Memaparkan catatan dengan label KiSaH-KiSaH BeNaR. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label KiSaH-KiSaH BeNaR. Papar semua catatan

Selasa, 7 Januari 2014

KisAh AGUNG ISKANDAR ZULKARNAIN

 Kisah agung nabi Iskandar Zulkarnain
Gambar hiasan
Dialah Raja Muslim yang sangat berkuasa namun soleh. Daerah taklukannya membentang dari bumi bahagian barat sampai timur. Ia mendapat gelaran Iskandar "Zulkarnain". "Zul", ertinya "mempunyai", Qarnain, artinya "Dua Tanduk". Maksudnya, Iskandar yang mempunyai kuasa antara timur dan barat.

Dia juga telah membina dinding besar berteknologi tinggi untuk saiz saat itu , diantara dua Gunung . Para ahli sejarah meyakini , dinding tersebut diperbuat daripada besi yang dicampur dengan tembaga itu terletak tepat di pengunungan Kaukasus . Daerah itu kini disebut Georgia , negara pecahan Uni Soviet .

Secara topografis , deretan pegunungan Kaukasus itu memang terlihat memanjang dari laut Hitam sampai ke laut Kaspia sepanjang 1,200 kilometer tanpa celah . Kecuali pada bahagian kecil sempit yang disebut celah Darial sepanjang 100 Meter kurang lebih . Pada bahagian celah itulah Zulkarnain membina tembok penghalang dari Ya'juj dan Ma'juj .

Kisah ketokohan Iskandar Zulkarnain ini juga tertulis dalam catatan sejarah orang - orang barat . Dalam catatan tersebut diceritakan bagaimana ia berjaya meluaskan daerah taklukannya dalam masa yang sangat singkat . Oleh kerana kejayaannya ini , ia diberi gelar " Alexander The Great " , Alexander Yang Agung " . Belakangan cerita ini diadaptasi ke filem skrin lebar oleh Pengarah Amerika Syarikat , Oliver Stone , dengan judul Alexander The Great .

Namun cerita dari orang - orang barat tersebut sangat bertentangan dengan yang disebutkan dalam Al - Qur'an . Para Mufasir menyatakan , " Alexander The Great " adalah orang yang berbeza dengan tokoh yang di tulis dalam Al - Qur'an , Yakni , Iskandar Zulkarnain . Alexander Thr Great itu dalam sejarahnya tidak diberitakan pernah membina sebuah dinding besar berteknologi tinggi untuk saiz saat itu , yang dibuat dari besi bercampur tembaga . Bahkan , ia adalah seorang musyrik . Sejarah tidak mencatatnya sebagai seorang Raja Muslim yang taat kepada agama Tauhid .

Sejarawan Muslim yang juga ahli tafsir , Ibnu Katsir , dalam kitabnya Al - Bidayah Wan Nihayah menjelaskan , meski punya nama yang sama dan plot cerita yang sama , iaitu kekuasaannya membentang dari Barat sampai ke Timur , kedua-duanya adalah sosok yang berbeza . Antara mereka terbentang jarak dan waktu sampai 2000 tahun . " Hanya mereka yang tidak memahami sejarah yang boleh diperbodohkan oleh identiti kedua orang itu , " katanya .

Ibnu Kathir lebih jauh menjelaskan , Zulkarnain adalah nama gelar atau nama samaran seorang panglima penakluk sekaligus Raja soleh . Kerana kesalehannya ia selalu mengajak manusia untuk menyembah Allah . Namun mereka ingkar , malah memukul tanduknya - Qarnun , yaitu rambut kepala yang di ikat - sebelah kanan , hingga ia mati . Lalu Allah menghidupkannya kembali , dan ia pun kembali berdakwah . Tetapi sekali lagi tanduknya yang kiri dipukul , sehingga ia mati lagi . Allah SWT menghidupkan kembali dan menggelarnya Zulkarnain , pemilik duaTanduk , serta memberinya kuasa .

Cerita yang sama juga di jumpai dalam kitab Jami Al - Bayan fi Tafsir Al - Qur'an , karangan Syeikh Al - Aiji Asy - Syafi'i . Dalam kitab tersebut disebutkan , Zulkarnain adalah seorang hamba yang taat kepada Allah dan mengajak kaumnya menyembah Allah . Lalu mereka memukul tanduknya yang kanan hingga mati . Kemudian Allah menghidupkannya lagi , dan dia kembali mengajak kaumnya mengesakan Allah . Tetapi mereka malah memukul tanduknya yang kiri hingga mati lagi . Lalu Allah menghidupkannya lagi dan menganugrahinya kuasa yang tak tertandingi . Oleh kerana itu ia digelar Zulkarnain .

Di samping kedua kitab tersebut , Mufassir Muslim Ibnu Jarir At-Tabari juga mengisahkannya dalam kitab tafsir Ath - Thabari . Dikatakan , Iskandar Zulkarnain adalah seorang laki - laki yang berasal dari Romawi , ia anak tunggal seorang yang paling miskin di antara penduduk bandar . Namun dalam pergaulan sehari - hari , ia hidup dalam lingkungan kerajaan , bergaul dengan para perwira dan berkawan dengan wanita - wanita yang baik dan berbudi serta berakhlak mulia .

Imam Al - Qurtubi dalam kitab tafsir Al - Qur'annya yang popular , Tafsir Al - Qurtubi , menceritakan , sejak masih kecil dan masa pertumbuhannya Iskandar berakhlak mulia . Melakukan hal - hal yang baik sehingga terangkat nama baiknya . Ia juga menjadi mulia di kalangan kaumnya , sehingga Allah berkenan memberinya kewibawaan .

Selepas mencapai usia akil baligh , Iskandar menjadi seorang hamba yang soleh , sehingga Allah berfirman , " Wahai Zulkarnain , Sesungguhnya aku mengutusmu kepada umat - umat di bumi . Mereka adalah umat yang berbeza - beza bahasanya dan mereka adalah umat yang berada disegala penjuru bumi . Mereka terbahagi dalam beberapa golongan . "

Mendapat amanat tersebut , Zulkarnain lalu berkata , " Wahai Tuhanku , Engkau telah menugasiku melakukan seuatu perkara yang aku tidak kuasa melakukannya kecuali engkau sendiri , maka beritahukan kepadaku tentang umat - umat itu , dengan kekuatan apa aku boleh melawan mereka ? Dengan kesabaran apa aku boleh menahan mereka ? Dan dengan bahasa apa aku harus bicara dengan mereka ? Bagaimana pula aku boleh memahami bahasa mereka sedangkan aku tidak mempunyai kemampuan . "

Kemudian Allah SWT berfirman " Aku membebanimu sesuatu yang kamu mampu melakukannya , aku akan melapangkan pendengaran dan dadamu hingga kamu boleh mendengar dan memperhatikan segala sesuatu . Memudahkan pemahamanmu sehingga kamu boleh memahami segala sesuatu , meudahkan lidahmu , hingga kamu boleh bercakap tentang sesuatu , membukakan penglihatanmu , sehingga kamu boleh melihat segala sesuatu , melipatgandakan kekuatanmu hingga tak terkalahkan oleh sesuatu apapun , menyingsingkan tangan kamu , sehingga tidak ada sesuatu pun yang berani meyerangmu , menguatkan hatimu , sehingga kamu tidak takut pada apapun , menguatkan kedua tanganmu hingga kamu boleh menguasai segala sesuatu , menguatkan pijakanmu hingga kamu boleh mengatasi segala sesuatu , memberi kemuliaan hingga tidak ada apa-apa yang menakutimu , menundukkan untukmu cahaya dan kegelapan dan menjadikan salah satu tentaramu . Cahaya itu akan menjadi petunjuk di depanmu , dan kegelapan itu akan berkeliling di belakangmu .

Sejak kecil , Iskandar sudah tidak senang melihat peperangan antara timur , yaitu kerajaan Parsi , dan Barat , Kerajaan Romawi . Perang itu tak ada henti dari tahun ke tahun , malah dari abad ke abad . Ribuan manusia tewas , kerugian harta benda tak terhitung lagi jumlahnya , apalagi kerosakan lingkungan hidup , merugikan manusia itu sendiri .

Untuk menghentikan permusuhan antara timur dan barat , Iskandar bercita - cita mendirikan sebuah kerajaan yang dapat menyatukan wilayah timur dan barat .
Iskandar pun tumbuh menjadi manusia dewasa yang soleh , berakhlak dan berbudi tinggi . Atas segala kesalehannya itu , Allah mengaruniakan kepadanya segala kelebihan yang dimiliki oleh seorang pemimpin , lalu Allah memerintahkan untuk menyeru manusia kepada agama tauhid .

Mula - mula dengan tentaranya yang lengkap dan kuat , dia menuju ke barat wilaya Maghribi , tempat terbenamnya matahari . Dilihatnya matahari itu terbenam di mata air yang berlumpur , lautan Atlantik sekarang ini .

Di situ ia bertemu dengan bangsa yang senantiasa berbuat kerosakan dan kejahatan . Bukan saja merosakkan permukaan bumi dan mengacaukannya , tetapi juga sudah menjadi tabiat mereka suka membunuh orang - orang yang tidak bersalah sekalipun . Bahkan mereka tidak beragama .

Sebelum melakukan tindakan , terlebih dahulu Iskandar menadahkan tangannya ke langit , memohon petunjuk kepada Allah , tindakan apa sebaiknya yang harus dilakukan terhadap bangsa yang begitu kejam , apakah bangsa itu akan digempurnya habis - habisan , atau akan dibiarkan begitu sahaja ?

Allah lalu memberinya dua pilihan : digempur habis - habisan sebagai balasan atas kekejaman mereka , atau di ajar dan didik agar mereka kembali kepada kebenaran dan menyembah Allah serta meninggalkan segala kejahatan .

Iskandar Zulkarnain memutuskan menggempur mereka yang derhaka dan jahat , sedangkan orang yang baik akan dilindungi . Sebelumnya ia berkata kepada bangsa tersebut , " Siapa yang aniaya , akan kami siksa dan dikembalikan kepada Tuhan , agar Tuhan memberikan siksa yang lebih pedih lagi . Adapun orang - orang yang soleh dan baik , akan kami lindungi , dan kepadanya kami hanya akan memerintahkan kewajiban - kewajiban yang ringan . "

Kemudian tenteranya bergerak menewaskan setiap orang yang kejam , melindungi setiap orang yang baik . Akhirnya negeri itu dapat diamankan dan di tentramkan serta di atur sebaik - sebaiknya , penuh dengan kehidupan bahagia dan makmur ,
Setelah selesai menunaikan kewajiban terhadap bangsa dan negeri itu , Iskandar dengan tentaranya menuju ke arah timur , India . Dilihatnya matahari di atas bangsa yang musyrik , yang menyembah banyak tuhan , yaitu bangsa Hindustan .

Bangsa dan negeri itu pun dapat ditaklukkan , diamankan dan ditentramkannya , serta diatur sebaik - baiknya sehingga setiap orang dapat merasakan hidup aman , tenteram dan bahagia . Bangsa itu juga dapat dikeluarkan dari lembah kesesatan .

Selesailah sudah kewajibannya terhadap bangsa dan negeri itu . Ia lalu menuju ke utara , negeri Armenia , melalui Parsi dan Azarbaijan . Kemenangan demi kemenangan dicapainya selama dalam perjalanan itu , akhirnya sampailah di suatu tempat , di sana ia bertemu dengan suatu bangsa yang selalu dalam ketakutan dan ke khawatiran , kerana ternyata negeri itu berbatasan dengan bangsa Ya'juj dan Ma'juj yang terkenal kuat dan kejam . Bukan sekali dua kali saja , tetapi seringkali bangsa Ya'juj dan Ma ; juj itu datang menyerang mereka , menghancurkan apa saja yang didapatinya dan membunuh siapa saja yang dijumpainya .

Kedatangan Iskandar ini , mereka sambut dengan segala kehormatan dan kegembiraan , kerana mereka tahu dari kabar yang beredar bahawa Iskandar adalah Raja yang kuat dan paling adil di muka bumi ini .

Lalu mereka meminta bantuan kepada Iskandar , agar dilindungi dari serangan Ya'juj dan Ma'juj . Mereka memohon supaya antara negeri mereka dan negeri Ya'juj dan Ma'juj dibangun dinding raksasa yang tidak dapat ditembusi . Sebagai balasan mereka sanggup membayar mahal Iskandar .

    Mendengar permohonan itu , Iskandar Zulkarnain menjawab , " Saya tidak mengharapkan upah dari kalian , nikmat dan pemberian Tuhanku lebih berharga daripada upah itu . Hanya kepada kalian saya minta kaum pekerja dan alat - alatnya : besi , tembaga , arang batu dan kayu . "

Setelah semuanya terkumpul , ia mula bekerja dengan bantuan para pekerja . Mula - mula menyalakan api dengan kayu dan arang batu , diambilnya besi , lalu dileburkannya dengan api , selepas besi itu cair , dituangkannya tembaga , dan dikacau menjadi satu . Dengan bahan campuran inilah di dirikan dinding raksasa antara negeri itu dan negeri Ya'juj dan Ma'juj . Dinding besi raksasa itu tidak dapat di tembus dan di lubangi oleh sesiapa dan oleh apapun .

    " Dinding ini adalah rahmat dari Tuhan kepada kalian , hanya tuhanlah yang dapat menembus dinding ini , jika dikehendakinya , " kata Iskandar . Maka aman dan tentramlah negeri tersebut .

Iskandar Zulkarnain dapat menaklukkan negeri - negeri yang terbentang antara timur dan barat . Dengan demikian cita - citanya untuk menyatukan kerajaan di timur dan barat tercapai . Negeri yang berada di bawah kekuasaannya , antara lain Maghribi , Rom , Yunani , Mesir , Parsi dan India.

Berkat ilmu dan pengetahuannya yang luas , serta dasar ketuhanan yang selalu dipagang teguh dalam mendirikan kerajaan yang besar itu . Penduduknya hidup dengan aman , tentrem dan makmur . Kebesaran dan kejayaan itu tidak membuatnya buta dan lupa akan nikmat yang diberikan Allah SWT .

Menurut Khair Ramdhan Yusuf , dalam bukunya Iskandar Zulkarnain , Panglima Perang , penakluk dan pemerintah yang saleh , kajian terperinci menurut Al - Qur'an , Sunah dan Sejarah , terbitan Malaysia , ada empat sosok yang berkaitan dengan nama Iskandar Zulkarnain . Yaitu , Iskandar Macedonia , Zulkarnain Al - Hamiri , Raja Himyar , seorang lelaki soleh pada zaman Nabi Ibrahim , dan Kursh Al - Akhmini Al - Farisi .

Walaupun begitu kita dapat membaca dengan jelas kisah Iskandar Zulkarnain ini dalam Al - Qur'an Surah Al - Kahfi ayat 83 hingga 98 , yang bermaksud , " Mereka akan bertanya kepadamu Muhammad , tentang Zulkarnain . Katakanlah , " Aku akan bacakan kepadamu cerita tentangnya . "
" Sesungguhnya kami telah memberi kekuasaan kepadanya di bumi , dan kami telah menberikan kepadanya jalan untuk mencapai segala sesuatu , maka ia pun menempuh jalan tersebut . Hingga apabila telah sampai ke tempat terbenamnya matahari , ia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam , dan ia mendapatinya di situ segolongan umat " .

    Kami berkata , " Hai Zulkarnain kamu boleh menyiksa atau berbuat kebaikan terhadap mereka . "
Berkata Zulkarnain , " Adapun orang yang aniaya , kami kelak akan mengazabnya , kemudian ia kembali kepada Tuhannya , lalu Tuhan mengazabnya dengan azab yang tiada taranya . Adapun orang yang beriman dan beramal soleh , baginya pahala yang terbaik sebagai balasan , dan akan kami titahkan kepadanya yang mudah dari perintah - perintah kami . "

Kemudian ia menempuh jalan lagi , hingga apabila telah sampai ke tempat terbitnya matahari ia mendapati matahari yang menyinari segolongan umat yang kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari matahari itu . "

Demikianlah , dan sesungguhnya ilmu kami meliputi segala apa yang ada padanya , Zulkarnain . Kemudian ia menempuh suatu jalan lagi , sehingga apabila telah sampai di antara dua buah gunung ia mendapati kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan .

Mereka berkata , " Hai , Zulkarnain sesungguhnya Ya'juj dan Ma'juj itu orang - orang yang membuat kerosakan di muka bumi , maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu , supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka ? "

Zulkarnain berkata , " apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku adalah lebih baik , maka tolonglah aku dengan kekuatan agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka , berilah aku potongan - potongan besi . "

Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua gunung itu , berkatalah Zulkarnain ," Tiuplah dan katika besi itu sudah menjadi api , ia pun berkata , berilah aku tembaga untuk aku tuangkan ke atas besi panas itu . "

Maka mereka , Ya'juj dan Ma'juj tidak dapat memanjat tembok itu , dan mereka tidak boleh melubanginya .

Zulkarnain berkata , " Ini adalah rahmat dari Tuhanku . Maka apabila sudah datang janji Tuhanku , dia akan menjadikannya hancur luluh , dan janji Tuhanku itu adalah benar . "

Sungguhpun kuasa dan keperkasaannya tak tertandingi , akhlak dan hatinya selembut sutera , hingga karenanya ia mudah menyerap bukti kebenaran Ilahi . Imam Al - Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin , menceritakan , suatu ketika Iskandar Zulkarnain mendatangi suatu kaum yang tidak mempunyai harta benda apapun yang boleh di nikmati . Lalu ia menghantar surat kepada Raja mereka dan berpesan agar Raja bersedia membalas suratnya .

Namun Raja itu menolak permintaan Zulkarnain , malah sebaliknya , ia berkata , jika Zulkarnain merasa ada kepentingan dengannya , sebaiknya dialah yang datang menemuinya .

    Maka Zulkarnain pun pergi menemui Raja mareka , " Aku telah menghantar surat kepadamu dan memintamu datang kepadaku , tetapi kamu menolak , maka aku datang kepadamu , " kata Zulkarnain setelah sampai di istana Raja .

    Sang Raja pun berkata , " Seandainya aku memerlukanmu , aku pasti akan datang kepadamu . "
Sebagaimana jika aku melihatmu berada dalam suatu keadaan yang tak pernah dialami oleh sesiapa ? " Tanya Zulkarnain .

" Apa itu ? " Sang Raja balik bertanya . " Kalian tidak memiliki harta dunia apapun . Kenapa kalian tidak mempunyai emas dan perak hingga kalian boleh menikmatinya ? " Balas Zulkarnain .
" Tetapi kami membenci dua hal tersebut , kerana seorang tidak mendapat apa-apa dari emas dan perak itu , kecuali hanya mahu lebih dari itu , " jawab raja itu dengan tangkas .

Zulkarnain melanjutkan pertanyaannya , " Apa maksud kalian menggali kuburan lalu setelah itu kalian menjaganya , membersihkannya , dan sembahyang di sana ? "

Raja itu kembali menjawab , " Kami ingin , jika kami memandang kuburan - kuburan itu dan mengharapkan dunia , kubur - kubur itu akan menghalang kami dari harapan itu . "
Zulkarnain bertanya lagi , " Aku melihat kalian tidak mempunyai makanan kecuali sayur sayuran , kenapa kalian tidak mempunyai haiwan ternakan , hingga kalian dapat memerah susunya , menungganginya dan menikmatinya ? "

Mereka menjawab , " Kami tidak suka menjadikan perut kami sebagai kuburan bagi binatang itu . Dan kami melihat di dalam tumbuh - tumbuhan itu faedah yang besar . Cukuplah anak adam mempunyai kehidupan yang rendah kerana makanan . Dan makanan apa saja yang melewati rahang bawah kami rasanya sama saja seperti makanan yang pernah kami makan sebelumnya . "
Selepas Zulkarnain meninggalkan raja itu dengan kagum dan menjadikan penjelasannya sebagai sebuah nasihat yang berharga .

Dalam setiap perjalananya, Zulkarnain selalu memperlakukan bangsa dan suku yang ditaklukkannya dengan amat baik dan santun . Tak menghairankan jika ia menuai kejayaan dan selalu mendapatkan sokongan dari kawasan yang telah di kuasainya.

Selain itu , Zulkarnain juga didampingi seorang penasihat kerajaan yang baik dan sangat luas pengetahuannya , yang tiada lain adalah Nabi Khidir AS .

Sebahagian ulama menyebut , Allah SWT menurunkan wahyu kepada Nabi Khidir AS , lalu mengajarkan Wahyu tersebut kepada Zulkarnain .

Seorang mufassir lain , Al - Alusi , dalam kitab tafsirnya Ruhul Ma'ani , berkata , " Mungkin Khidir adalah salah satu pembesar kerajaan , seperti perdana mentrinya , kerana tidak tertutup kemungkinan bahawa Zulkarnain bermusyawarah dengan orang lain saat menghadapi suatu masalah . Sebab pada saat itu , istilah yang dikenal untuk menyebut orang pandai , termasuk Nabi , adalah " Ahli Hikmah " . selain itu , pada masa - masa dahulu , para Nabi juga sering disebut dengan istilah " Orang bijak , " atau " Hakim " .

Wahab bin Munabbah dalam kitabnya At - Tijan mengisahkan , pada suatu ketika Nabi Khidir AS berkata kepada Zulkarnain , Wahai Tuanku , tuan membawa suatu amanat yang seandainya diberikan kepada langit , langit itu akan runtuh , jika diberikan kepada Gunung , maka Gunung itu akan roboh , dan jika diberikan kepada bumi , maka bumi itu akan terbelah . Tuanku telah diberi kesabaran dan kemenangan . Tuanku akan melihat suatu kaum yang menyembah sesama manusia dan mereka adalah musuh - musuh Allah , yaitu Ya'juj dan Ma'juj . Allah adalah penuntut tidak akan terkelabui oleh orang - orang yang melarikan diri , dan tidak akan dikalahkan oleh orang yang " Menang " .

    Kata Nabi Khidir lagi , " Wahai tuanku , ambillah apa yang telah diberikan Allah SWT kepada tuan dengan keteguhan hati dan sungguh - sungguh . Jadikanlah kesabaran sebagai pakaian , kebenaran sebagai pegangan hidup , dan takut kepada Allah sebagai perlindungan yang menumbuhkan amal pada tuan , dan tuan akan tenang dari ketakutan akan datangnya ajal . 

Ambillah pedang Allah dengan tangan tuan , kerana tidak ada orang yang dapat menolong dan tidak ada orang yang dapat mencegah kemenangan . Cukuplah bagi tuan , Allah sebagai penolong tuan . "
Dalam Almuhadlarah al - Awali , kitab yang dikutip Ibnu Katsir , disebutkan , suatu ketika Nabi Ibrahim AS bertemu dengan Zulkarnain di Mekah . Nabi Ibrahim Memeluk dan menjabat tangan Zulkarnain serta memberinya bendera . Lalu ia mengikuti syariat yang dibawa oleh Nabi itu dan menyeru kepada manusia agar berpegang teguh pada syariat tersebut .

Hal ini dikuatkan kembali oleh sebuah hadis yang diriwayatkan oleh salah seorang sahabat Nabi SAW , Ubaid bin Umair dan anaknya , Abdullah , yang menyatakan , selama masa jayanya , Iskandar Zulkarnain pernah melaksanakan haji dengan berjalan kaki . ketika Nabi Ibrahim mendengar berita tersebut , beliau menemuinya seraya menyeru kepada agama Tauhid dan memberikan beberapa nasihat . Nabi Ibrahim juga membawakan Zulkarnain seekor kuda agar dinaikinya . Akan tetapi Zulkarnain menolak , seraya berkata , " Saya tidak akan menaiki suatu kenderaan di suatu tempat yang di dalamnya ada Ibrahim Al - Khalil , yang dikasihi Allah.

http://skooplangsa.blogspot.com/2010/07/kisah-agung-nabi-iskandar-zulkarnain.html

Isnin, 10 September 2012

HANZALAH DIMANDIKAN MALAIKAT

Gambar hiasan
Daripada Abi Akwar Said bin Zaid Amru bin Nufel r.a. katanya,: Aku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesiapa yang terbunuh kerana membela harta yang dimilikinya maka matinya adalah mati syahid, dan sesiapa yang terbunuh kerana membela dirinya dari dibunuh oleh orang lain, maka matinya adalah mati syahid, dan sesiapa yang terbunuh kerana mempertahankan agamanya (agama Islam) matinya adalah mati syahid, dan sesiapa yang terbunuh kerana mempertahankan keluarganya daripada diceroboh, matinya juga adalah mati syahid”. (Abu Daud dan at-Tirmidzi)

Salah seorang sahabat serta jurutulis kepada Rasulullah SAW yang terkenal ialah Abu Hanzalah bin Ar Rabie. Ketika peperangan Uhud meletus beliau baru sahaja diakadnikahkan. Oleh itu Rasulullah mengecualikan beliau dari turut serta ke medan peperangan. Inilah caranya Rasulullah meraikan sahabat Baginda.


Namun apabila Hanzalah terjaga dari tidurnya, beliau terdengar gendang perang dibunyikan begitu kuat sekali. Melalui seorang sahabatnya beliau mendapat tahu tentera Islam mendapat tentangan yang hebat. Keadaan terlalu genting.


Tanpa membuang masa lagi Hanzalah terus memakai pakaian perang lalu mencapai pakaian perang lalu mencapai pedang. Dia meluru ke medan tempur tanpa sempat mandi junub.

Berlakulah pertempuran hebat hingga ramai pihak Islam yang gugur syahid. Pihak musuh telah dapat menyerang dari belakang. Akhirnya Hanzalah turut terkorban dalam keadaan sedang sujud.

Satu perkara pelik telah berlaku. Rasulullah SAW telah melihat mayat Hanzalah dimandikan oleh para malaikat seperti mana sabdanya yang bermaksud: “Aku nampak antara langit dan bumi para malaikat memandikan mayat Hanzalah dengan air awan di dalam dulang perak.”

Para sahabat tercengang-cengang mendengar perkara ini. Salah seorang dari mereka, Abu Said Saidi lalu pergi melihat mayat Hanzalah. Wajah Hanzalah kelihatan tenang. Dari rambutnya kelihatan titisan air berlinangan turun. Sungguh beruntung Hanzalah mendapat layanan yang begitu istimewa dari malaikat. Tidak pernah berlaku dalam sejarah seorang syahid dimandikan dengan cara yang luarbiasa ini. Malahan matinya sebagai syuhadak menjadikan ia sebagai penghuni syurga tanpa dihisab.

AKU BERJALAN BERSENDIRIAN, MENINGGAL SENDIRI DAN DIBANGKITKAN JUGA SENDIRIAN

Gambar hiasan 
Pepatah ada berkata, cinta itu terasa keindahannya tatkala ia bermuara di jiwa. Cinta itu tidak boleh difahami kerana bercinta bukan untuk dipelajari. Cinta itu ibarat bibit yang tiba-tiba jatuh dari langit. Kerana cinta, manusia seringkali berdepan kesengsaraan, dan tidak dinafikan juga cinta melahirkan kebahagiaan. Cinta adalah berkorban untuk dicintai.

Di sebuah permukiman Shufah, masyarakat Madinah amat mengenali Abu Zar Al-Ghifari. Dia termasuk di kalangan sahabat Rasulullah yang dihormati, disegani malah amat disayangi baginda. Abu Zar memiliki lebih dari segalanya jika dia mahu. Tetapi jalan yang dipilih lelaki ini amat menghairankan. Ketika Abu Zar berkesempatan menikmati kehidupan sebagai pembesar negara, dia lebih rela melalui cara hidup yang zuhud, serba sederhana dan jauh dari impian semua orang. Dia tidak pernah menikmati kenyang lebih dari sekali dalam sehari. Lalu apakah yang membuat Abu Zar tegar menjadikan dirinya seorang ahli sufi yang zuhud pada dunia?

Keikhlasan dan sifat tenang Abu Zar jelas terpancar di wajahnya sentiasa. Abu Zar sentiasa redha dengan apa jua yang akan berlaku pada dirinya. Pernah Rasulullah SAW bersabda,

“Sahabatku, engkau bakal ditimpa suatu bencana di belakang hari.”
Abu Zar menjawab dengan tenang, “Akan ku terima bencana itu dengan kegembiraan, ya Rasulullah.”


Satu ketika dalam Perang Tabuk, Rasulullah SAW sedang gelisah menanti Abu Zar yang belum muncul. Ke mana Abu Zar? Mengapa ia masih belum sampai? Sedangkan tadi mereka berangkat bersama-sama dan beriringan dari Madinah.

Tidak lama kemudian, kelihatan seorang lelaki tua sedang berjalan termengah-mengah. Rasulullah SAW yang melihat dari kejauhan merasa sangat gembira sebaik melihat ketibaan Abu Zar. Lelaki bijak itu melangkah bersendirian bersama bekalan dan kelengkapan perangnya yang berat. Siapa tahu betapa payahnya dia meneruskan perjalanan tadi, sendirian mengharungi padang pasir yang sunyi dan terbakar dek panas mentari. Keldainya pula jatuh sakit dan Abu Zar memilih untuk berjalan sendiri sehingga sempat sampai menyertai rombongan Rasulullah SAW semula.

Rasulullah bersabda, “Akhirnya, engkau datang jua sahabatku.” Melihat kesungguhan Abu Zar ingin berperang, Rasulullah menambah “ Tuhan akan memberi ganjaran pada Abu Zar yang hari ini berjalan kaki sendirian. Kelak ia akan meninggal sendirian dan dibangkitkan Allah di hari pembalasan, jua sendirian.”

Abu Zar akan menerima penghormatan yang mulia sebagai imbalan dari cintanya yang murni kepada Allah dan Rasul-Nya.

Ketika pemerintahan Khalifah Usman bin Affan, Abu Zar berangkat menuju Rabzah bersama isteri dan salah seorang khadamnya. Ketika di pertengahan jalan, Abu Zar jatuh sakit. Isterinya yang melihat suaminya sedang kesakitan, hanya mampu menangis kesedihan. Terasa hiba di hatinya kerana sakit Abu Zar kali ini amat berbeza. Seolah-olah sudah tiba masanya mereka berpisah.

“Mengapa engkau menangis?” tanya Abu Zar tenang dengan nafas tersekat-sekat.

“Engkau sedang sakit tenat, tetapi aku tidak mempunyai kain pun untuk menyelimuti tubuhmu," jawab isterinya tersedu-sedu.

“Isteriku, jangan kau tangisi kematianku kelak. Ini adalah saat yang sangat kunantikan. Sesudah aku pergi, janganlah kau bersusah hati. Sesudah jenazahku dimandikan, bungkuslah dengan kain kafan seadanya. Selesai mengurus segalanya, golekkan jenazahku di tepi jalan. Kepada orang yang mula-mula kalian temui, katakan kepadanya, inilah jenazah Abu Zar Al-Ghifari, sahabat Rasulullah.”

Tidak lama kemudian, memang benar Abu Zar meninggal dunia. Isteri dan khadamnya melaksanakan wasiat Abu Zar. Setelah dimandi dan dikafan, jenazah Abu Zar diletakkan di pinggir jalan.

Seorang musafir melewati tempat itu dan kehairanan melihat ada jenazah yang tergolek di tepi jalan. Isteri Abu Zar yang melihatnya lantas menerangkan, “Maaf tuan, orang yang wafat ini adalah Abu Zar al-Ghifari, sahabat Rasulullah.”

Musafir itu sebenarnya Ibnu Mas’ud, juga salah seorang sahabat Rasulullah. Dengan linangan air mata, Ibnu Mas’ud berkata “Ya Allah, semua yang dikatakan oleh Rasulullah berlaku benar ke atas dirimu. Engkau berjalan sendiri, meninggal sendiri dan pasti dibangkitkan kelak juga sendiri.”


Sumber: Mencari Kebahagiaan Hidup


Khamis, 6 September 2012

KISAH TOK KENALI DI KELANTAN

Tok Kenali 
Nama Tok Kenali tidak asing lagi di negara ini, dan satu ketika dulu pengaruh beliau cukup kuat hingga sampai ke Patani. Beliau mempunyai peranan langsung terhadap kebangkitan Islam di Kelantan pada zaman kegemilangannya hingga mendapat julukan ‘Serambi Makkah’. Di samping mengajar, Tok Kenali aktif dalam penulisan, urusan kemasyarakatan dan juga pemerintahan.

Beliau adalah orang penting di belakang penerbitan majalah ‘Pengasuh’. Pernah menjadi Ahli Majlis Agama dan Adat Istiadat Melayu Kelantan dan Ahli Majlis (Dewan) Ulama. Tok Kenali berpesan kepada murid-muridnya, antara lain, “Mengaji sungguh-sungguh” dan “Buka pondok”.

Sekitar dua dekad pertama abad ke-20 itu, era pondok-pondok pengajian berkembang begitu pesat hasil sumbangan barisan pelapis yang mendapat asuhan dan tarbiah secara langsung dari Tok Kenali serta tokoh-tokoh ulama lain di Kelantan. Murid-murid Tok Kenali datang dari merata tempat terutamanya Kelantan, Kedah dan Terengganu. Menurut sumber yang boleh dipegang, Tok Kenali mengamalkan Tareqat Ahmadiah. Beliau dikurniakan banyak karamah, kelebihan yang pelik-pelik tetapi benar berlaku.

Telah menjadi satu kebiasaan baginya, bila hendak pergi mengaji Al Quran, dia akan letakkan sebotol air putih di tepi pintu di sebelah dalam rumahnya. Sepulangnya dari rumah guru mengaji yang terletak berhampiran rumahnya, dia akan duduk dekat botol air itu sambil merenung ke lantai. Kemudian dengan berdakwatkan air dari dalam botol itu, dia menulis dengan jari di atas lantai papan. Begitulah caranya seorang anak yang mempunyai nama timangan ‘Awang’; yang baru berusia sekitar enam tahun ketika itu, berusaha menghafaz ilmu yang baru dipelajarinya. Awang memang dianugerahi ALLAH kepintaran di samping mempunyai sifat ingin tahu dan ingin maju yang kuat. Dengan beberapa kali ajar dan biasanya sekali ajar saja, dia dapat menulis dan membaca Al Quran dengan tajwid dan tartilnya. Dia keberatan apabila diminta oleh gurunya membaca ayat-ayat yang telah diajar. “Sudah kalih (sudah dapat),” katanya ketika ditanya.

Sambil senyum gembira, gurunya akan mengubah kepada ayat-ayat baru kerana ternyata muridnya yang bernama Mohd. Yusof itu cukup kuat ingatannya dan cerah otaknya. Kepintaran Awang Mohd Yusof menarik perhatian Tok Penggawa (penghulu yang pada masa itu sangat besar kuasanya) kampungnya, yang melantiknya menjadi kerani. Tugas Awang Mohd Yusof ialah membilang pokok buah-buahan orang kampung yang mengeluarkan hasil untuk dipungut sumbangannya yang diistilahkan sebagai cukai oleh pejabat Tok Penggawa. Walaupun tugas itu nampak mudah tetapi yang istimewa ianya dijalankan oleh seorang budak yang baru berusia 9 tahun. Kecemerlangan Awang Mohd Yusof dalam bidang ilmu pengetahuan tidak berakhir di situ. Kerana tidak lama kemudian dia meninggalkan jawatan kerani untuk memenuhi cita-citanya melanjutkan pelajaran ke Kota Bharu.

Dari situlah bermulanya perjalanan hidupnya yang panjang untuk menguasai ilmu selama lebih 25 tahun termasuk 17 tahun di Makkah dan 5 tahun di Mesir. Dan sebaik pulang dari perantauan menuntut ilmu, mulalah beliau menyumbang bakti kepada masyarakat ramai khususnya dalam bidang pendidikan dan pelajaran. Menyedari peri pentingnya menyebarkan ilmu secara yang tersusun dan berkesan, beliau membuka dua pusat pengajian pondok di kampung kelahirannya, Kenali, dalam jajahan Kota Bharu. Di sinilah beliau mengasuh dan mendidik, hingga melahirkan tuan-tuan guru yang turut berjuang dengan membuka pondok-pondok pengajian di tempat masing-masing. Sejak itu masyhurlah seorang ulama berbadan gempal, bermisai, berjanggut serta berjambang dan gemar kepada pakaian serban jubah itu sebagai seorang wali ALLAH dengan gelaran Tok Kenali.

Tok Kenali – Mohd Yusof bin Ahmad

Kejayaan Tok Kenali dalam bidang ilmu dan kepimpinan adalah berkat asuhan dan doa ibunya, seorang wanita solehah bernama Fatimah yang mengharapkan anaknya muncul sebagai seorang yang mulia di sisi agama. Asuhan awal ibunya berjaya menanamkan bibit-bibit sifat mulia pada diri beliau hingga sifat-sifat itu menjadi pakaian dirinya sampai beliau dewasa.

Dalam masa yang sama Tok Kenali mendapat bimbingan awal datuk sebelah ibunya, yang dikenali dengan nama Tok Leh, seorang imam kampung yang alim. Datuknya itulah yang mula-mula sekali mengajarnya menulis dan membaca Al Quran selepas kematian bapanya Ahmad, seorang petani warak. Sejak itu bermulalah Mohd. Yusof bin Ahmad yang akhirnya masyhur dengan gelaran Tok Kenali itu, hidup yatim ketika baru berusia lima tahun (tahun 1873). Beliau terus dididik dan diasuh oleh datuknya Tok Leh dan beberapa orang tuan guru kampung dengan iringan doa dan harapan ibunya. Dengan kecerdasan akal yang dikurniakan kepadanya, Tok Kenali deras dalam menghafaz dan memahami apa saja ilmu yang dipelajari. Sewaktu usianya mencapai 10 tahun, Tok Kenali mendapat restu ibu dan datuknya untuk mengaji agama di bandar Kota Bharu.

Tok Kenali terpaksa berulang-alik sejauh lapan batu pergi balik dari Kampung Kenali ke bandar Kota Bharu dengan berjalan kaki. Di Kota Bharu, beliau belajar dengan beberapa orang tuan guru; antaranya Encik Ismail bin Mahmud (pernah menjadi kadhi), Tuan Guru Haji Ibrahim bin Yusof (pernah menjadi Mufti Kelantan), Tuan Guru Haji Abdul Samad bin Mohd Salleh (terkenal dengan gelaran Tuan Tabal), Tuan Guru Haji Muhammad (yang terkenal dengan gelaran Tuan Padang), dan beberapa orang tuan guru lain. Dalam masa beberapa tahun sahaja beliau dapat membaca kitab-kitab seperti Al Airrumiyyah, Syarh Ibnu ‘Uqail, Al Fiyyah dan Matamimah, yang semuanya berhubung dengan nahu saraf. Beliau juga khatam banyak kitab dalam jurusan tauhid, feqah, tasawuf dan lain-lain. Kebolehan dan kepintaran Tok Kenali telah memikat hati Haji Salleh Janggut sehingga mendorongnya untuk menjodohkan anak perempuannya, Mek Nik, dengan Tok Kenali. Tok Kenali berkahwin ketika baru berusia 16 tahun. Tetapi perkahwinan atas kehendak orang tua itu berlangsung selama setahun sahaja, diikuti dengan perceraian.

Di sebalik peristiwa itu ada hikmah yang besar. Tok Kenali mempunyai cita-cita besar dan hasrat yang terpendam untuk mendalami ilmu di Makkah. Dengan berkat dorongan ibunya, yang membekalkannya wang 22 ringgit, dan galakan dari kawan-kawan, Tok Kenali bertolak ke Tanah Suci dengan kapal layar ketika berusia 18 tahun (sekitar tahun 1886). Pelayaran ke Makkah dengan kapal layar yang sepatutnya memakan masa tiga bulan itu tergendala kerana kapal mengalami kerosakan dan terpaksa mengambil masa 6 bulan untuk tiba di Makkah. Ketika sampai di Makkah, musim haji telah berakhir. Di Makkah, hampir tujuh bulan pertama Tok Kenali tiada tempat tinggal tetap, hanya menetap di Serambi Masjidil Haram. Dan sesudah mempunyai tempat menginap, beliau masih gemar beriktikaf, bermutalaah, belajar dan tidur di masjid.

Tok Kenali mula hidup sederhana; pakaiannya hanya dua pasang, kerapkali makan berlaukkan ikan kering, sedikit tidur dan sering tidur berbantalkan lengan. Beliau juga membuat kerja-kerja sambilan untuk menyara belanja pengajiannya, termasuk menjadi Tokang masak. Beliau dikatakan menjadi Tokang masak di rumah seorang hartawan. Menurut ceritanya, hartawan itu menerima Tok Kenali berkhidmat dengannya kerana terpikat dengan kerajinan dan kehalusan akhlak beliau. Dan hartawan itu dikatakan berasal dari Kelantan dan bermukim di Makkah. Falsafah hidup Tok Kenali di Makkah ialah: Berbelanja ketika penuh saku, berhenti ketika tangan kosong. Nikmat Allah melebihi bilangan rambut wajib disyukuri.

Peringkat awal beliau hanya menumpang kitab kawan, membaca di kedai-kedai buku dan di maktabah (perpustakaan) dan di rumah-rumah kawan. Memang Tok Kenali amat gemar membaca. Sikap itu sangat disenangi oleh gurunya, sehingga dapat pula Tok Kenali meminjam kitab-kitab kepunyaan gurunya. Tetapi bila ada wang, beliau tidak sayang-sayang membeli sebanyak-banyak kitab. Tok Kenali belajar dengan ramai tuan guru dari kalangan ulama-ulama besar di Makkah. Antara gurunya yang berbangsa Arab ialah Al ‘Alamah Syeikh Habibullah dari Mesir, Al ‘Alamah Syeikh ‘Abid, Mufti Al Malikiah, Al ‘Alamah Syeikh Muhammad Amin, imam bagi Mazhab Hanafi, Al ‘Alamah Syeikh Bakri, Al ‘Alamah Syeikh Mohd. Yusof Al Khiadh dan Al ‘Alamah As Sayid Abdullah bin Sayid Saleh As Zawawi, Mufti Makkah. Dan di antara guru-gurunya yang berbangsa Melayu iajah Asy Syeikh Mukhtar ‘Athar Al Jawi Al Minangkabawi Al Bukri (Bogor), Asy Syeikh Ahmad bin Abdul Latif Al Minangkabawi, Asy Syeikh Muhammad bin Ismail Al Fatani, Tuan Guru Haji Wan Ah’ Kutan, Tuan Guru Haji Mohd. Daud. dan Al ‘Alamah Asy Syeikh Wan Ahmad bin Ahmad Mustaffa Al Fatani. Guru pencurah ilmu biar seribu, mursyid biar satu. Dari pada semua gurunya itu, guru dan pembimbing Tok Kenali yang utama ialah Al ‘Alamah Asy Syeikh Wan Ahmad bin Ahmad Zain bin Mustafa Al Fatani, yang juga menjadi bapa angkatnya. Syeikh Wan Ahmad ini seorang ulama besar yang banyak mengarang kitab serta menjadi pentashih kepada banyak kitab karangan ulama Jawi, khususnya kitab-kitab karangan ulama Pattani. Syeikh Ahmad Fatani ialah anak saudara kepada Al ‘Alamah Asy Syeikh Daud Al Fatani menerusi nasab ayahnya Muhammad Zain yang abang kepada Syeikh Daud.

Syeikh Daud ialah ulama terkemuka di Nusantara, pembawa amalan Tareqat Syatariah. Beliau mengarang lebih daripada 50 buah kitab termasuk kitab Furu’il Masail dan Darussamin. Kerana kehalusan budinya, Syeikh Daud mendapat gelaran ‘Al Alim al ‘Alamah al ‘Arif al Rabbani Asy Syeikh Daud. Berkat ramainya ulama hebat yang menjadi guru kepada Tok Kenali semasa di Makkah maka beliau muncul sebagai seorang ulama yang pakar dalam berbagai jurusan ilmu khususnya nahu saraf dan tasawuf. Malah dalam jurusan feqah, beliau alim empat mazhab Ahli Sunnah Wal Jamaah dan sangat arif tentang perjalanan mazhab ikutannya iaitu Mazhab Syafi’i.

Di bidang tasawuf, Tok Kenali adalah pengikut aliran tasawuf Hujjatul Islam Imam Al Ghazali, manakala di bidang tauhid, beliau berpegang dengan aliran tauhid ulama usuluddin yang terkemuka, Imam Abu Hassan Asyaari dan Abu Mansur Al Maturudi. Setelah 17 tahun di Makkah, Tok Kenali bersama gurunya Syeikh Wan Ahmad Al Fatani, melawat Mesir. Kedatangan mereka menjadi buah mulut khususnya di kalangan para pelajar. “Ulama besar sedang membuat kunjungan di Mesir,” begitu dihebohkan oleh orang ramai. Diriwayatkan, bila mereka berjalan di dalam kumpulan, biasanya Tok Kenali yang berbadan besar itu disuruh oleh tuan gurunya berjalan di depan, dan bila saja bertemu orang yang mengajukan pertanyaan, maka Syeikh Wan Ahmad biasanya akan berkata kepada Tok Kenali, “Awang Yusof, sila jawab.”

Tok Kenali juga sering diberi peluang menjawab soalan-soalan dalam majlis pengajian gurunya itu. Semua soalan dijawabnya dengan tepat dan padat sehingga nama Tok Kenali segera terkenal di kalangan penuntut-penuntut di Mesir. Secara langsung Tok Kenali diiktiraf sebagai ulama terkemuka di kalangan cerdik pandai Mesir. Turut bersama dalam rombongan lawatan sambil belajar itu ialah Haji Mahmud Ismail dan Haji Ismail Fatani. Dalam rombongan itu Tok Kenali bertindak sebagai pengurus perjalanan bagi pihak tuan gurunya.

Walaupun hanya lima tahun di Mesir, Tok Kenali banyak menimba ilmu dan pengalaman di negara yang mempunyai ramai ulama dan terkenal dengan Universiti Al Azhar itu. Tidak lama selepas kembali semula ke Makkah, Tok Kenali mengambil keputusan pulang ke tanahair. Keputusan itu dibuat berdasarkan rasa hatinya bahawa segala ilmu dan pengalaman yang diperolehi telah mencukupi untuk beliau mencurahkannya kepada umat Islam di tanahairnya sendiri. Sementelahan pula gurunya yang disayangi Syeikh Wan Ahmad Al Fatani telah pulang ke rahmatullah pada tahun 1325 Hijrah (1906). Tok Kenali berkata, “Jika masih ada Syeikh Ahmad tentu aku tidak pulang lagi (ke Kelantan).”

Demikian ikrabnya hubungan Tok Kenali dengan gurunya itu. Maka pada tahun 1327 Hijrah bersamaan 1908 Masihi, Tok Kenali pun pulang ke Kelantan. Beliau pulang dengan kapal layar menempuh pelayaran yang mencabar, menyusur hingga ke Singapura, kemudian terus ke Kelantan. Berita kepulangannya segera meniti dari mulut ke mulut. Orang ramai heboh memperkatakan, “Awang Yusof sudah kelik.” Beliau disambut meriah oleh sanak-saudara dan kawan-kawan. Beliau tinggal bersama ibunya di Kampung Paya dalam daerah Kenali. Pada tahun berikutnya, dengan dorongan kuat ibunya, barulah Tok Kenali mengadakan kelas pengajian terbuka untuk orang ramai di rumahnya. Dari hari ke hari, anak muridnya bertambah ramai. Mereka mendirikan pondok-pondok kecil di sekeliling rumahnya untuk mengikuti kelas pengajian beliau, sembahyang berjemaah, berwirid dan beramal. Dalam masa yang sama, Tok Kenali mengajar di Masjid Al Muhammadi di Kota Bharu, yang ketika itu terkenal sebagai pusat pengajian tinggi. Beliau berpegang kepada falsafah bahawa dakwah, tarbiah dan ilmu perlu disebarluaskan kepada orang ramai. Masa mengajarnya dalam seminggu dibahagi-bahagikan: tiga hari di Masjid Al Muhammadi dan empat hari di pondoknya di Kampung Paya. Kemudian ibunya jatuh sakit dan kembali mengadap ALLAH Azzawajalla, meninggalkan anak yang sentiasa mendoakan kesejahteraan ibunya dan gigih berjuang mengembangkan ilmu ke tengah masyarakat.

Selepas kematian ibunya, atas permintaan Datuk Perdana Menteri, Tok Kenali berpindah ke Kota Bharu untuk mencurahkan sepenuh tenaganya sebagai tenaga pengajar utama di Masjid Al Muhammadi bersama dengan Haji Nik Abdullah, Haji Idris dan beberapa orang tuan guru lain. Sejak itu, di sekeliling masjid itu semakin padat dengan pondok-pondok kecil yang didiami oleh pelajaj-pelajar yang datang dari merata tempat dan negeri. Tok Kenali memainkan peranan penting menjadikan masjid itu sebuah pusat pengajian pondok tertinggi dan termasyhur di Tanah Melayu ketika itu.

Nama Tok Kenali semakin masyhur sebagai tuan guru yang mahir dalam ilmu nahu dan saraf serta tasawuf. Beliau juga menguasai ilmu tafsir, Hadis, tauhid, feqah dan sebagainya. Tok Kenali lazimnya mengajar tanpa membawa kitab; cukup sekadar mendengar salah seorang anak muridnya membaca, kemudian beliau akan syarahkan dan betulkan jika ada bacaan yang silap. Ternyata beliau sangat arif tentang matan dan syarah kitab-kitab yang diajarnya.

Antara kitab-kitab yang dijadikan teks pengajiannya ialah Ihya Ulumiddin karya Hujjatul Islam Imam Al Ghazali, Sirrus Salikin karangan Syeikh Abdul Samad Al Palem-bangi dan kitab Hikam karangan Ibnu Ato’illah. Setelah 23 tahun hidup sebatang kara, barulah Tok Kenali mencari pasangan hidup ketika umurnya melebihi 40 tahun. Orang pilihannya bernama Siti Ruqayah, seorang janda muda berusia 18 tahun. Berkat perkahwinan yang bahagia itu, mereka dikurniakan tujuh orang cahaya mata. Anak-anak lelaki beliau semuanya muncul sebagai tuan guru.

Mereka adalah: Tuan Guru Haji Ahmad, anak sulung yang sempat mendapat bimbingan ilmu dari ayahnya. Beliau terkenal dengan gelaran Tok Bakok kerana rumah tempat tinggalnya di Kenali bersebelahan dengan pondok penuntut-penuntut dari Siam yang terkenal dengan kota Bangkok. Tok Bakok menjadi tuan guru utama di pondok peninggalan ayahnya. Tuan Guru Haji Salleh, anak Tok Kenali yang paling lama belajar di Makkah dan terus bermukim di sana serta mengajar di Masjidil Haram. Beliau seorang pengarang dan telah mengarang lebih 60 buah kitab dan risalah mengenai berbagai persoalan agama. Tuan Haji Mahmud, anak ketiga Tok Kenali, seorang yang tidak kurang juga ilmunya, menjadi khatib tetap di masjid peninggalan ayahnya di Kubang Kerian.

Keseronokan pada akal apabila mendapat ilmu dan pengalaman, keseronokan nafsu apabila melihat dan membuat perkara yang haram, keseronokan jiwa ialah mengingati Allah melalui sembahyang, membaca Al Quran, berzikir, bertahmid, bertasbih dan melihat tanda-tanda kebesaran Allah. – Abuya Ashaari Muhammad

Tuan Haji Abdullah Zawawi, anak bongsu Tok Kenali yang mendapat didikan di Makkah sehingga ke peringkat menengah tinggi dan seterusnya memasuki Kuliah Syariah di salah sebuah universiti di Makkah selama empat tahun dan lulus pada tahun 1961, kemudian berkhidmat dengan kerajaan Arab Saudi sebagai pegawai pendidikan dan pernah menjadi pengetua beberapa buah sekolah menengah Arab di Saudi. Lima tahun selepas mengajar dan memimpin kelas pengajian di Masjid Muhammadi, Tok Kenali mengambil keputusan pulang ke kampung untuk menghidupkan semula pondok yang telah ditinggalkannya dahulu. Kali ini beliau memilih tapak baru di Kampung Belukar, yang juga dalam daerah Kenali, tidak jauh dari Kampung Paya.

Beliau mengasaskan semula pondok pengajian di tapak baru ini dengan susunan yang lebih kemas baik dari segi pembangunan lahir, lebih-lebih lagi isi tarbiah dan ta’limnya. Tok Kenali mahu pondok pengajiannya di Kenali itu benar-benar berkesan dari segi ilmu, tarbiah dan perjuangan kepada anak-anak muridnya. Beliau mahu sistem pengajian pondok yang merupakan trend pengajian paling popular pada waktu itu terus berkembang. Ini yang diperjuangkan oleh Tok Kenali.

Sistem pengajian pondok membolehkan terjalinnya hubungan rapat antara murid dan guru, serta mewujudkan sua-sana ilmu dan amal; menuntut ilmu bersama, sembahyang bersama dan melakukan lain-lain kegiatan hidup bersama. Pelajar-pelajar juga dapat mencontohi perilaku mulia tuan guru mereka dalam menjalani kehidupan sehari-hari di samping menggalakkan mereka hidup berdikari untuk menyelesaikan keperluan hidup. Benarlah kata-kata: “Ilmu itu adalah satu kemuliaan yang disanjung oleh orang yang mulia dan tinggi cita-cita. Di mana ada ilmu, di situ ada penuntutnya.” Begitulah Tok Kenali, di mana beliau berpindah, akan dituruti pula oleh anak-anak murid lamanya dan bertambah pula dengan penuntut baru yang datang dari Kedah, Pulau Pinang, Terengganu, Pahang, Selangor, Johor, Selatan Thailand dan anak-anak Kelantan sendiri.

Di antara anak-anak murid Tok Kenali yang terkemuka ialah: Syeikh Idris Al Marbawi dari Perak, pengarang dan ulama terkenal (penyusun Kamus Marbawi); Syeikh Othman Jalaluddin, guru pengasas pondok yang warak dan juga seorang pengarang kitab, berasal dari Penanti; Haji Sallehuddin, Pulau Pinang; Haji Tam, Kedah; Tuan Guru Haji Othman (Pak Man), Bukit Besar; Tuan Guru Ahmad Lundang, Haji Ahmad Tawang; Haji Nor Bot; Haji Ali, Pulang Pisang; Haji Mat Jebang; Tuan Guru Haji Awang Yusof pembangun pondok di Tanah Serendah Sekebun Bunga, Kota Bharu; Tuan Guru Haji Daud bin Haji Omar, Bukit Abal, ahli tasawuf dan tareqat yang terkemuka; Tuan Guru Haji Yaakub bin Ismail, Legor, Selatan Thailand, Tuan Guru Haji Zainal Abidin Sura, Dungun, Terengganu, dan ramai lagi anak murid Tok Kenali yang hebat-hebat daripada ribuan murid beliau.

Di antara pesanan penting yang disampaikan oleh Tok Kenali kepada murid-murid kanannya ialah, “Mu buka pondok.”

Syeikh Othman Jalaluddin (1880-1952), murid pembantu kanan di Pondok Kenali, mengadu kepada gurunya Tok Kenali, mengapa beliau dua kali gagal dalam usahanya membangunkan pondok. Tok Kenali berkata: “Mu gi ngaji lagi, lepas tu buka pondok.”

Dengan nasihat itu, Syeikh Othman, yang sebelum itu pernah mengaji di Makkah selama 4 tahun, pergi melanjutkan pelajaran lagi ke Tanah Suci dan belajar dengan beberapa orang guru. Beliau kemudian sempat mengajar di Masjidil Haram untuk beberapa waktu sebelum akhirnya pulang ke tanahair, dan pada tahun 1932 beliau berjaya membangunkan sebuah pondok pengajian yang terkenal di Penanti, Bukit Mertajam iaitu Madrasah Manabi’ul Ulum. Menjelang akhir hayatnya beliau sekali lagi pergi ke Makkah dan meninggal dunia di sana pada tahun 1952. Dengan berkat kata-kata Tok Kenali yang sering menggalakkan anak-anak muridnya membuka pondok, maka mercup tumbuhlah pondok-pondok pengajian dengan pesat sekali. Walaupun pondok-pondok pengajian sudah wujud sebelumnya, Tok Kenalilah orang yang menyemarakkan kebangkitan pondok sebagai satu institusi pengajian Islam paling berpenga-ruh di negara ini pada sekitar dua dekad awal abad ke-20 itu. Selain menubuhkan Pondok Tok Kenali, beliau juga menjadi pengasas Jamiatul Asriyah di Kota Bharu.

Pendidikan Pondok Tok Kenali

Tok Kenali menekankan teknik menghafaz pelajaran terutamanya nahu saraf yang menjadi ibu bagi memahami kitab-kitab Arab. Begitu dengan balaghah, bada’i, bayan dan arudh. Baginya, ilmu itu ialah apa yang difahami dan diingati di dada, bukan semata-mata dalam tulisan di kitab. Penekanan ini mendorong anak-anak muridnya bertungkus-lumus menghafaz terutamanya pada malam-malam sepi di pondok penginapan masing-masing. Ramai muridnya berkata, “Berkat Tok Kenali, mudah kami menghafaz pelajaran.” Pelajaran-pelajaran yang perlu dihafal biasanya ditulis dengan tulisan tangan oleh Tok Kenali sendiri, dan kemudian beliau pula yang mentasmikan hafalan murid-muridnya itu. Namun Tok Kenali tidak pernah memarahi pelajar-pelajar yang lemah dalam pelajaran atau tidak mampu menghafaz. Kerana cerdik dan bodohnya seseorang itu semuanya pemberian ALLAH SWT. Tok Kenali terus berusaha mendidik dan mengajar. Sewaktu mengajar, Tok Kenali selalunya tidak bawa kitab. Cukup dengan mendengar salah seorang muridnya membaca, kemudian disyarahkan dan dibetulkan di mana yang silap. Kelaziman ini membuktikan bahawa beliau sangat arif tentang semua matan dan syarah kitab-kitab yang diajarnya. Stail ini sukar ditiru oleh tuan-tuan guru lain.

Untuk membolehkan murid-muridnya mengulangkaji ilmu dan menghaluskan lagi pemahaman, Tok Kenali mewujudkan halaqah-halaqah belajar di kalangan mereka. Setiap satu halaqah kecil itu ada seorang pelajar yang lebih pandai dilantik menjadi ketua mutalaah atau dipanggil ketua talaah. Kaedah ini kemudian begitu popular di kalangan pelajar-pelajar pondok di merata tempat.

MENDAPAT PERKHABARAN GHAIB

Perkara luar biasa yang dimiliki oleh Tok Kenali ialah beliau dikurniakan ALLAH SWT hatif yakni perkhabaran ghaib secara kerohanian bagi menyelesaikan sesuatu masalah yang payah-payah. Kedudukan ini rendah sedikit daripada mereka yang mendapat kasyaf. Ini satu lagi karamah Tok Kenali. Pernah Tok Kenali mengajar jam 12 tengah malam di suatu padang sampai berembun-embun menjelang Subuh. Murid-murid tertentu saja yang dibenarkan hadir. Pengajian itu lebih berbenTok soal jawab (dialog). Apabila ada soalan yang tidak dapat dijawabnya, Tok Kenali akan berkata, “Tunggu sekejap ya.” Lalu Tok Kenali memberi salam selaku orang berbual dalam telefon, dan kelihatan memberi perhatian (mendengar) kepada sesuatu dan kadang-kadang mengangguk. Kemudian baru beliau beralih kepada murid yang bertanya dan menjawab soalan tadi, seumpama “Oh, wajib hukumnya”, “Halal”, “Makruh” dan sebagainya mengikut benTok soalan yang diajukan.

Dari situ memperlihatkan bahawa Tok Kenali mempunyai pertalian kerohanian yang bersih sehingga menghasilkan idea yang bernas. Pada keseluruhannya Tok Kenali berpegang kepada cara pendidikan rohaniah yang dilagang oleh Hujjatul Islam Imam Al Ghazali. Ini dapat dilihat pada teks pengajian tasawufnya yang kebanyakannya karangan Imam Al Ghazali. Beliau juga mengajar kitab Hikam karangan Ibnu Ato’illah yang banyak membicarakan perjalanan hati dan para wali. Tok Kenali mempunyai syahsiah yang tinggi dan dengan itu menjadi contoh teladan kepada murid-murid dan pengikut-pengikutnya, baik dalam bidang ibadah, akhlak atau bidang-bidang hidup lain yang lebih halus.

KITAB-KITAB PENGAJIAN

Semua kitab yang menjadi teks pengajian di Pondok Kenali adalah kitab-kitab yang muktabar karangan ulama-ulama aliran Ahli Sunnah Wal Jamaah. Perkara ini dipastikan sendiri oleh Tok Kenali supaya anak-anak muridnya tidak terpesong daripada pegangan Islam yang sebenar dan dengar itu mendatangkan keberkatan.

Antara kitab-kitab itu ialah:

Tauhid: antaranya Matan Al Jauharah Al Tauhid karya Imam Ibrahim Al Laqani, Matan As Sanusiyah karya Imam Muhammad bin Yusof As Sanusi, kitab Aqidah An Najin karya Tuan Minal (Zainal Abidin bin Muhammad Al Fatani) dan seterusnya kitab-kitab yang lebih besar seperti Darus Samin dan lain-lain.

Feqah: di antaranya ialah kitab Matan Safinah An Naja, Fathul Qarib, At Tahrir dan Al Iqna’. Tok Kenali juga mengajar kitab-kitab besar seperti Al Majmu’ dan Al Umm, kitab induk Imam Syafi’i r.a. (Dua orang daripada murid Tok Kenali dikatakan ada berusaha menterjemahkan kita Al Umm ini).

Tasawuf: di antaranya kitab Bidayah Al Hidayah karangan Imam Al Ghazali r.a., Ayyuha Al Walid juga karangan Imam Al Ghazali, Hidayah As Salidin (syarah kitab Bidayah Al Hidayah) karangan Syeikh Abdul Samad Al Palimbangi, Sims As Salikin (intisari kitab Ihya Ulumiddin karangan Imam Al Ghazali) juga karangan As Syeikh Abdul Samad Al Palimbangi, dan tidak ketinggalan kitab Al Hikam karangan Ibnu Ato’illah.

Tafsir: antaranya Tafsir Jalalain karangan Jalaluddin Al Mahalli dan Jalaluddin As Sayuti, Tafsir ‘Ala Al Jalalain dan Tafsir Al Khazin bertajuk Lubab At Ta’wil Fi Ma’ani At Tanzil. Bahasa Arab (terutamanya nahu saraf): antara kitab-kitab-nya ialah Matan Al Ajirrumiyah, Matan Al Bina, Syafh Ibnu ‘Uqail, Matan Al Fiyyah dan syarahnya. Seterusnya kitab Usymuni dan Mughni Al Labib karangan Ibnu Hisyam.

SUMBANGAN DALAM PENULISAN

Ketika Majlis Agama dan Adat Istiadat Melayu Kelantan mula mengura-urakan penerbitan sebuah majalah Islam, yang dicadangkan oleh Tok Kenali, maka Datuk Perdana Menteri tidak nampak orang lain untuk menggerakkan majalah itu melainkan Tok Kenali sendiri. Oleh itu dengan inisiatif Tok Kenali sebagai tenaga penggerak utamanya, lahirlah sebuah majalah bulanan yang dipanggil Pengasuh pada 11 Julai 1918. Tok Kenali, selaku Ketua Pengarang Kehormatnya, banyak menghasilkan artikel untuk majalah itu yang sebahagian daripadanya telah dikeluarkan semula dengan ulasan oleh Ustaz Abdullah Qari dalam buku karangannya, Pusaka Tok Kenali.

Dalam keluaran sulung majalah Pengasuh, Tok Kenali antara lain membuat saranan berikut:
 “…maka cintalah saya dengan harapan bahawa diadakan pada tiap-tiap sebuah negeri di dalam Semenanjung Tanah Melayu kita ini sekurang-kurangnya satu suratkhabar yang dipunyai oleh anak negeri sendiri supaya menepati ia utusan yang bijaksana (Islam).”

Saranan Tok Kenali itu menunjukkan beliau menyedari pentingnya umat Islam memiliki dan menguasai media massa sebagai alat menyampaikan mesej Islam ke tengah masyarakat. Selain menjadi tenaga penggerak Pengasuh, Tok Kenali juga adalah penasihat dan penulis untuk sebuah lagi majalah Islam, Al Hidayah. Dalam bidang penulisan ilmiah, Tok Kenali telah berusaha menterjemahkan kitab Al Umm dan tafsir Al Khazan walaupun terjemahan kedua-dua kitab itu tidak sempat disiapkan sepenuhnya. Usaha penterjemahan itu adalah atas permintaan Sultan Kelantan sendiri menerusi surat bertarikh 15 April 1929 kepada Majlis Agama dan Adat Istiadat Melayu Kelantan. Bagi memenuhi keperluan pelajar peringkat rendah, Tok Kenali menyusun kitab pelajaran nahu saraf (Tasrif) yang kemudiannya diterbitkan oleh muridnya Tuan Guru Haji Ali Solehuddin dengan judul Ad Durus Al Kunaliyah Al Ibtidaiyah dan kitab Tasrif ‘Arf yang disusun oleh muridnya, Syeikh Othman Jalaluddin. Di samping mempelopori penerbitan majalah Pengasuh, Tok Kenali juga menerbitkan risalah pelajar (buletin) Talamiz.

Menurut Ustaz Abdullah Qari dalam bukunya Sumbangan Tok Kenali Kepada Dunia Ilmu, Tok Kenali adalah juga pengarang kepada kitab Khasiat Bintang-bintang dan Mujarrabat yang menggunakan nama pena Awang Kenali. Tok Kenali juga banyak menulis cerita-cerita teladan, cerpen serta syair. Banyak daripadanya dihimpun dan diterbitkan semula oleh Ustaz Abdullah Qari di bawah tajuk, antaranya, 12 Cerpen Tok Kenali dan Tok Kadhi dan Tok Guru. Dan banyak lagi hasil tulisan Tok Kenali, atau karya murid-muridnya yang diambil daripada idea beliau, yang tidak dapat disenaraikan dalam ruangan yang terhad ini.

PERANAN DALAM PEMERINTAHAN

Di samping mengajar dan mendidik, Tok Kenali juga melibatkan diri dalam urusan kemasyarakatan dan juga pemerintahan. Beliau dilantik menjadi Ahli Majlis Agama dan Adat Istiadat Melayu Kelantan. Bahkan semasa majlis ini hendak ditubuhkan pada tahun 1916, Tok Kenali telah diminta membantu menyusun undang-undang tubuhnya. Beliau juga turut terlibat menggubal Kanun Tanah Negeri yang meliputi persoalan pembahagian harta pusaka menurut syariat. Kanun itu masih dipakai sehingga ke hari ini.

Dalam masa yang sama, Tok Kenali juga menjadi Ahli Majlis (Dewan) Ulama yang merupakan badan ulama tertinggi dalam negeri Kelantan. Beliau ditugaskan sebagai Ketua Pelajaran Agama (menyamai jawatan Penolong Mufti). Dengan itu baik secara rasmi mahupun tidak, pendapat-pendapatnya sering diterima untuk dilaksanakan oleh pemerintah negeri yang diketuai oleh sahabatnya, Haji Nik Mahmud bin Ismail yang berjawatan Datuk Perdana Menteri (Menteri Besar). Datuk Perdana Menteri pernah datang menemui Tok Kenali dan bertanya, “Tok guru, apa jalan untuk kita memajukan bandar kita, adakah dengan membuat banyak-banyak kedai perniagaan?”

Menurut cerita cucunya YB Haji Mawardi Hj Ahmad yang penulis temui, ketika Datuk Perdana Menteri datang, Tok Kenali sedang dimandikan oleh muridnya di kolah belakang masjid Kenali. Tok Kenali bangun ingin menghormati ketua negeri itu tetapi sahabatnya Datuk Perdana Menteri itu berkata, “Tak payah, tak payahlah.” Lalu dengan spontan Tok Kenali berkata, “Datuk buka sekolah banyak-banyak, insya-ALLAH di situ akan wujud kedai-kedai, bangunan-bangunan dan maju dengan ramai orang.”

Mendengar jawapan itu, Datuk Perdana Menteri pun balik dan mengambil keputusan melaksanakan saranan yang mulia itu. Maka sejak itu lahirlah banyak sekolah agama dan juga sekolah kebangsaan di merata tempat dalam negeri Kelantan. Hasilnya amat nyata, dengan adanya sekolah, bidang-bidang lain turut wujud dan membangun. Dengan kata lain, pembangunan lahiriah terhasil dengan sendirinya bila telah wujud pembangunan rohani yang bermula dari pendidikan. Dampingan Tok Kenali dan Datuk Perdana Menteri itu merupakan gandingan di antara ulama dan umarak yang amat perlu bagi sesebuah negara yang bercita-citakan Islam. Segala keputusan berkaitan pemerintahan adalah berdasarkan pendapat dan keputusan ulama. Kebetulan mereka berdua adalah sahabat yang sealiran dalam cita-cita.

Baginda Sultan Ismail turut menghormati Tok Kenali sebagai seorang ulama besar. Bagindalah yang menitahkan supaya Tok Kenali menterjemahkan kitab induk Al Umm karangan Imam Syafi’i dan kitab tafsir Al Khazan. Kepercayaan ini diberi berdasarkan kemampuan besar Tok Kenali. Cuma penterjemahan kitab panjang berjilid-jilid ini tidak dapat disiapkan dalam masa hayat beliau. Istimewanya, walaupun Tok Kenali rapat dengan kerajaan dan raja yang memerintah, namun beliau tidak pernah tunduk kepada sebarang benTok maksiat yang dilakukan oleh penguasa dan orang ramai. Beliau hanya terlibat dalam soal-soal kebaikan sahaja, dan sentiasa berusaha menghapuskan maksiat. Dengan kata lain, Tok Kenali tidak menjadi ulama pengampu yang mengiyakan apa saja yang dibuat oleh pemerintah demi menjaga kedudukan dan periuk nasi. Tok Kenali tidak akan hadir sama sekali dalam majlis-majlis maksiat termasuk majlis walimah (kenduri kahwin) yang bercampur maksiat sekalipun ia turut dihadiri oleh orang-orang besar kerajaan. Orang ramai sangat memahami serta malu dengan sikap dan pendirian Tok Kenali ini.

AKHLAK DAN AMALAN KEROHANIAN

Tok Kenali terkenal sebagai orang yang sangat menghormati ibu, dan sentiasa memohonkan restu ibunya untuk membuat sesuatu pekerjaan baru yang besar. Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud, “Syurga di bawah tapak kaki ibu.” Beliau sentiasa merendah diri, sangat pemurah, suka menderma terutamanya kepada fakir miskin dan anak-anak yatim. Beliau juga seorang yang zuhud. Baginya dunia ini hanya daki yang akan ditinggalkan pada bila-bila masa saja. Dalam hidup bermasyarakat, beliau tidak pernah menolak jemputan atau hajat orang ramai kecuali uzur. Satu sifat mulia Tok Kenali, jika orang terjumpa sesuatu barang kepunyaannya terjatuh atau tertinggal maka beliau tidak mahu menerimanya jika orang itu ingin memulangkan semula kepadanya. Kejadian ini acap kali berlaku. Tok Kenali akan berkata, “Ambil ket mu lah tu, rezkimu.”

Ada tidak pun, murid-muridnya jika hendak memulangkan sesuatu milik Tok Kenali, ianya dipulangkan melalui Mak Haji, panggilan bagi Hajah Ruqayah, isteri Tok Kenali. Begitulah kehalusan budi pekerti Tok Kenali, yang merupakan hasil daripada amalan tareqat dan penghayatan ilmu tasawuf yang diselaminya daripada kitab-kitab besar karangan ulama-ulama muktabar seperti Al Imam Ghazali, Ibnu Ato’illah dan Syeikh Abdul Samad Al Palimbangi. Daripada kitab-kitab yang dijadikan teks pengajiannya dalam ilmu tasawuf, dapatlah difahami bahawa Tok Kenali menerima amalan-amalan rohaniah yang melibatkan tawassul, wasilah dan soal-soal tareqat. Persoalan ini terdapat dalam kitab-kitab Ihya Ulumuddin, Sirrus As Salikin dan Hikam.

Di samping mengamalkan tarekat (Tarekat Ahmadiah yang diasaskan oleh Syeikh Ahmad Idris), Tok Kenali juga banyak mengamalkan selawat nabi s.a.w, melazimkan bacaan surah Al Ikhlas dan doa yang disusun oleh Imam Ghazali dalam bertajuk Ayyuhal Walad (Wahai Anak). Doa ini agak panjang dan tidak dapat diperturunkan di sini. Begitu juga dengan selawat susunan Tok Kenali. Banyak lagi amalan peninggalan Tok Kenali termasuk amalan yang menyebut “Oh, Oh, Oh” dan “Hu, Hu, Hu” yakni bermaksud “Huwa, Huwa, Huwa” atau “Dia Allah… Dia Allah… Dia Allah… Dia Allah… Dia Allah.”

KARAMAH TOK KENALI

Banyak cerita tentang karamah Tok Kenali sudah diselit-selitkan secara tidak langsung dalam tulisan ini namun masih banyak lagi kejadian pelik yang benar-benar berlaku ke atas diri Tok Kenali sebagai seorang wali ALLAH itu.

Antaranya adalah seperti berikut:

Tok Kenali membenci amalan jahiliah berlaga kerbau yang masih menjadi kegemaran orang zaman itu. Satu hari, riuh-rendah orang ramai berpesta meraikan kemenangan kerbau laga milik Tok Deramin. Kerbau itu dipakaikan baju berhias. Kebetulan bertembung dengan Tok Kenali, lalu beliau bertanya, “Kenapa dipakai-pakai macam ni?”

Orang di situ menjawab secara mempersenda, “Kerbau itu panas.” Tok Kenali pun membalas jawapan itu dengan berkata, “Biar dia panas.” Dan pada malamnya rumah Tok Deramin termasuk bangsal kerbaunya terbakar hangus.

Ada seorang yang menjala ikan tak dapat-dapat sebarang jenis ikan, lalu bertembung dengan Tok Kenali. Tok Kenali pun memegang-megang sambil menepuk-nepuk jalanya itu. Selepas itu orang itu menjala dengan sekali campak (tebar) saja sudah dapat banyak sungguh ikan. Pernah berlaku beberapa kali anak muridnya mendapati Tok Kenali menyeberangi sungai tanpa dilihat melalui jambatan ataupun menaiki perahu. Cerita ini amat panjang. Dan Tok Kenali pula berjalan cepat sehingga anak-anak muridnya selalu ketinggalan.

“Beliau nampak berjalan macam biasa saja tetapi selalunya beliau sampai dulu seolah-olahnya dunia ini sempit baginya,” cerita murid-muridnya.

Dalam satu majlis jamuan buah-buahan, seorang daripada hadirin menyambut biji durian yang dikulum oleh Tok Kenali, seraya berkata, “Tok guru, yang ni hamba hendak buat benih.” Ternyata pokok durian yang ditanam dari biji benih yang berkat itu tumbuh begitu subur dan menghasilkan buah durian yang bermutu tinggi serta lazat.

Tok Kenali dikatakan ada firasat yang benar. Ini dapat dibuktikan dengan ramalannya yang betul-betul berlaku. Sabda Rasulullah SAW, maksudnya: “Takutilah firasat orang Mukmin kerana dia melihat dengan nur (cahaya) ALLAH.” Pernah Tok Kenali memberitahu, “Jepun akan menjajah Tanah Melayu.” Ternyata lapan tahun selepas beliau kembali ke rahmatullah, bangsa bermata sepet itu masuk menguasai Tanah Melayu.

Tok Kenali juga pernah memberi amaran supaya bersiap sedia kerana banjir besar akan melanda Kelantan. Beliau berkata, “Aku ada alamat akan berlaku bah besar. Kerana itu kamu bersiap sedialah…” Setahun kemudian berlakulah bah besar seperti yang dikasyafkan kepada Tok Kenali itu yang terkenal dengan ‘bah merah’, yang tertera dalam catatan sejarah penting negeri Kelantan; berlaku pada 26 Disember 1926. Ia dinamakan ‘bah merah’ kerana airnya terlalu keruh berwarna kemerah-merahan. Air Sungai Kelantan melimpahi tebing dan menenggelamkan bandar Kota Bharu, hingga 12 hari baru surut. Banyak jiwa terkorban, binatang ternak mati, tanam-tanaman musnah dan rumah serta bangunan-bangunan rosak. (Beberapa hari selepas berlaku bah besar ini, berlaku pula kebakaran besar di Kota Bharu.)

Pada satu hari secara tiba-tiba Tok Kenali memanggil Tuan Haji Taib Kangkong, seorang murid tua yang pandai menyembelih. “Haji Taib, mana golok sembelihanmu?” tanya Tok Kenali. “Asah golok itu!” tambah Tok Kenali. Haji Taib memang mengetahui tiada binatang yang hendak disembelih lalu terlanjur lidahnya untuk bertanya, “Mana kambing, Tok Guru?”

“Asahlah golok itu, insya-Allah,” balas Tok Kenali.

Sesudah siap Haji Taib mengasah golok, tiba-tiba datang dua tiga orang membawa kambing masing-masing dan diserahkan kepada Tok Kenali.

“Ha, sembelihlah kambing-kambing ni,” arah Tok Kenali kepada murid tuanya yang cukup akur dengan perintah gurunya itu.

Setelah umurnya melebihi 60 tahun, Tok Kenali semakin uzur sehingga akhir-akhir hayatnya beliau terlantar di rumah kerana dihinggapi sakit patah jentang; berkudis di kaki kiri hingga berlubang merobok. Sakit tak terhingga. Tetapi Tok Kenali terus sabar dan tenang. Lubang kudisnya semakin membesar dan di dalamnya hidup ulat-ulat kudis. Satu hari sedang Tok Kenali mandi di tepi telaga pondoknya, ulat itu terjatuh, lalu beliau memanggil muridnya Haji Muhammad Gelang Tok Uban.

“Mat cepat mari, ayah panggil,” jerit Hajjah Ruqaiyah yang berada di sisi suaminya itu. Haji Muhammad segera mendapatkan Tok guru kesayangannya itu.

“Cepat Mat, selamatkan saudaraku, dia terjatuh ke dalam lubang lalu menghilang,” arah Tok Kenali, meminta muridnya itu mencari ulat itu dan memasukkan semula ke dalam lubang di kakinya. Ulat itu ditemui lalu Tok Kenali sendiri yang memasukkannya ke dalam lubang kudis di kakinya itu.

“Tok guru, biar hamba buang ulat di kaki Tok guru,” pinta muridnya agar tuan gurunya segera sembuh. Tok Kenali yang sudah rasa dirinya tidak akan lama lagi berada di dunia fana itu berkata perlahan-lahan, “Biarlah dia hidup, dia mahu makan seperti kita manusia juga.” Peristiwa ini mengingatkan kita kepada ujian yang menimpa Nabi Allah Ayub a.s. yang sabar menanggung derita sakit kudis penuh badan hingga berulat. Tidak lama kemudian sakit Tok Kenali menjadi berat. Beliau berbaring tidak mengeluarkan apa-apa perkataan lagi. Anak-anak dan isteri berada di sekelingnya. Cucunya YB Haji Mawardi menceritakan satu peristiwa sahih yang beliau dapat secara langsung dari ayahnya sendiri.

Tuan Haji Ahmad Bakok, anak sulung Tok Kenali. Cerita-nya begini: Sewaktu masing-masing berada di sekeliling Tok Kenali yang berbaring tanpa berkata apa-apa, Tuan Guru Haji Ahmad Bakok duduk di sebelah belakang ayahnya (bantal baring Tok Kenali ditinggikan). Suasana hening seketika. Pada masa itu Tuan Guru Haji Ahmad mendengar kalimah Allah…, Allah…, Allah…, Allah…, Allah…, Allah…, Allah…. dari dalam diri ayahnya. Tuan Guru Haji Ahmad bergerak ke samping tetapi dilihat mulut ayahnya sedikit pun tidak bergerak sedangkan kalimah Allah…, Allah…, Allah… terus kedengaran. Haji Ahmad sedar hati ayahnya hidup dengan lafaz mulia yang terang sampai didengar oleh telinganya. “Ini cerita sahih daripada ayah saya,” cerita YB Haji Mawardi kepada penulis. Di saat-saat begitulah Tok Kenali kembali menemui Kekasihnya yang tercinta Allah Azzawajalla pada bulan Syaaban 1352 Hijrah bersamaan 19 November 1933 berusia 65 tahun. Kembalinya ulama berjiwa sufi yang dikenang jasa-jasa peninggalannya dan menjadi suri teladan kepada generasi kini.

Tok Kenali pandai dan rajin memasak khususnya beberapa jenis masakan Arab seperti kebab. Selalu juga saya diminta menolongnya memasak dan apabila siap dia panggil ramai-ramai makan. Untung juga kami kerana dapat menumpang makan masakan Arab. Masakan Melayu pun dia pandai.”

Begitulah antara keistimewaan peribadi Tok Kenali menurut pandangan Haji Mohd Nor atau lebih dikenali dengan panggilan Tok Ayah Nor Bot, 87 tahun. Beliau menjadi murid Tok Kenali selama kira-kira 20 tahun. Sejak berumur dalam lingkungan 19 tahun, Tok Ayah Nor Bot menjadi anak murid Tok Kenali selama 10 tahun di Pondok Kenali, Kubang Kerian dan 10 tahun lagi di Masjid Al Muhammadi, Kota Bharu. Kemudian beliau melanjutkan pelajarannya ke Makkah selama 7 tahun bersama Tuan Guru Haji Ahmad, anak sulung Tok Kenali. Semasa di Makkah, Tok Ayah Nor Bot (Bot ialah nama tempat beliau dilahirkan) tidak dapat lagi mengikuti perkembangan perjuangan Tok Kenali. Namun beliau mempunyai hubungan yang sangat rapat dengan Tok Kenali sebagai murid kanan. “Hamba rasa dia (Tok Kenali) macam ayah hamba sendiri,” kata Tok Ayah Nor Bot ketika ditemui di rumahnya.

Beliau berkata Tok Kenali pandai mengajar dengan cara yang mudah difahami oleh murid walaupun matapelajaran rumit seperti nahu, saraf, tafsir. Murid-muridnya pula sentiasa mendapat galakan dan bersemahgat serta bersungguh-sungguh mentelaah dan menghafaz sehingga larut malam. “Ramai di antara kami berlumba-lumba menghafaz ilmu terutamanya nahu saraf,” tambah Tok Ayah Nor Bot dengan senyum berseri-seri. Kemudiannya beliau berjaya membuka pondok di kampungnya, Bot, Kelantan. Ini pun atas galakan Tok Kenali.

Masjid Beijing, Rantau Panjang, Kelantan

“Tok Kenali mengajar pada sebelah pagi selepas Isyrak sehingga hampir Zuhur. Pada sebelah malam, tuan-tuan guru lain pula mengambil alih mengajar. Selalu juga Tok Kenali tidak berjemaah sembahyang fardhu Isyak kerana beliau menunaikan sembahyang Isyak pada waktu tengah malam dan diikuti dengan sembahyang Tahajjud, berwirid dan membaca Al Quran, kadang-kadang sehingga Subuh, dan terus berjemaah Subuh bersama kami,” cerita Tok Ayah mengingati zaman silamnya bersama Tok guru yang disayanginya.


Susunan program hidup itu memudahkan Tok Kenali memenuhi hajat-hajat orang ramai pada masa lapangnya. Beliau tersangat suka membesarkan pemberian orang dan sentiasa memenuhi jemputan bagi menggembirakan hati orang ramai (kecuali jemputan kenduri kahwin yang ada maksiat). “Tok Kenali yang saya kenali itu tidak pernah menolak pemberian orang ramai. Kalau musim buah-buahan, silih berganti orang menziarahi beliau untuk memberi buah-buah kadang-kadang berguni-guni banyaknya. Saya selalu mengikuti beliau untuk tolong membawanya ke pondok dan dibahagi-bahagikan kepada kami semua. Kadang-kadang Tok Kenali menolong beli barang-brang keperluan penduduk pondok apabila ia keluar ke pasar. Anehnya apabila balik dia bawa bakul penuh dengan berisikan ikan, sayur-sayur yang diberikan oleh peniaga-peniaga pasar. Begitulah selalunya. Kemudian dia bagi-bagikan.”

Menurut Tok Ayah lagi, walaupun Tok Kenali tidak suka memarahi muridnya, lebih-lebih lagi merotan, namun semua muridnya sangat malu dan terlalu menghormati beliau. Beliau juga disegani kawan dan digeruni lawan.

“Ramai juga musuhnya yang tidak senang dengan peribadi dan perjuangan yang tidak baik di belakang beliau. Anehnya tak seorang pun sanggup untuk berdepan dengan beliau. Ini mungkin barangkali satu daripada karamah Tok Kenali yang berjuang sungguh-sungguh membangunkan pondok,” jelas Tok Ayah lagi.

Mengenai penerbitan majalah Pengasuh, Tok Ayah tidak begitu pasti kerana pada masa itu dia di Makkah. Tetapi apa yang dia tahu, majalah itu diterbitkan oleh Datuk Perdana Menteri dan digerakkan oleh Tok Kenali. Peranan Tok Kenali dalam Majlis Agama Islam dan Adat Istiadat Melayu Kelantan terlalu besar. “Dalam setiap mesyuarat, Tuan Mufti Haji Idris selaku pengerusi tetap bertanya kepada Tok Kenali sebagai rujukan terakhir dalam semua masalah sama ada penting atau tidak,” tambah beliau.

Demikian kegigihan serta kebijaksanaan serta tarbiah-tarbiah lisan, tulisan dan contoh teladan yang diberikan, menjadikan Tok Kenali seorang pemimpin masyarakat dan tuan guru yang berwibawa. Beliau berjaya melahirkan murid-murid dan ulama-ulama yang berjiwa sufi serta mampu mengendalikan pondok-pondok di tempat masing-masing. Tok Kenali, seorang tokoh pejuang, pemimpin dan guru kepada ribuan murid dan pengikut dari merata tempat di Nusantara ini.

Sumber: http://kisahteladan.info/ulama/tok-kenali.html

Rabu, 5 September 2012

KISAH HABIB NUH DI SINGAPURA

Makam Habib Nuh di Singapura
Di Singapura, nama As Sayid Habib Nuh sudah tidak asing lagi. Beliau berketurunan Rasulullah SAW menerusi nasab Zainal Abidin bin Sayidina Hussein r.a. Maqamnya yang terletak di atas sebuah bukit kecil di Jalan Palmer, sering dikunjungi pelawat terutama pada hari-hari cuti. Pengunjung maqam itu bukan saja daripada kalangan orang Islam Singapura dan Malaysia tetapi ramai juga dari negara-negara Asia lain. Ini menunjukkan Habib Nuh r.h. lebih masyhur selepas kematiannya berbanding semasa hayatnya.

Sebagai seorang wali Allah, pelbagai cerita pelik dan luar biasa berlaku kepada dirinya, dan cerita-cerita itu belum ditulis dalam bentuk buku atau manakib. Tulisan ini memaparkan sebahagian daripada keistimewaan, karamah dan kejadian-kejadian aneh yang berlaku ke atasnya yang menggambarkan beliau sebagai orang kerohanian yang mempunyai peranan tersendiri dan tersembunyi.


Orang hanya mengenali Sayid Habib Nuh sebagai wali Allah yang mempunyai pelbagai karamah, tetapi tidak ramai yang dapat menyelami peranannya sebagai orang kerohanian yang hampir dirinya dengan Allah SWT. Kerana peranan sebagai rijalullah atau rijalulghaib ini amat simbolik dan sukar difahami menerusi bahasa dan pengertian yang zahir, sedangkan tugas mereka juga besar.


Barangkali tugas yang tersembunyi inilah yang diberikan kepada orang-orang seperti Nabi Khidir a.s. pada zaman Nabi Musa a.s., Abu Huzaifah r.a. pada zaman Sayidina Umar Al Khattab r.a. dan Uwais Al Qarni pada zaman Sahabat dan tabi’in. Nabi Khidir a.s. umpamanya, seorang yang tinggi kerohanian dan kasyaf sehingga Nabi Musa a.s. berguru dengannya dalam bidang kerohanian. Dengan kata lain, dalam soal me-nyingkap rahsia alam ghaib, Nabi Khidir a.s. melebihi Nabi Musa a.s. walaupun maqam Nabi Musa lebih tinggi kerana, selain terkenal di kalangan Bani Israil, Nabi Musa a.s. seorang rasul bertaraf ulul azmi. Banyak riwayat mengatakan Nabi Khaidir a.s. masih hidup dan masih berperanan (di alam kerohanian).


Abu Huzaifah r.a. pula dikurniai keistimewaan kasyaf; boleh mengenali orang-orang munafiq. Malah Sayidina Umar Al Khattab r.a. sewaktu menjadi khalifah sentiasa mendapat panduan daripada Abu Huzaifah untuk mengenal pasti orang-orang munafiq khususnya dalam menentukan seseorang yang meninggal dunia itu Mukmin atau munafiq. Walhal Sayidina Umar terkenal sebagai Sahabat yang lebih kanan dan dijamin masuk Syurga. Jelaslah Allah SWT membuka tirai hijab bagi Abu Huzaifah yang melihat perkara-perkara yang orang lain tidak dapat melihatnya.


Demikian juga Uwais Al Qarni yang “tidak terkenal di bumi tetapi terkenal di langit”. Beliau adalah seafdhal-afdhal tabi’in. Rasulullah SAW berpesan kepada Sayidina Umar dan Sayidina Ali supaya menemui Uwais, dan “minta-lah doanya”. Sedangkan Sayidina Umar dan Sayidina Ali terkenal dengan ketaqwaan dan tinggi kerohanian.


Maka kedua-duanya, Sayidina Umar dan Sayidina Ali dari tahun ke tahun sibuk di musim Haji bertanya khabar kepada setiap khafilah yang datang dari Yaman kalau-kalau terdapat seorang bernama Uwais Al Qarni seperti sudah digambarkan oleh Rasulullah SAW itu. Akhirnya bertemu juga. Uwais Al Qarni rupa-rupanya hanya seorang khadam pengembala kambing bagi kafilah dari Yaman yang disertainya. Dia tidak dipedulikan dan disangka seorang yang tidak begitu siuman. Tetapi matanya kebiru-biruan, dan kepalanya sentiasa dihanggukkan kerana berzikir. Apabila diminta berdoa untuk mereka, Uwais Al Qarni menjawab: “Aku tidak akan mendoakan kamu berdua tetapi aku berdoa untuk kesejah-teraan semua manusia.” Nyatalah doa orang seperti Uwais Al Qurni sangat makbul dan ianya diperlukan oleh dunia.


Berdasarkan ciri-ciri istimewa yang ada pada Nabi Khidir a.s., Abu Huzaifah r.a. dan Uwais Al Qarni r.h. maka ciri-ciri yang sama juga ada pada As Sayid Habib Nuh. Ini di-akui oleh Syed Omar bin Abd Kadir Al Idrus, seorang ulama, cucu Tokku Paloh, sewaktu ditemui beberapa tahun lalu.


Pada masa hidupnya, Habib Nuh tidak dipedulikan malah dikata gila, tidak gemar bergaul dengan manusia. Cuma beliau dikenali sebagai seorang yang sangat menyayangi kanak-kanak kerana kanak-kanak tidak berdosa dan dijamin Syurga. Dan Habib Nuh tidak meninggalkan apa-apa jasa berbentuk lahir seperti sekolah, kitab-kitab, atau masjid yang beliau bangunkan. Tidak ada. Anehnya, setelah meninggal dunia, beliau sangat masyhur.


Mengenai keistimewaan dan ketinggian kedudukan Habib Nuh, Pak Cik Muhammad Abu Bakar, 102 tahun, khadam kepada Syeikh Haji Said Al Linggi r.h. menceritakan satu peristiwa yang berlaku ke atas gurunya yang ada kaitan dengan As Sayid Habib Nuh:


Pada satu hari, seperti biasa Syeikh Muhammad Said masuk ke bilik suluk khas selepas sembahyang jemaah Asar. Seperti biasa juga, Pak Cik Muhammad menunggu di luar bilik kalau-kalau beliau dipanggil masuk oleh gurunya untuk satu-satu hajat. Tetapi pada petang itu beliau tidak dipanggil, dan gurunya keluar dari bilik suluk itu apabila hampir masuk waktu Maghrib dan terus sembahyang jemaah Maghrib ber-sama anak-anak muridnya. Malam itu Syeikh Said tidak mengajar. Selesai sembahyang sunat, beliau bercakap dengan Pak Cik Muhammad secara empat mata.


“Engkau tahu aku pergi ke mana tadi?” kata Syeikh Said.

“Saya tidak tahu,” jawab Pak Cik Muhammad dengan beradab.

“Aku pergi bersidang di Bukit Qhauf. Aku dan Habib Nuh sahaja yang mewakili umat sebelah sini. Rasulullah SAW juga hadir, dan engkau jangan cerita berita ini kepada sesiapa sebelum aku mati.”


Pak Cik Muhammad Abu Bakar menyimpan amanat ini sehingga beliau memberitahu penulis sewaktu ditemui di rumahnya di Seremban pada tahun 1991. Syeikh Said Linggi meninggal dunia pada tahun 1926.


Menurut Pak Cik Muhammad, Bukit Qhauf itu duduk di luar daripada Alam Syahadah. ”Walaupun persidangan itu dihadiri oleh Rasulullah SAW tetapi ia dipengerusikan oleh seorang lain, tak tahulah siapa orang istimewa itu,” tambah Pak Cik Muhammad.


“Bila ditanya siapa orang yang mempengerusikan majlis itu, Syeikh Said tidak memberitahu.”

Syeikh Said memberitahu juga bahawa majlis yang dihadiri oleh beliau dan Habib Nuh ialah persidangan wali-wali yang membincangkan, di antara lain, tentang satu wabak yang akan turun, yakni wabak cacar. Dan para wali yang bersidang itu mohon bala itu supaya tidak turun. Alhamdulillah, makbul. Tetapi, menurut Pak Cik Muhammad, “tempiasnya” masih mengenai orang ramai sehingga ramai yang mati terutamanya orang-orang kafir. (Wabak cacar pada masa itu merupakan penyakit yang sangat merbahaya dan belum ditemui ubatnya).


“Saya tiga hari pengsan, dan bahu saya masih berparut diserang wabak cacar itu. Itu pun Syeikh Said yang mengubat saya,” kata Pak Cik Muhammad sambil menunjuk parut cacar di atas bahunya. Cerita ini menggambarkan peranan tersembunyi As Sayid Habib Nuh sebagai ‘pencatur dunia’ yang mana kenyataan ini sukar diterima oleh mereka yang hanya menggunakan akal dalam menilai sesuatu kebenaran.


As Sayid Habib Nuh dikurniai Allah berbagai-bagai karamah sebagai tanda kemuliaan pada dirinya. Pelbagai cerita mengenai kewalian dan karamah beliau dibawa dari mulut ke mulut sehinggalah kepada Sayid Hassan Al Khattib, penjaga maqam Habib Nuh r.h. Di antaranya adalah seperti berikut: As Sayid Habib Nuh bersikap tidak menghormati orang-orang yang angkuh dengan kekayaan atau jawatan duniawi. Begitulah, walaupun orang menghormati atau takut kepada Crawford, Gabenor Singapura ketika itu, tetapi Habib Nuh tidak pernah menghormati atau takut kepada wakil penjajah itu.


Dalam satu peristiwa, Gabenor Crawford marah dan menghina Habib Nuh kerana Habib Nuh tidak menghormatinya. Tiba-tiba saja kereta kuda yang dinaiki Gabenor itu terlekat di bumi dan tidak dapat bergerak. Gabenor naik marah dan bertanya hal itu kepada pengiringnya. Tetapi pengiring itu bertanya kepada tuan Gabenornya, “Tahukah tuan siapakah orang yang tuan marah dan hina itu?” Gabenor menjawab, “Itu orang gila.”


“Sebenarnya dia bukan gila tetapi dia orang baik dan ada karamah. Lihat, bila tuan marah pada dia, dia sumpah dan sekarang kereta tuan tidak dapat bergerak,” jelas pengiringnya.


Gabenor menjadi takut dan akhirnya meminta maaf kepada Habib Nuh. Setelah Habib Nuh menepuk-nepuk kaki kuda itu, barulah kuda itu berjalan pantas seperti biasa. Sejak itu Gabenor sedar betapa As Sayid Habib Nuh r.h. mempunyai kelebihan luar biasa. 

Bagaimanapun, pada satu ketika Gabenor Crawford terus bersikap bongkak dan sombong dan memerintahkan orang-orangnya menangkap Habib Nuh dan mengurungnya di dalam penjara dengan kaki dan tangannya dirantai. Tindakan keras ini diambil kerana As Sayid Habib Nuh tetap enggan menghormati wakil penjajah yang beragama kristian itu. Anehnya, para pengawal penjara kemudian melihat Habib Nuh berada di luar penjara. Tangan dan kakinya tidak dirantai. Walaupun ditangkap semula, dia tetap dapat keluar dan kelihatan seolah-olah tidak ada apa-apa yang berlaku padanya. Akhirnya beliau dibebaskan sepenuhnya.


Dalam satu peristiwa lain, ketika sebuah kapal hendak belayar, muncul Habib Nuh di pelabuhan. Habib Nuh menahan barang-barang yang berharga daripada dibawa bersama dalam pelayaran itu. Orang-orang yang terlibat tidak senang dengan sikap Habib Nuh tetapi Habib Nuh tetap bertegas: “Tidak boleh barang-barang yang berharga itu dibawa.”


Setelah lama berbalah, akhirnya orang ramai terpaksa akur dengan kemahuan Habib Nuh itu dan pemilik barang-barang tersebut tidak jadi mengirim barangnya dengan kapal itu. Beberapa hari kemudian, penduduk Singapura mendapat berita bahawa kapal yang belayar itu terbakar dan tenggelam di tengah lautan. Barulah tuan punya barang-barang tersebut sedar hikmah di sebalik larangan Habib Nuh itu. Beliau bersyukur yang tidak terhingga kepada Allah SWT. 

Seorang lelaki yang hendak belayar menemui Habib Nuh meminta beliau mendoakan agar pelayarannya itu selamat. Alhamdulillah, lelaki itu selamat dalam pelayaran. Dan anehnya apabila sampai di tempat.yang dituju dan sebaik saja turun dari kapal, didapatinya Sayid Habib Nuh sedang menunggunya. Orang itu terperanjat, bagaimana Sayid Habib Nuh boleh berada di situ dan dengan apa dia datang.


Dalam satu peristiwa lain, seorang berniat dalam hatinya ketika hendak belayar, sekiranya dia selamat pergi dan balik dia akan menghadiahkan kain kepada Habib Nuh. Setelah 10 tahun berlalu, dia pun pulang dari pelayaran itu. Habib Nuh pergi menemuinya dan menuntut kain seperti yang diniatkannya itu. Orang itu terperanjat kerana dia tidak pernah menyatakan niatnya itu kepada sesiapa dan dia sendiri sudah lupa dengan niatnya itu kerana terlalu lama, tetapi Habib Nuh datang mengingatkannya akan niat baiknya itu. Menurut orang-orang yang hidup sezaman dengan Habib Nuh, mereka pernah bertemu atau berada dengannya di beberapa tempat dalam satu masa yang sama. Kejadian seperti ini tidak pelik bagi para wali-wali Allah.


Antara sifat yang menonjol pada diri Sayid Habib Nuh ialah, beliau sangat menyayangi kanak-kanak. Sering orang bertemu Habib Nuh dikelilingi oleh kanak-kanak. Ini sesuatu yang ganjil. Kadang-kadang beliau singgah di kedai-kedai bersama kumpulan kanak-kanak, dan kanak-kanak itu mengambil seberapa banyak makanan yang ada tanpa membayar apa-apa. Anehnya, tuan-tuan kedai tidak pula melarang perbuatan itu. Kerana mereka yakin kedai mereka akan beroleh berkat jika dikunjungi Habib Nuh bersama kumpulan kanak-kanak itu. Ini terbukti, mana-mana kedai orang Islam yang didatangi oleh Habib Nuh bersama kanak-kanak itu, kemudiannya menjadi maju dan tidak putus-putus dikunjungi pelanggan. Sayid Habib Nuh sayang kepada kanak-kanak kerana mereka adalah ahlul Jannah (ahli Syurga). Kelakuan Sayid Habib Nuh itu agak ganjil bagi seorang yang sudah tua. Memang itu merupakan di antara keganjilan Habib Nuh, seorang yang mempunyai keistimewaan yang terlindung.


Sebelum meninggal dunia, As Sayid Habib Nuh r.h. berwasiat supaya jenazahnya dikebumikan di sebuah bukit kecil di Jalan Palmer. Wasiat itu agak ganjil. Bukan saja tempat yang dimaksudkannya itu terasing daripada kubur orang-orang lain tetapi bukit tersebut juga terlalu hampir dengan laut dan sering terdedah kepada pukulan ombak. Tidak lama kemudian, iaitu pada 14 Rabiulawal 1283H, As Sayid Habib Nuh kembali ke rahmatullah. Urusan pengkebumian terus dijalankan. Memandangkan bukit di Jalan Palmer itu dari masa ke masa dihakis oleh air maka keluarga Habib Nuh berbincang semula dan akhirnya memutuskan untuk mengkebumikan jenazah beliau di tempat lain. Setelah selesai dimandikan, dikapan dan disembahyangkan, orang ramai pun hendak mengangkat jenazahnya untuk dibawa ke kubur. Tetapi entah mengapa keranda yang berisi jenazah yang mulia itu tidak terangkat. Walaupun dicuba oleh puluhan orang namun tidak juga terangkat. Semua hadirin menjadi hairan dan heboh.


Datang seorang yang berilmu mengingatkan tentang wajibnya menunaikan wasiat. Dia menasihatkan ahli keluarga Habib Nuh supaya mengkebumikan saja jenazahnya di tempat yang diwasiatkan itu. Tentang apa saja akan berlaku ke atas bukit itu, serah saja kepada Allah SWT. Mungkin melalui pandangan kasyafnya, As Sayid Habib Nuh nampak bukit itu akan tetap terpelihara keadaannya sampai bila-bila. Ahli keluarga dan hadirin akur dengan nasihat tersebut. Selepas itu keranda Habib Nuh dapat diangkat dengan mudah untuk dikebumikan di tempatnya sekarang (bukit kecil di Jalan Palmer). Diceritakan juga, keranda itu terpaksa dibawa melalui satu lorong kecil yang di kiri kanan dan di atasnya penuh dengan pokok buluh Cina. Semasa melalui lorong itu, keranda tersebut merempuh sarang tebuan sehingga sarang itu pecah. Tetapi tebuan-tebuan itu tidak sedikit pun mengganggu orang ramai yang mengiringi jenazah itu.


Beberapa tahun selepas jenazah Habib Nuh dikebumikan iaitu pada tahun 1890, seorang hartawan bernama Sayid Muhammad bin Ahmad Al Sagof membuat binaan di atas maqam Habib Nuh itu. Beberapa tahun lalu maqam itu dibaik pulih kerana binaan lama sudah hampir roboh.


Pada tahun 1962, kerajaan Singapura menambak laut di sekitar maqam itu sehingga menjadi dataran, dan di situ didirikan bangunan-bangunan. Keadaan tempat itu sekarang jauh berbeza dengan apa yang digambarkan akan berlaku sebelum adanya maqam Habib Nuh di situ. Dengan itu maqam As Sayid Nuh terus terselamat. Beberapa tahun lalu, urusan pen-jagaan maqam ini diambil alih oleh Majlis Ugama Islam Singapura. Dan seperti biasa maqam Habib Nuh itu sering diziarahi oleh orang ramai termasuk orang-orang Arab dari Hadralmaut dan negara-negara Arab lain, serta umat Islam di sekitar Asia untuk mendapat keberkatan daripada kewaliannya. Juga sebagai memenuhi seruan Rasulullah SAW supaya menziarahi kubur agar dapat mengingati mati (zikrul maut).


Sumber: http://kisahteladan.info/wali/habib-nuh.html

AKHiRAT DIDAHULUKAN...

 قال الامام القدوة عون بن عبد الله رحمه الله: إن من كان قبلنا كانوا يجعلون لدنياهم ما فضل عن آخرتهم، وإنكم اليوم، تجعلون لآخرتكم ما فضل عن د...