Selasa, 12 November 2013

Telah Dekat Qiamat; Bulan Telah Terbelah…

Telah Dekat Qiamat; Bulan Telah Terbelah…
admin | 13/12/2012 | & Komentar

Akhwatmuslimah.com – Allah berfirman: “Sungguh telah dekat hari qiamat, dan bulan pun telah terbelah (Q.S. Al-Qamar: 1)” Apakah kalian akan membenarkan kisah yang dari ayat Al-Qur’an ini menyebabkan masuk Islamnya pimpinan Hizb Islami Inggris ?? Di bawah ini adalah kisahnya:

Dr. Zaghloul Ragheb El Naggar

Dr. Zaghloul Ragheb El Naggar
Dalam temu wicara di televisi bersama pakar Geologi Muslim, Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar, salah seorang warga Inggris mengajukan pertanyaan kepadanya, apakah ayat dari surat Al-Qamar di atas memiliki kandungan mukjizat secara ilmiah ?

Maka  menjawabnya sebagai berikut: Tentang ayat ini, saya akan menceritakan sebuah kisah. Sejak beberapa waktu lalu, saya mempresentasikan di Univ. Cardif, Inggris bagian barat, dan para peserta yang hadir bermacam-macam, ada yang muslim dan ada juga yang bukan muslim.

Salah satu tema diskusi waktu itu adalah seputar mukjizat ilmiah dari Al-Qur’an. Salah seorang pemuda yang beragama muslim pun berdiri dan bertanya, “Wahai Tuan, apakah menurut anda ayat yang berbunyi [Telah dekat hari qiamat dan bulan pun telah terbelah] mengandung mukjizat secara ilmiah ? Maka saya menjawabnya: Tidak, sebab kehebatan ilmiah diterangkan oleh ilmu pengetahuan, sedangkan mukjizat tidak bisa diterangkan ilmu pengetahuan, sebab ia tidak bisa menjagkaunya. Dan tentang terbelahnya bulan, maka itu adalah mukjizat yang terjadi pada Rasul terakhir Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam sebagai pembenaran atas kenabian dan kerasulannya, sebagaimana nabi-nabi sebelumnya.

Dan mukjizat yang kelihatan, maka itu disaksikan dan dibenarkan oleh setiap orang yang melihatnya. Andai hal itu tidak termaktub di dalam kitab Allah dan hadits-hadits Rasulullah, maka tentulah kami para muslimin di zaman ini tidak akan mengimani hal itu. Akan tetapi hal itu memang benar termaktub di dalam Al-Qur’an dan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wassalam. Dan memang Allah ta’alaa benar-benar Maha berkuasa atas segala sesuatu.

Maka Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar pun mengutip sebuah kisah Rasulullah membelah bulan. Kisah itu adalah sebelum hijrah dari Mekah Mukarramah ke Madinah. Orang-orang musyrik berkata, “Wahai Muhammad, kalau engkau benar Nabi dan Rasul, coba tunjukkan kepada kami satu kehebatan yang bisa membuktikan kenabian dan kerasulanmu (mengejek dan mengolok-olok)?”

Rasulullah bertanya, “Apa yang kalian inginkan ?

Mereka menjawab: Coba belah bulan, ..”

Bulan terbelah
Maka Rasulullah pun berdiri dan terdiam, lalu berdoa kepada Allah agar menolongnya. Maka Allah memberitahu Muhammad agar mengarahkan telunjuknya ke bulan. Maka Rasulullah pun mengarahkan telunjuknya ke bulan, dan terbelahlah bulat itu dengan sebenar-benarnya. Maka serta-merta orang-orang musyrik pun berujar, “Muhammad, engkau benar-benar telah menyihir kami!” Akan tetapi para ahli mengatakan bahwa sihir, memang benar bisa saja “menyihir” orang yang ada disampingnya akan tetapi tidak bisa menyihir orang yang tidak ada ditempat itu. Maka mereka pun pada menunggu orang-orang yang akan pulang dari perjalanan. Maka orang-orang Quraisy pun bergegas menuju keluar batas kota Mekkah menanti orang yang baru pulang dari perjalanan. Dan ketika datang rombongan yang pertama kali dari perjalanan menuju Mekkah, maka orang-orang musyrik pun bertanya, “Apakah kalian melihat sesuatu yang aneh dengan bulan?”Mereka menjawab, “Ya, benar. Pada suatu malam yang lalu kami melihat bulan terbelah menjadi dua dan saling menjauh masing-masingnya kemudian bersatu kembali…!!!”  Maka sebagian mereka pun beriman, dan sebagian lainnya lagi tetap kafir (ingkar). Oleh karena itu, Allah menurunkan ayat-Nya:  Sungguh, telah dekat hari qiamat, dan telah terbelah bulan, dan ketika melihat tanda-tanda kebesaran Kami, merekapun ingkar lagi berpaling seraya berkata, “Ini adalah sihir yang terus-menerus”, dan mereka mendustakannya, bahkan mengikuti hawa nafsu mereka. Dan setiap urusan benar-benar telah tetap ….sampai akhir surat Al-Qamar.

Ini adalah kisah nyata, demikian kata Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar. Dan setelah selesainya Prof. Dr. Zaghlul menyampaikan hadits nabi tersebut, berdiri seorang muslim warga Inggris dan memperkenalkan diri seraya berkata, “Aku Daud Musa Pitkhok, ketua Al-Hizb Al-Islamy Inggris. Wahai tuan, bolehkah aku menambahkan??”  Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar menjawab: Dipersilahkan dengan senang hati.” Daud Musa Pitkhok berkata, “Aku pernah meneliti agama-agama (sebelum menjadi muslim), maka salah seorang mahasiswa muslim menunjukiku sebuah terjemah makna-makna Al-Qur’an yang mulia.

Maka, aku pun berterima kasih kepadanya dan aku membawa terjemah itu pulang ke rumah. Dan ketika aku membuka-buka terjemahan Al-Qur’an itu di rumah, maka surat yang pertama aku buka ternyata Al-Qamar. Dan aku pun membacanya: Telah dekat hari qiamat dan bulan pun telah terbelah… Maka aku pun bergumam: Apakah kalimat ini masuk akal?? Apakah mungkin bulan bisa terbelah kemudian bersatu kembali?? Andai benar, kekuatan macam apa yang bisa melakukan hal itu??? Maka, aku pun menghentikan dari membaca ayat-ayat selanjutnya dan aku menyibukkan diri dengan urusan kehidupan sehari-hari. Akan tetapi Allah Yang Maha Tahu tentang tingkat keikhlasam hamba-Nya dalam pencarian kebenaran. Maka aku pun suatu hari duduk di depan televisi Inggris. Saat itu ada sebuah diskusi diantara presenter seorang Inggris dan 3 orang pakar ruang angkasa AS. Ketiga pakar antariksa tersebut pun menceritakan tentang dana yang begitu besardalam rangka melakukan perjalanan ke antariksa, padahal saat yang sama dunia sedang mengalami masalah kelaparan, kemiskinan, sakit dan perselisihan. Presenter pun berkata, ” Andai dana itu digunakan untuk memakmurkan bumi, tentulah lebih banyak berguna”. Ketiga pakar itu pun membela diri dengan proyek antariksanya dan berkata, “Proyek antariksa ini akan membawa dampak yang sangat positif pada banyak segmen kehidupan manusia, baik segi kedokteran, industri, dan pertanian. Jadi pendanaan tersebut bukanlah hal yang sia-sia, akan tetapi hal itu dalam rangka pengembangan kehidupan manusia.

Dan diantara diskusi tersebut adalah tentang turunnya astronot menjejakkan kakiknya di bulan, dimana perjalanan antariksa ke bulan tersebut telah menghabiskan dana tidak kurang dari 100 juta dollar. Mendengar hal itu, presenter terperangah kaget dan berkata, “Kebodohan macam apalagi ini, dana begitu besar dibuang oleh AS hanya untuk bisa mendarat di bulan?” Mereka pun menjawab, “Tidak, ..!!! Tujuannya tidak semata menancapkan ilmu pengetahuan AS di bulan, akan tetapi kami mempelajari kandungan yang ada di dalam bulan itu sendiri, maka kami pun telah mendapat hakikat tentang bulan itu, yang jika kita berikan dana lebih dari 100 juta dollar untuk kesenangan manusia, maka kami tidak akan memberikan dana itu kepada siapapun. Maka presenter itu pun bertanya, “Hakikat apa yang kalian telah capai sehingga demikian mahal taruhannya. Mereka menjawab, “Ternyata bulan pernah mengalami pembelahan di suatu hari dahulu kala, kemudian menyatu kembali.!!!

Garisan bekas terbelahnya bulan dan bercantum kembali
Presenter pun bertanya, “Bagaimana kalian bisa yakin akan hal itu?” Mereka menjawab, “Kami mendapati secara pasti dari batuan-batuan yang terpisah terpotong di permukaan bulan sampai di dalam (perut) bulan. Maka kami pun meminta para pakar geologi untuk menelitinya, dan mereka mengatakan, “Hal ini tidak mungkin telah terjadi kecuali jika memang bulan pernah terbelah lalu bersatu kembali”.

Mendengar paparan itu, ketua Al-Hizb Al-Islamy Inggris mengatakan, “Maka aku pun turun dari kursi dan berkata, “Mukjizat (kehebatan) benar-benar telah terjadi pada diri Muhammad sallallahu alaihi wassallam 1400-an tahun yang lalu. Allah benar-benar telah mengolok-olok AS untuk mengeluarkan dana yang begitu besar, 100 juta dollar lebih, hanya untuk menetapkan akan kebenaran muslimin !!!! Maka, agama Islam ini tidak mungkin salah … Maka aku pun berguman, “Maka, aku pun membuka kembali Mushhaf Al-Qur’an dan aku baca surat Al-Qamar, dan … saat itu adalah awal aku menerima dan masuk Islam.

Diterjemahkan oleh: Abu Muhammad ibn Shadiq

( Sabtu, 22 Sya’ban1424H/18102003M )

http://www.akhwatmuslimah.com/2012/12/1185/telah-dekat-qiamat-bulan-telah-terbelah/

Isnin, 11 November 2013

Sambungan Bismillah

Sambungan Bismillah - by musafirikhlas


Bagaimana yang dikatakan kasih dan sayang..? Dari mana datangnya rasa..? Cuba dicari rasanya itu di mana..? Adakah ianya datang dari hati..? Cuba dibedah hati itu, apa ada dalam hati itu..? Tiada apa-apa kan..? Nah, ini yang saya mahu bicara bersama teman-teman ilmuan semua, kalau salah mohon dibetulkan, kalau ya pun mohon difikir-fikirkan lagi ya.

Dalam hati itu sebenarnya tiada apa-apa lagi, melainkan kosong sahaja yang didapati, apabila mati-nya jiwa itu maka hilanglah tempat merasa itu, yang kekal adalah hakikat rasa itu, kerana hakikat rasa itu tak akan mati, ia hidup selama-lamanya, jika hati itu dibedah untuk melihat tempat merasa, maka tidak akan dapat ditemukan di situ melainkan kosong, jika kosong itulah Zat tuhan, bererti itu menandakan tuhan semata-mata yang ada, jika demikian siapa yang menyebut “Bismillahi rohmani rohim”..?

Sebenarnya bukan kita yang menyebut “Bismillahi rohmani rohim”, bahkan Allah-lah yang menyebutnya, jika demikian inilah yang dikatakan dengan menyebut “Bismillahi rohmani rohim” sahaja dengan penuh “Rasa yang kosong” maka beg yang kosong boleh berisi penuh dengan wang, ini adalah kisah nyata yang berlaku pada zaman dahulu seorang isteri yang duitnya diambil oleh suaminya, lalu pada ketika ianya hendak mengambil wang dalam simpanannya suaminya mula gementar seluruh badan kerana wang isterinya telah habis disapunya, ketika isterinya hendak mengambil wang dari beg simpanan tadi isterinya menyebut “Bismillahi rohmani rohim” dengan penuh keyakinan, ternyata wang itu masih ada di tempatnya sepertimana dia menyimpannya, walaupun pada hakikatnya suaminya telah mengetahui yang di dalam beg itu sudah tidak ada wang lagi.

Ketahuilah bahawa apabila anda ingin menyebut sahaja “Bismillahi rohmani rohim” rasakanlah sehingga rasa itu menjadi kosong, lalu pada ketika itu bukan lagi anda yang menyebutnya, bahkan Allah-lah yang menyebut-nya, maka segala perbuatan itu tidak kelakuan dirinya melainkan kelakuan Tuhan semata-mata,  maka rasa kasih dan sayang sudah terhimpun semuanya di situ. Jika benar-benar manusia yang berada dalam keadaan ini maka manusia ini benar-benar mengenali erti makna kasih dan sayang itu.

Rasailah bahawa ketika menyebut sahaja “Bismillahi rohmani rohim” maka bukan lagi anda yang menyebutnya atau anda telah lenyap dalam bismillah itu sendiri, mengkin akan ada yang bertanya, habis yang berbunyi ini siapa yang pula yang menyebutnya..? Yang berbunyi itu adalah tempat kenyataan tajallinya tuhan itu sendiri, ketahuilah bahawa yang baharu ini tidak akan dapat menyebutnya jika tidak ada tuhan di sebalik hakikat yang menyebut itu,  mungkin akan ada orang yang bertanya pula, apakah sama tuhan itu dengan yang baharu..? Jawapannya memanglah tidak, tapi harus diingat bahawa yang baharu itu adalah “Af’al” tuhan, yakni perbuatan tuhan, pada af’al ini ialah tempat pada nak menyatakan diri tuhan itu, iaitu tempat kenyataannya, tapi ianya tetap Esa, esa pada Zat-Nya, esa pada sifat-Nya, esa pada asma’-Nya dan esa pada af’al-Nya.

Esa pada af’al-nya ini perlu dijelaskan bahawa asal kejadian “Adam” itu itu tunggal, tidak ada kejadian kedua yang serupa yang Allah ta’ala ulangi, tapi ianya tetap satu yang tiada berbilang, tapi bukan bercampur, bercampur tapi tidak bersatu, tapi bagaimana pula dengan manusia yang banyak..? Ha ha ha….cuba dilihat adakah ianya kejadian yang serupa..? Tidak, kejadian yang seterusnya adalah Allah jadikan melalui nutfah, iaitu setitis mani yang entah di mana tangan dan kakinya, entah di mana mulut dan hidungnya, entah di mana mata dan telinganya, tapi tetap mengikut acuan yang asal, kerana memang sifat air itu boleh mengikuti apa sahaja bentuk acuan, begitu juga dengan kejadian Adam, mengikut kejadian asal, iaitu acuan “Nur Muhammad”.

Rasanya ini sudah sampai kepada perbincangan lain, maka saya tidak berhasrat untuk mengupas-nya lebih lanjut, sebab disini saya ingin berkongsi tentang “Bismillahi romani rohim”, maka ketahuilah saudara-saudaraku, jika hendak belajar ilmu tauhid maka belajarlah hingga sampai ke tauhid yang hakiki, jangan hanya main-main di tengah jalan, umpama hanya berangan-angan hendak ke Mekah tapi tidak pernah sampai, maka ianya tetap dalam angan-angan.

Jangan menganggap tulisan ini tidak hebat ataupun hebat, kerana ianya hanyalah sebuah pandangan, kerana ianya masih bercerita, jika masih bercerita maka ia masih benda baharu, maka ceritalah sampai ke penghujung cerita sehingga tidak ada lagi cerita, maka di situ tiada siapa lagi yang didapati melainkan tuhan semata-mata,  maka tidak ada lagi hebat melainkan Zat Tuhan semata-mata.

Allahua’lam….

http://perjalananmukmin.wordpress.com/2013/11/12/sambungan-bismillah/

Hijrah penting, disebut 28 kali dalam al-Quran

Hijrah penting, disebut 28 kali dalam al-Quran -by epondok 

Gambar hiasan
Orang yang mula-mula menetapkan hijrah sebagai permulaan tarikh dalam Islam ialah Saidina Umar al-Khattab pada masa beliau memegang jawatan sebagai khalifah iaitu pada tahun 17 hijrah.

Beberapa cadangan telah dikemukakan kepada beliau, ada yang mencadangkan tarikh kelahiran Rasulullah, ada pula mencadangkan kebangkitannya menjadi Rasul dan ada pula mencadangkan tahun kewafatan Baginda.

Namun, semua cadangan itu tidak dipersetujui Saidina Umar memandangkan hijrah adalah peristiwa terpenting antara peristiwa lain seperti mana katanya: “Kita membuat tarikh dengan hijrah Rasulullah SAW kerana hijrahnya itu adalah perbezaan antara yang benar dengan yang batil. Pendapat itu disokong oleh Saidina Ali.

Seorang Muslim adalah orang yang tidak merugikan Muslim lainnya dengan lidah, mahupun dengan kedua tangannya. Dan seorang Muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan semua larangan Allah SWT” Riwayat al-Bukhari

Sebenarnya, wujud jalinan antara perkiraan tahun masihi dan hijri (hijrah) kepada umat Islam. Tahun masihi dikira menurut peredaran matahari (tarikh as-Syamsi), sementara perkiraan tahun hijri pula berdasarkan peredaran bulan (tarikh al-Qamari).

Perkiraan tarikh as-Syamsi, al-Qamari

Islam tidak menolak salah satu perkiraan tarikh berkenaan dalam kehidupan manusia. Perkiraan tarikh as-Syamsi adalah untuk menentukan musim atau aktiviti manusia. Daripada tarikh inilah manusia mengenal peredaran musim panas, sejuk, menyemai atau menuai.

Sementara tarikh al-Qamari pula menentukan masa ibadat. Peredaran yang tidak sama antara tarikh as-Syamsi dan al-Qamari menyebabkan umat Islam dapat merasai musim berbeza setiap kali menunaikan ibadat tertentu.

Contohnya musim haji dan puasa. Mungkin pada tahun ini, umat Islam berpuasa atau menunaikan haji dalam musim sejuk, tetapi beberapa tahun kemudian pula dalam musim panas.

Jika dulu hijrah bertujuan mengembangkan Islam dan membina negara Islam, tetapi pengertian hijrah kini lebih menjurus kepada perubahan diri memandangkan umat Islam kini berdepan pelbagai ancaman daripada musuh Islam.

Malah, umat Islam kini juga berdepan permusuhan sesama sendiri apabila masing-masing cuba menegakkan kebenaran dalam perkara yang wujud khilaf sedangkan sewajarnya umat Islam menerima perbezaan pandangan dengan berlapang dada.

Suasana merugikan umat Islam

Sebenarnya, banyak perkara menyebabkan umat Islam kini berada dalam suasana yang hanya merugikan mereka. Peperangan saudara yang berlarutan memberi kepuasan kepada pihak yang takut melihat umat Islam bersatu.

Sedangkan jika umat Islam bersatu, kekuatan mereka mampu mengalahkan musuh. Sudah tiba masanya umat Islam berhijrah daya pemikiran supaya dapat mengikut panduan agama dalam mendepani kehidupan dunia tiada sepadan ini.

Diriwayatkan daripada Abdullah bin Amr, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Seorang Muslim adalah orang yang tidak merugikan Muslim lainnya dengan lidah, mahupun dengan kedua tangannya. Dan seorang Muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan semua larangan Allah SWT.” (Riwayat al-Bukhari)

Hijrah mengandungi hikmah yang besar sekali peranannya dalam pembangunan ummah. Suatu kumpulan masyarakat tidak akan menjadi baik jika setiap individu yang ada di dalamnya telah rosak kerana kumpulan masyarakat bergantung kepada individu itu.

Oleh itu hijrah amat ditekankan al-Quran dan disebutkan sebanyak lebih 28 kali dalam pelbagai bentuk serta makna. Penghijrahan kepada perkara lebih baik menjadikan hati, perkataan dan perbuatan akan bersih daripada segala maksiat, dosa serta syirik.

Kisah Khalifah Umar bin al-Khattab menarik direnungkan kerana sebelum memeluk Islam beliau dikenali dengan jolokan penghulu pelaku kejahatan. Namun, setelah berhijrah, beliau menjadi pemimpin disegani, tawaduk, suka menolong orang miskin.

Hakikatnya, hijrah sangatlah berat kerana di samping harus memiliki kesabaran, kita juga dituntut memiliki keteguhan akidah serta keyakinan supaya tidak mudah termakan pujuk rayu godaan kenikmatan dunia.

http://epondok.wordpress.com/2013/11/04/hijrah-penting-disebut-28-kali-dalam-al-quran/

Mutiara kata dari Ilmuwan Islam

Mutiara kata dari Ilmuwan Islam

Know, dear son, that days are but hours, and hours are but breaths, and every soul is a container, hence let not any breath pass without benefit, such that on the Day of Judgement you find an empty container and feel regret!

Be aware of every hour and how it passes, and only spend it in the best possible way; do not neglect yourself, but render it accustomed to the noblest and best of actions, and send to your grave that which will please you when you arrive to it.

If I were to describe my state, then I am never content with reading books, and when I see a book that I had not seen before, it is as if I have found a treasure. … And if I said that I read 20,000 books, then in truth it would be more, and I was then still a student.

I benefitted from reading those books by observing the lives of the early people, and the extent of their memorization, their determination, their worship, the diversity of their disciplines, of which one would not know had one not read those books. Thus I disliked the current state of people and looked down on the weak determination of students nowadays. And to Allah is all praise.

(Ibn al-Jawzī in his Lafat al-Kabid fī Naṣīḥat al-Walad)


Al-’Abbas al-’Alawi on Giving Priority to What is Important

Know that your mind cannot contain everything, hence dedicate it to the important matters. Know that your money is not sufficient to enrich all people, so devote it to the rightful people. Know that your generosity cannot be enough for all the people, hence seek to reserve it for the people of grace. Know that your night and day cannot satisfy all your needs, even if you strive hard, hence divide them carefully between times of work and times of rest.

For occupying your mind with that which is unimportant is undermining what is important, and the money you spend in useless expenses you will lack when you need it for necessary ones. And the generosity you bestow on those undeserving of it will undermine you when you are unable to bestow it on people of grace. Spend your night and day on unnecessary matters and you will regret it in times of need.

Tips untuk jaga masa dengan baik dari Imam al-Suyuti:

Al-Ḥāfiẓ al-Imām al-Suyūṭī mentioned that he heard his teacher say:
“Hurry, O seeker of knowledge, in three things: eating, walking, and writing.”

Pantun menarik berkenaan menuntut Ilmu:

If you are harmed by the heat of the summer
And the dryness of autumn and the coldness of winter
And you are distracted by the beauty of sprintime
Then tell me: when will you seek knowledge?
(Imām Aḥmad ibn Fāris al-Rāzī)


Ahad, 10 November 2013

AMALAN HINDARI BAHAYA JENAYAH

Amalan hindari bahaya jenayah -by epondok  -Oleh JUANI MUNIR ABU BAKAR



PADA hari ini, negara dikejutkan dengan pelbagai insiden seperti rompakan, tembakan rambang, tikam dan sebagainya sehingga mendatangkan kerisauan dalam kalangan orang awam.

Apatah lagi kes tikam berlaku baru-baru ini di tempat awam sehingga meragut dua nyawa dan sehari sebelum itu, seorang pegawai bank ditembak oleh pengawal keselamatan gara-gara kerana ingin merompak wang adalah satu tragedi yang bermain di minda masyarakat sehingga hari ini.

Bermula daripada beberapa siri kejadian itu, orang ramai termasuklah pihak keselamatan iaitu Polis Diraja Malaysia (PDRM) meningkatkan soal waspada agar kes itu tidak berulang kembali.

Mungkin daripada segi waspada, antara tindakan yang boleh dilakukan adalah tidak melalui di kawasan sunyi pada waktu malam, menjauhi individu yang mencuriga kan dan melaporkan segera kepada polis jika situasi tersebut berlaku.

Namun demikian, tindakan berkenaan merupakan adalah satu ikhtiar tetapi segala pokok pangkalnya ialah tawakal kepada Allah SWT iaitu memohon perlindungan kepadanya agar dijauhkan segala bencana dan musibah.

Sehubungan itu, Islam menggariskan panduan kepada umatnya jika berhadapan dengan musibah dan bencana khususnya ketika kes rompakan, rumah dimasuki pencuri dan sebagainya.

Pertamanya, anda tidak perlu gelabah atau kelam-kabut sehingga mendatangkan huru-hara lalu menyebabkan penjenayah mensasarkan kita sebagai mangsa pertama. Ingatlah kepada Allah bahawa hanya dengan bantuannya kita boleh terselamat.

Keduanya, segera menghubungi polis sama ada melalui telefon atau menggunakan beberapa aplikasi seperti RakanCop yang terdapat pada hari ini.

Tetapi biarlah telefon anda disimpan nombor telefon polis berhampiran agar tidak tercari-cari ketika insiden berlaku.

Ketiga, amalkan ayat-ayat al-Quran dan doa Rasulullah sebagai benteng pertahanan diri iaitu:

1- Membaca surah al-Fatihah. Dalam satu hadis riwayat Abu Said al-Khudri menjelaskan terdapat satu kumpulan sahabat Rasulullah pergi musafir.

Dalam perjalanan itu, mereka singgah di sebuah perkampungan Badwi dan meminta makanan kepada kepada para penduduknya, namun enggan memenuhi permintaan itu.

Lalu tidak lama kemudian, ketua kampung telah disengat binatang, akan tetapi usaha mengubatinya gagal walaupun pelbagai kaedah untuk menyembuh dilakukan.

Sesetengah dalam kalangan mereka mencadangkan agar meminta pertolongan kumpulan orang Islam yang singgah di kampung tadi.

Lalu para penduduk menemui anggota rombongan itu untuk meminta hajat itu, lalu kumpulan berjanji akan menolong kecuali setelah berjanji memberi upah.

Rombongan itu bersetuju atas permintaan tadi untuk memberi beberapa ekor kambing. Orang Islam yang berkenaan datang menemui ketua kaum yang sedang sakit, lalu dihembus dengan air ludah pada tempat yang sakit tadi sambil membaca ‘Alhamdulillah.’

Dalam satu riwayat lain disebutkan bahawa doa yang dibaca ialah surah al-Fatihah.

2- Membaca surah tiga Kul iaitu surah al-Ikhlas, al-Falaq dan al-Anas. Baginda menggalakkan kita membaca ketiga-tiga surah ini berdasarkan sepotong hadis Riwayat al-Timizi iaitu:

“Setelah turunnya dua surah ini, Rasulullah mencukupkan kedua-duanya dengan Surah al-Ikhlas sebagai bacaan (wirid) untuk membentengi dari pandangan buruk jin maupun manusia.”

3- Membaca ayat Kursi. Rasulullah SAW pernah bersabda: “Sesiapa yang membaca ayat Kursi setiap kali selepas solat, maka tiada siapa yang dapat menghalangnya dari memasuki syurga.” (riwayat an-Nasaie dan at-Tabrani)

4- Membaca doa ini, ‘Bismillahillazi La Yadhurru Ma‘asmihi Syai un Fil Ardi Wala Fisamaie, wa huwas Samiul Alim.’

Nabi Muhammad SAW menganjurkan membaca doa ini seperti sabdannya bermaksud: Tiada seorang hamba pun yang berkata setiap pagi dan petangnya. Dengan nama Allah yang tiada siapa mampu memudaratkan dengan nama-Nya sama ada di dunia mahupun langit dan Dialah Maha Mendengar Lagi Maha Mengetahui sebanyak tiga kali, kecuali tiada apa yang mampu memudaratkannya.” (Sahih Muslim).

http://pondokhabib.wordpress.com/2013/11/09/menentukan-amal-shaleh-dengan-hari-hari-tertentu/

Ibadat terjemah kasih sayang kepada Ilahi

Ibadat terjemah kasih sayang kepada Ilahi - by epondok 
Gambar hiasan
Abu Hurairah berkata: “Saya mendengar Rasulullah bersabda: Allah menjadikan perasaan belas kasihan sebanyak 100 bahagian. Allah menyimpan 99 bahagian untuknya dan menurunkan satu bahagian saja ke bumi. Daripada satu bahagian itulah makhluk ciptaan Allah saling berkasih sayang, sehingga seekor haiwan mengangkat kakinya kerana bimbang terpijak.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Diriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda: “Allah ada 100 perasaan belas kasihan.
Dia menurunkan satu belas kasihan saja kepada jin, manusia, haiwan dan serangga. Dengan satu belas kasihan itulah mereka saling menyayangi dan mengasihani antara satu sama lain. Dengan satu belas kasihan itu juga haiwan buas menyayangi anaknya. Allah menangguhkan 99 lagi perasaan kasihan bagi mengasihani hamba-Nya pada hari kiamat nanti.” (Riwayat Bukhari dan Muslim) Sentiasa bersyukur

Nikmat, rahmat dan kebahagiaan hidup dinikmati manusia hanyalah satu daripada 100 kasih sayang Allah SWT. Maka, bayangkan bagaimana keadaan manusia jika Allah SWT mencurahkan semua kasih sayang serta belas kasihan-Nya.

Justeru, hendaklah umat manusia bersyukur dengan kasih sayang Allah SWT dan sentiasa menterjemahkan perasaan itu melalui amal perbuatan seharian. Andainya ada antara kita melakukan dosa kepada Allah SWT, bertaubatlah kerana belas kasihan Allah SWT amat luas.

Firman Allah SWT bermaksud: “Katakanlah, wahai hambaku yang melampaui batas kepada diri sendiri, janganlah kamu berputus asa daripada rahmat Allah, kerana sesungguhnya Allah mengampunkan setiap dosa. Sesungguhnya Dia-lah juga yang Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.” (Surah az-Zumar, ayat 53).

Umat Islam diingatkan supaya bersegera bertaubat apabila menyedari diri melakukan kesalahan dan jangan sekali-kali beranggapan Allah SWT tidak akan mengampunkan dosa kerana Allah SWT suka kepada hamba-Nya memohon ampun.

Sentiasa Terima Taubat

Abu Musa berkata, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Allah yang Maha Tinggi menghulurkan tangan-Nya pada waktu malam bagi menerima taubat orang yang berdosa pada waktu siang dan menghulurkan tangan-Nya pada waktu siang bagi menerima taubat orang yang berdosa pada waktu malam. Sehinggalah matahari terbit dari arah barat iaitu saat berlakunya kiamat.” (Riwayat Muslim)



Isnin, 4 November 2013

Doa Akhir Tahun dan Awal Tahun.. Haramkah membacanya?

Doa Akhir Tahun dan Awal Tahun.. Haramkah membacanya?
Oleh : Ustaz Syed Abdul Kadir al Joofre

Terbaca di beberapa blog dan forum baru-baru ini, memandangkan hampirnya kita memasuki tahun baru Hijrah, berkemundang sekali lagi seruan bahawa bacaan Doa Akhir Tahun dan Awal Tahun merupakan satu bid’ah yang jelas haram di sisi Islam. Benarkan apa yang dihebohkan ini? Kalau benar mengapa saban tahun setiap jabatan agama negeri tidak pernah menghalang sambutan ini? Adakah tok mufti dan semua ustaz yang berada di setiap jabatan agama ni bersekongkol dalam kesesatan? Sama-sama kita kaji..

Biasanya apabila kita tidak mengetahui asas bagi satu masalah, maka kita akan mudah membuat keputusan yang salah. Asas dan sebab bagi satu masalah merupakan kunci bagi kita untuk mendapatkan jawapan bagi masalah tersebut. Di sini kita perlu mengkaji dua masalah. Mengapa dibaca doa akhir dan awal tahun. Seterusnya mengapa pula satu golongan lagi cuba untuk mengharamkan perbuatan ini.

Asas pendapat pertama

kita lihat dari sudut amalan para ulamak berkurun lamanya bukan sahaja di nusantara malahan di banyak lagi tempat di dunia, yang mengamalkan berdoa di akhir dan awal tahun. Apakah asas mereka? Jawapannya yang ringkas, bukankah kita semua mengetahui bahawa beredarnya bulan dan tahun ini merupakan tanda kekuasaan Allah? Maka tidak layakkah kita sebagai hamba yang lemah memuji Allah apabila kita memerhatikan kebesaranNya? Seterusnya, bukankah molek kalau kita akhiri akhir tahun kita dengan memohon ampun atas kesalahan kita sepanjang tahun lalu, dan seterusnya memulakan awal tahun baru, dengan berdoa kepada Allah agar tahun yang mendatang dipenuhi rahmah dan maghfirahNya? Doa itu senjata mukmin. Maka gunakanlah senjata ada sebaik mungkin.

Asas pendapat kedua.

Bid’ah dholalah (atau kata mereka bid’ah secara mutlak) adalah mengadakan sesuatu yg baru yang tiada asasnya langsung dalam agama. Itu kata kita. Ada di kalangan mereka yang menyalah erti bahawa bid’ah adalah sesuatu urusan agama yang tidak dilakukan oleh Rasulullah s.a.w. Namun sangkaan ini amat tersasar dari kebenaran berdasarkan terlalu banyak dalil menunjukkan keharusan perkara dalam agama yang tidak dilakukan oleh Rasulullah seperti menghimpunkan Al-Quran dan azan solat jumaat sebanyak dua kali yang dilakukan oleh Saiyidina Usman. Maka diistilahkan pula oleh Imam Syafie dan para mujtahidin yang lain perkara ini sebagai bid’ah hasanah. Malah diklasifikasikan pula oleh Imam Nawawi bid’ah kepada 5 hukum taklifi yang ada. Mereka kata klasifikasi ini klasifikasi dari sudut bahasa, namun jika kita kaji bid’ah dari segi bahasa bukanlah yang dimaksudkan oleh Imam Syafie dan yg lain, tetapi bid’ah dalam agama.

Apapun yang diistilahkan kita sepakat mengatakan bahawa perkara yang dibaharukan yang tiada asasnya langsung dalam agama hukumnya haram dan bid’ah yang dholalah. Nah, sekarang mereka membuat pula satu kaedah. Jika satu ibadat itu dilakukan pada satu waktu tertentu atau hari tertentu atau bilangan tertentu tanpa ada hadis yang warid dari Rasulullah s.a.w. maka ianya dikira sebagai bid’ah (baca bid’ah dholalah) dan haram. 2 asas inilah yang dipegang menjadikan bacaan doa akhir dan awal tahun sebagai haram.

Maka apa pula komentar bagi kedua-dua hujjah kedua-dua golongan ini ya?

Perbincangan bagi hujjah pendapat yang pertama.
Dikatakan bahawa memuji Allah apabila memerhatikan kebesaran-Nya. Benar. Namun cara kita menunjukkan pujian dan bersyukur itu perlukan petunjuk dari Allah dan Rasul-Nya s.a.w. Bukannya mengikut fikiran kita semata-mata. Adakah berdoa tersebut cukup untuk menghapuskan segala dosa yang berlaku di sepanjang tahun. Kalau begitu mudahla, Buat dosa banyak-banyak. Akhir tahun doa jelah. Lagipun kalau doa ni pun da bid’ah dan berdosa, sebenarnya bukan hapuskan dosa tapi tambahkan dosa lagi.

Jawapan kepada perbincangan ini.

Cara kita menunjukkan pujian dan bersyukur adalah diharuskan selagi mana tidak melanggar syara’. Sebanyak mana pun kita bersyukur takkan cukup dengan nikmat yang Allah beri. Lagipun kita bukan bersyukur mengikut fikiran kita semata-mata, tetapi berdasarkan kepada petunjuk Allah dan Rasul-Nya jugak kan. Bukankah berdoa ini satu cara yang ditunjukkan dan diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Bukannya kita sambut dgn konsert atau pertunjukkan bunga api.

Berkenaan doa boleh menghapuskan dosa atau tidak tersebut, urusan tersebut diserahkan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang memerintah kita supaya berdoa dan Dialah yang memakbulkan doa dan mengampunkan dosa. Ini merupakan usaha kita yg diperintah oleh-Nya. Hujjah buat dosa banyak2 kemudian berdoa adalah hujah yang dangkal, kerana tiada siapa yang mengetahui selama mana hayatnya. Juga ia seolah-olah mempermain-mainkan mereka yang berdoa setiap hari agar diampunkan oleh Allah. Mengapa tidak tunggu tua sahaja baru berdoa. waktu muda buat dosalah banyak2. Hujah yang amat cetek dan tidak perlu dihiraukan, tetapi perlu dijawab kerana banyak antara mereka yang cetek ilmu, tapi mengaku berilmu. Semua kita sepakat bahawa melakukan perkara yang dilarang oleh syarak secara pasti dan mesti adalah haram. Jadi mengapa perlu dipersoalkan perkara begini. Tetapi kita sebagai manusia yang tidak maksum pasti tidak akan lari dari kesalahan. Jadi kita perlu dari masa ke semasa meminta pengampunan dari Allah s.w.t. Niat melakukan dosa dengan harapan berdoa di waktu lain agar diampunkan adalah niat yang jelas salah dan terlarang.

Perbincangan hujjah pendapat yang kedua pula.

Perbincangan hujjah pendapat yang kedua. Apakah asas-asas yang diiktiraf dalam menentukan hukum dan adakah doa ini tiada asasnya langsung dalam agama? Para ulamak telah berselisih dalam perkara ini, namun mereka sepakat menentukan bahawa Al-Quran, Assunnah, Ijma’ dan Qias secara umumnya adalah asas dalam menentukan hukum. (kecuali beberapa ulamak zahiri dan syiah yang menolak terus qias). Mereka pula hanya menganggap Al-Quran dan Assunnah dan ijtihad para mujtahidin berdasarkan dua sumber ini merupakan asas. Walaubagaimanapun kedua-dua masalah ini tidakla jauh bezanya jika difahami dengan betul. Jadi persoalan sekarang adakah di sana asas bagi doa ini dibaca?

Secara ringkasnya asas bagi berdoa secara umumnya adalah ayat-ayat Alquran dan Assunnah yang terlalu banyak menerangkan perintah berdoa tak kira masa dan tempat. Perintah2 ini tidak boleh kita khususkan kepada doa yang warid dalam alquran dan sunnah semata-mata, kerana ia dikira sebagai mengkhususkan sesuatu yg umum tanpa pengkhususnya. Selain itu warid dari Hadis2 dan asar para solihin keharusan berdoa selain dari yg warid mengikut keperluan kita asalkan tidak bercanggah dengan syarak.

Asas seterusnya dalam berdoa ini adalah berdasarkan maslahah (yang juga sumber perundangan hukum islam). Maslahah yang rajihah (yang boleh diguna pakai) dalam perkara ini ditentukan oleh para ulamak terdahulu bukan menurut pemikiran kita semata. Maslahah ini lebih jelas di zaman kita yang mana ramai di kalangan masyarakat kita sudah jauh dari ajaran Islam dan tidak reti berdoa lagi. Malah di tahun baru ini pun mereka tanpa segan silu membuat kemaksiatan. Bukankah molek jika kita menyeru mereka berdoa di waktu begini?

Jadi apabila ada asas-asas yang disebutkan maka kita tidak boleh menyebut amalan berdoa ini sebagai satu perkara bid’ah yang sesat. Malah boleh kita masukkannya di dalam bid’ah hasanah yang disebutkan oleh Imam Syafie.

Mereka juga menyatakan bahawa sesutu ibadat seperti zikir dan doa itu perlu menyamai Rasulullah dari sudut bilangan, masa, hari dan tempat. Sesuatu yang bercanggah dengan salah satu darinya adalah haram. Kita pula menjawab, di manakah dalil kepada penyataan ini? Ulamak terdahulu tidak pernah membuat kaedah sebegini. kaedah yang ada adalah, ibadat tidak menyalahi dari apa yang Rasulullah tunjukkan. Jangan Rasulullah bersolat subuh 2 rakaat kita bersolat 3 rakaat, kerana nak pahala lebih. Itu yang salah. Adapun berdoa dan berzikir di waktu yang tidak warid Rasulullah berzikir pada waktu tersebut adalah tidak diharamkan. Kerana Rasulullah sendiri sentiasa berzikir dan berdoa. Selain itu perintah berzikir berdoa tidak pernah mengkhususkan masa dan tempat. Tiada salahnya jika kita hanya mengaji Al-Quran selepas maghrib setiap hari dan memerintahkan pula anak-anak kita berbuat sedemikian, walaupun tidak warid dalam hadis Rasulullah ada mengkhusukan begitu. Itu kita sepakat bukan. Jadi mengapa kita mengkhususkan pula sebelum maghrib akhir zulhijjah untuk berdoa dikira sebagai sesuatu perbuatan yang haram?

Hujjah mereka seterusnya adalah kebaikan sesuatu perkara adalah berdasarkan al-Quran dan As-sunnah. Maka kita katakan bahawa kebaikan berdoa ini juga adalah berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah yang menyuruh kita berdoa tanpa mengira waktu dan tidak pernah pula melarang kita berdoa di waktu2 tertentu. Maka kita simpulkan bahawa berdoa awal dan akhir tahun ini merupakan perkara yang baik menurut syara’. Bid’ah mustahabbah kata Imam Nawawi.

Kesimpulan:

Doa di awal dan akhir tahun merupakan sesuatu perkara yang baik dan harus dilakukan oleh setiap lapisan masyarakat, namun ia bukanlah perkara yang wajib. Anda hendak berdoa, berdoalah di setiap waktu dan ketika. Setiap waktu dan ketika itu termasuk juga padanya doa di awal dan akhir tahun. Berdoalah semoga dosa kita di tahun yg lalu diampunkan dan amalan kita diterima. Jua berdoalah moga di tahun baru ini kita dibantu melawan syaitan, nafsu yang menyeru kejahatan serta dibantu melakukan amal ibadat sebanyak mungkin.

Wallahu A’lam

Wasallallahu ‘Ala Saiyidina Muhammad Wa’ala Alihi Wasohbihi Ajma’in, Walhamdulillahi Rabbil ‘Alamin

Sumber :
1. http://aljoofre.blogdrive.com/archive/10.html
2. http://aljoofre.blogdrive.com/archive/11.html

Biodata Penulis :
Pengkhususan : Ijazah Sarjana Muda (Kepujian) dalam bidang Syariah dari Universiti Al-Azhar, Mesir dan seterusnya meyambung Sarjana Syariah juga di Mesir (Feqh Perbandingan Mazhab) (kajian bertajuk: Hukum hakam Masjid : Kajian Perbandingan.

Kisah Juha Dan Setengah Cambukan

Suatu hari, Juha berhasil menangkap seekor ikan besar yang sangat langka. Ia pun berniat untuk mempersembahkan ikan tersebut kepada sultan d...