuan di atas. Ini dapat dilihat di laporan medis mereka berikut ini:
Karena tabiat lalat yang tercipta di lingkungan kotor, maka sebagian kotoran tersebut melengket di tubuhnya, dan sebagian lain dimakan, yang kemudian menjadi materi beracun yang lebih dikenal dengan anti-bakteri (bakterionag). Zat beracun tidak dapat bertahan hidup, atau punya pengaruh terhadap kekebalan tubuh selama anti-bakteri ini ada di tubuh lalat. Olehnya itu, jika seekor lalat yang membawa kuman penyakit jatuh di makanan dan minuman, maka pemusnah kuman yang paling ampuh anti-bakteri yang tersimpan di rongga dalam lalat itu sendiri yang dekat di salah satu sayapnya. Tentunya, dengan mencelupkan semua tubuh lalat cukup untuk membunuh kuman-kuman yang melengket di tubuhnya. Hal ini telah dibuktikan medis barat.[7]

Pendek kata, medis kenabian telah terbukti kebenarannya oleh medis kuno dan modern. Tidak ada celah bagi mereka yang ingin menuding teks-teks Islam sebagai teks agama yang tidak riil dan relevan dengan dunia nyata. Ini mengindikasikan kebesaran dan keagungan Sang Maha Penguasa, yang ciptaan- ciptaan-Nya dapat menjadi guru tersendiri bagi mereka yang ingin menangkap bisikan-bisikan hakikat penciptaan dan kehidupan.

Keurgensian makhluk ini tidak berhenti di sini saja, tetapi ia diabadikan sebagai bahan baku celaan Al-Qur’an terhadap orang-orang musyrik. Allah SWT berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ لَن يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ ۖ وَإِن يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لَّا يَسْتَنقِذُوهُ مِنْهُ ۚ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوبُ ﴿٧٣﴾
“Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.” (QS. Al-Hajj [22]: 73)

Hemat penulis, lalat makhluk yang paling lemah, tetapi ia mengetahui kelemahannya. Di lain sisi, penyembah berhala, makhluk lemah, tidak menyadari kelemahannya, bahkan ia memberikan justifikasi ketuhanan kepada berhala-berhala yang tidak punya kekuatan sedikit pun. Olehnya itu, kelemahan yang disadari dan diposisikan pada tempatnya lebih baik dari sejuta kesombongan dan keangkuhan yang menyengsarakan.

Sesungguhnya apa yang mereka anggap kuat, hakikatnya lemah di hadapan Allah, penyembah dan sembahan tidak dapat mengembalikan sesuatu yang telah dirampas lalat dari mereka. [8] Apa lagi jika mereka diminta menciptakan makhluk ajaib ini. Sungguh, itu cemooh yang mencoreng muka mereka di hadapan seluruh entitas kehidupan, celaan yang meninggalkan pilu dan malu. [9]
Demikianlah telaah imaniah singkat tentang justifikasi negatif terhadap lalat yang jauh dari nilai-nilai keimanan, hewan yang menyimpan seribu satu keajaiban penciptaan.

Di akhir tulisan ini, saya mengajak pemerhati tema-tema keislaman menyimpulkan apa yang dipaparkan di atas:
“Telaah rahasia-rahasia penciptaan lalat dengan penuh keimanan! ia lemah tapi tidak sombong, dengan kelemahan dia menjadi kuat, makhluk yang melukiskan keagungan penciptaan yang tidak terhingga, petugas kebersihan harian umat manusia yang tidak disadari. Mereka tidak pernah meminta gaji, yang mereka inginkan hanyalah kesadaran manusia untuk menjadikan mereka objek telaah imaniah yang menyuguhkan aneka ragam makna kehidupan dan ketuhanan. Dia tidak kotor meski dari tempat kotor, tidak membawa kuman kecuali obatnya telah siap, dan dia senantiasa menyeru Anda untuk menjaga kebersihan. Subhanallah wa Alhamdulillah!”

Catatan Kaki:
[1] Tafsir as-Sya’râwî, vol. 2, hlm. 699
[2] Lihat: Ustadz Bediuzzaman Said Nursi, Masâil Daqîqah fi al-Ushûl wa al-Aqîdah, diterjemahkan oleh Ihsân Qâsim as-Shâlihî, Sözler Publication, cet. 2, 2003 M, hlm. 7-9
[3] Hadits ini diriwayatkan oleh Abi Hurairah ra., dan dikeluarkan oleh Imam Bukhari di Shahihnya, kitab at-Tib, bab Isâ waqaa adz-Zubâb fi Inâi Ahadikum, hadits, no: 5782, hlm. 1594
[4] antimon: logam berwarna putih perak yang mudah dihancurkan menjadi serbuk dan dicampur dengan logam-logam lain; batu serawak. [Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia,  Balai Pustaka, cet. 3, 1990 M, hlm. 43]
[5] Imam Abî Muhammad Abdullah bin Muslim bin Qutaibah, Ta’wîl Mukhtalafil Hadîts, ditahkik oleh Muhammad Muhyiddin al-Ashfar, al-Maktab al-Islami, Beirut, cet. 2, 1419 H/1999 M, hlm. 335-336
[6] Imam Ibn Qayyîm al-Jauzî, al-Musykil min Hadîts as-Shahîhain, ditakhkik oleh DR. Ali Husain al-Bawwâb, Dar al-Wathan, cet. 1, 1418 H/1997 M, hadits, no: 2076/2581, vol. 3, hlm. 547
[7] Lihat: Musykilât al-Ahâdîts an-Nabawiyyah wa Bayânuhâ, vol. 1, hlm. 54
[8] yang dirampas dari mereka adalah sesajen yang dipersembahkan khusus untuk berhala-berhala. Kebanyakan mufassir menafsirkannya sebagai wangi-wangian dan madu yang dioleskan di bagian kepala patung-patung tersebut. Di lain sisi, Syekh as-Sya’râwî menafsirkannya dengan makanan dan darah hewan (korban) yang disembelih di dekat berhala-berhala mereka. [lihat: Abû Hayyan at-
Tauhîdî, al-Bahru al-Muhîth, vol. 6, hlm. 360, dan Tafsir as-Sya'râwî, vol. 16, hlm. 9933-9934]
[9] Lihat: Syekh Abîs as-Suûd al-Imâdî, Tafsir Abî as-Suûd, vol. 4, hlm. 397-398, dan Syekh Muhammad Thâhîr bin Ãsyûr, at-Tahrîr wa at-Tanwîr, vol. 17, hlm. 340
Dr. Muhammad Widus Sempo, MA.
Tentang Dr. Muhammad Widus Sempo, MA.
Sudah menikah, dan dikarunia dua anak. Doktor (S3) di Universitas al-Azhar, Kairo, jurusan Tafsir.


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/12/05/17062/lalat-sehina-itukah-dia-atau-dia-lebih-mulia-dari-itu/#ixzz2l8PUrNy4 
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook

Rabu, 13 November 2013

Rasulullah (+playlist)

http://www.youtube.com/v/FEVYGRiay3c?list=PLFD3DC17E52996734&version=3&attribution_tag=OFl0jRB9V9wzjHqP1wxPYg&autoplay=1&showinfo=1&feature=share&autohide=1

Selasa, 12 November 2013

Rendah Hati (Tawadhu'), Sifat Kitakah?

Rendah Hati (Tawadhu'), Sifat Kitakah?


Sebagai umat Islam, tentunya kita sudah tidak asing lagi dengan kata maksud “takwa”. Menurut definisinya, takwa adalah imtitsâlu awâmirillâh wajtinâbu nawâhîhi (melaksanakan semua perintah Allah sekuat-kuatnya dan menjauhi apa pun larangan-Nya). Sebagaimana diajarkan oleh para ulama, takwa dalam bahasa Arab terdiri dari empat huruf, iaitu :

ت (tawâdhu‘) artinya rendah hati. Selain tawâdhu‘ bisa juga bermakna tadharru‘ yang bererti sama iaitu merendahkan diri di hadapan Allah dan sopan santun terhadap sesama.

ق (qanâ‘ah) artinya menerima dengan syukur semua karunia Allah

و (wara‘) artinya meninggalkan perkara syubhat dan tidak berfaedah

ي (yaqîn) artinya yakin sepenuh hati kepada Allah

Di kitab “Ta‘lîm al-Muta‘allim” terdapat syair tentang kerendahan hati yang berbunyi :

إِنَّ التَّوَاضُعَ مِنْ خِصَالِ الْمُتَّقِي * وَبِهِ التَّقِيُّ إِلىَ الْمَعَـالِي يَرْتَقِي

Sesungguhnya rendah hati adalah salah satu ciri orang yang bertakwa
Dengannya, orang yang bertakwa mencapai derajat kemuliaan

Nabi Muhammad saw. juga telah memerintahkan kita untuk selalu bersikap rendah hati. Dalam sebuah hadits beliau bersabda :

إِنَّ اللهَ أَوْحَى ِإلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوْا حَتَّى لاَ يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلاَ يَبْغَى أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ

Sesungguhnya Allah SWT telah mewahyukan kepadaku agar kalian bertawadhu‘, sehingga tak seorang pun menyombongkan diri kepada yang lain, atau seseorang tiada menganiaya kepada yang lainnya. (HR Muslim)

Di hadits lain, Rasulullah saw. mengingatkan akan jaminan bahwa orang yang rendah hati akan diangkat derajatnya oleh Allah.

مَازَادَ اللهُ عَبْـدًا ِبعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا، وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ ِللهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللهُ

Allah tidak menambahkan kepada seorang hamba yang pemaaf kecuali kemuliaan, dan tidaklah seorang hamba bersikap tawadhu‘ kecuali Allah pasti mengangkat (derajatnya). (HR Muslim)

مَنْ تَوَاضَعَ ِللهِ رَفَعَهُ اللهُ وَمَنْ تَكَبَّرَ وَضَعَهُ اللهُ
Siapa rendah hati karena Allah, maka Allah mengangkat (derajat)-nya; dan siapa sombong, maka Allah menyia-nyiakannya. (HR Abu Nu‘aim)

الْكَرَمُ التَّقْوَى، وَالشَّرَفُ التَّوَاضُعُ، وَالْيَقِيْنُ الْغِنَى

Kedermawanan adalah ketakwaan, kemuliaan adalah tawadhu‘ dan keyakinan adalah kekayaan. (HR Ibnu Abi Dunya dan Hakim)

Ketika ditanya mengenai arti tawadhu‘ (rendah hati), al-Fudhail menjawab, “Kamu tunduk kepada kebenaran dan patuh kepadanya. Walaupun engkau mendengarnya dari anak kecil, engkau tetap menerimanya. Bahkan, meskipun engkau mendengarnya dari orang terbodoh, engkau tetap menerimanya.”

Rendah hati adalah syarat pertama jika kita ingin mencapai derajat sebagai insan yang bertakwa.

Rendah hati merupakan puncak dari akhlak seorang mukmin, yaitu rendah hati kepada Allah, Sang Pemilik kehidupan.

Rendah hati tidak mungkin diraih hanya dengan ilmu, harus diiringi dengan amal perbuatan.

Rendah hati dari segi ilmu memang mudah dipelajari, namun dalam implementasinya membutuhkan waktu yang tidak singkat, bisa bertahun-tahun.

Rendah hati bertahap belajarnya. Seiring perjalanan usia, ilmu dan pengalaman seharusnya semakin rendah hati.

Rendah hati dapat diteladani dari diri Rasulullah saw., karena beliaulah orang paling bertakwa di seluruh alam semesta. Bahkan, malaikat pun hormat kepada beliau kerana derajat beliau yang begitu mulia di sisi Allah SWT. Nabi Muhammad saw. dipuji oleh Allah sebagai makhluk dengan akhlak sangat terpuji dan mendapat anugerah sebagai kekasih Allah (habîbullâh).

Di sebuah puisi, ‘Aidh al-Qarni mengungkapkan sanjungannya kepada Rasulullah saw. :

Siapa yang menghampiri pintu rumahmu, tak berhenti raga
bertutur tentang anugerah yang kau berikan
Mata bercerita tentang suka cita, tangan tentang persaudaraan,
hati tentang kelembutan, telinga tentang kebajikan

Demi Tuhan, kata-katamu mengalir bagai madu
Ataukah engkau benar-benar telah menuangkan madu pada mulut kami
Ataukah untaian makna yang kau ungkapkan
Aku melihat permata dan batu zamrud tersampaikan
Jika dirasakan oleh yang sekarat, akan tertahan ruhnya
Dan jika dipandang oleh yang di rantau, akan terobati kerinduannya

Para ulama menjelaskan bahwa rendah hati harus dimiliki dalam setiap kondisi dan tingkat atau kedudukan. Ketika kita masih belum menjadi apa-apa (tahap belajar), kita ibarat sebuah biji tanaman. Tanamlah biji itu di dalam tanah. Apabila diletakkan di atas tanah, dikuatirkan mudah dimakan binatang atau hilang disapu angin.

Saat kita berusaha mencapai puncak, hal ini laksana mendaki gunung. Agar lebih mudah mendakinya, maka badan kita harus condong ke depan dan pandangan mata ke arah bawah. Pernahkah kita melihat seorang pendaki gunung berjalan sambil menegakkan badan, mendongakkan kepala dan membusungkan dada? Semakin curam jalan yang kita daki, kita pun semakin merunduk, bahkan merayap. Bukankah pada dasarnya panjat tebing dilakukan dengan merayap?

Tatkala sudah di puncak, rendah hati tetap harus menghiasi diri. Angin pasti berhembus lebih kencang ketika kondisi kita di puncak. Agar bisa bertahan bahkan maju terus walaupun terpaan angin begitu besar, maka kita harus berjalan sambil membungkuk. Semakin kencang anginnya, bererti badan kita semakin membungkuk bahkan merayap.

Semoga Allah senantiasa menghiasi diri kita dengan sifat rendah hati, amin...

Daftar Pustaka :
  • ‘Aidh al-Qarni, Dr, “Nikmatnya Hidangan Al-Qur’an (‘Alâ Mâidati Al-Qur’an)”, Maghfirah Pustaka, Cetakan Kedua : Januari 2006.
  • Az-Zarnuji, asy-Syaikh, “Ta‘lîm al-Muta‘allim”
  • I. Solihin, Drs, “Terjemah Nashaihul Ibad (karya Imam Nawawi al-Bantani)”, Pustaka Amani Jakarta, Cetakan ke-3 1427H/2006.
  • Muhammad bin Ibrahim Ibnu ‘Ibad, asy-Syaikh, “Syarah al-Hikam”

Kisah Juha Dan Setengah Cambukan

Suatu hari, Juha berhasil menangkap seekor ikan besar yang sangat langka. Ia pun berniat untuk mempersembahkan ikan tersebut kepada sultan d...