Memaparkan catatan dengan label Kisah Para Ahli Ibadah. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Kisah Para Ahli Ibadah. Papar semua catatan

Rabu, 2 Oktober 2013

KisAH OraNG SoLEH - ABu QiLaBAH

Kisah orang solih : Abu Qilabah
Gambar hiasan sahaja
Abu Ibrahim bercerita:
Suatu ketika, aku berjalan-jalan di padang pasir . Aku tersesat dan tidak berjumpa jalan pulang. Di sana kutemukan sebuah khemah lama dan lusuh… kuperhatikan khemah tersebut, dan ternyata di dalamnya ada seorang tua yang sedang duduk di atas tanah dengan keadaan sangat tenang.

Ternyata keadaan orang tua tersebut kedua-dua tangannya kudung… matanya buta… dan hidup sebatang kara tanpa sanak saudara. Kulihat bibirnya terkomat-kamit mengucapkan beberapa kalimat..
Aku mendekati untuk mendengar ucapannya, dan ternyata ia mengulang-ulang kalimat berikut:

الحَمْدُ لله الَّذِي فَضَّلَنِي عَلَى كَثِيْرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيْلاً .. الحَمْدُ للهِ الَّذِي فَضَّلَنِي عَلَى كَثِيْرٍ مِمَّنْ خَلَق تَفْضِيْلاً ..

Segala puji bagi ALLAH yang melebihkanku di atas banyak manusia… Segala puji bagi ALLAH yang melebihkanku di atas banyak manusia…

Aku hairan  mendengar ucapannya, lalu kuperhatikan keadaannya lebih jauh… ternyata sebahagian besar panca inderanya tak berfungsi… kedua tangannya kudung… matanya buta… dan ia tidak memiliki apa-apa bagi dirinya…

Kuperhatikan keadaannya sambil mencari adakah ia memiliki anak yang menjaganya? atau isteri yang menemaninya? Ternyata,  tak ada seorang pun…

Aku mendekatinya, dan ia merasakan kehadiranku… ia lalu bertanya: “Siapa? siapa?”
“Assalaamu’alaikum… aku seorang yang tersesat dan melihat kemah ini” jawabku, “Tapi kamu sendiri siapa?” tanyaku.

“Mengapa kau tinggal seorang diri di tempat ini? Di mana isterimu, anakmu, dan saudara-maramu? tanyaku..

“Aku seorang yang sakit… semua orang meninggalkanku, dan kebanyakan keluargaku telah meninggal…” Jawabnya.

“Namun kudengar kau mengulang-ulang perkataan: “Segala puji bagi ALLAH yang melebihkanku di atas banyak manusia…!! Demi ALLAH , apa kelebihan yang diberikan-Nya kepadamu, sedangkan engkau buta, faqir, kudung kedua tangannya, dan sebatang kara…?!?” Ucapku.

“Aku akan menceritakannya kepadamu… tapi aku punya satu permintaan kepadamu, mahukah kamu mengabulkannya?” tanyanya.

“Jawab dulu pertanyaanku, baru aku akan mengabulkan permintaanmu.” kataku.
“Engkau telah melihat sendiri betapa banyak cobaan ALLAH atasku, akan tetapi segala puji bagi ALLAH yang melebihkanku di atas banyak manusia… bukankah ALLAH memberiku akal sihat, yang dengannya aku boleh memahami dan berfikir…?

“Betul.” jawabku. Lalu katanya, “Berapa banyak orang yang gila?”
“Banyak juga.” jawabku. “Maka segala puji bagi ALLAH yang melebihkanku di atas banyak manusia.” Jawabnya.
“Bukankah ALLAH memberiku pendengaran, yang dengannya aku bisa mendengar adzan, memahami ucapan, dan mengetahui apa yang terjadi di sekelilingku?” tanyanya
.
“Iya benar.” Jawabku. “Maka segala puji bagi ALLAH yang melebihkanku di atas orang banyak tersebut.” Jawabnya.
“Betapa banyak orang yang tuli tak mendengar…?” Katanya.

“Banyak juga…” Jawabku. “Maka segala puji bagi ALLAH yang melebihkanku di atas orang banyak tersebut.” katanya.
“Bukankah ALLAH memberiku lisan yang dengannya aku boleh berdzikir dan menjelaskan keinginanku?” tanyanya.

“Iya benar” jawabku. “Lantas berapa banyak orang yg bisu tidak bisa bicara?” tanyanya.
“Wah, banyak itu.” Jawabku. “Maka segala puji bagi ALLAH yang melebihkanku di atas orang banyak tersebut.”  jawabnya.

“Bukankah ALLAH telah menjadikanku seorang muslim yang menyembah-Nya… mengharap pahala dari-Nya… dan bersabar atas musibahku?” tanyanya.

“Ya benar.” Jawabku. Lalu katanya, “Padahal berapa banyak orang yg menyembah berhala, salib, dan sebagainya dan mereka juga sakit? Mereka merugi di dunia dan akhirat…!!”
“Banyak sekali.” Jawabku. “Maka segala puji bagi ALLAH yang melebihkanku di atas orang banyak tersebut.” katanya.

Orang tua itu terus menyebut kenikmatan ALLAH atas dirinya satu-persatu… dan aku semakin takjub dengan kekuatan imannya. Ia begitu mantap keyakinannya dan begitu rela terhadap pemberian ALLAH.

Betapa banyak manusia selain beliau, yang musibahnya tidak sampai seperempat dari musibah beliau. Mereka ada yang lumpuh, ada yang kehilangan penglihatan dan pendengaran, ada juga yang kehilangan anggota tubuhnya… tapi bila dibandingkan dengan orang ini, maka mereka tergolong ‘sihat’. Pun demikian, mereka meronta-ronta, mengeluh, dan menangis mengenangkan nasib.  Mereka amat tidak sabar dan tipis keimanannya terhadap balasan ALLAH atas musibah yang menimpa mereka, padahal pahala ujian tersebut sangat besar.

Aku pun menyelami fikiranku makin jauh… hingga akhirnya khayalanku terputus saat orang tua itu mengatakan: “Hmmm, bolehkah kusebutkan permintaanku sekarang… mahukah kamu mengabulkannya?”

“Baiklah.. apa permintaanmu?” Kataku.
Maka ia menundukkan kepalanya sejenak seraya menahan tangis.. ia berkata: “Tidak ada lagi yang tersisa dari keluargaku melainkan seorang remaja berumur 14 tahun. Dia lah yang menghantar kepadaku makan dan minum, serta mewudhukan aku dan mengurusi segala keperluanku.  Sejak malam tadi ia keluar mencari makanan untukku dan belum kembali hingga kini. Aku tak tahu apakah ia masih hidup dan diharapkan kepulangannya, ataukah telah tiada dan kulupakan saja… dan kamu tahu sendiri keadaanku yang tua bangka dan buta, yang tidak mampu mencarinya…”

Maka kutanya ciri-ciri anak tersebut dan ia menyebutkannya, maka aku berjanji akan mencarikan remaja tersebut untuknya.

Aku pun meninggalkannya dan tak tahu bagaimana cara untuk mencari remaja tersebut… aku tak tahu harus memulai dari arah mana.

Namun tatkala aku berjalan dan bertanya-tanya kepada orang sekitar tentang remaja tersebut, nampaklah olehku dari kejauhan sebuah bukit kecil yang tak jauh letaknya dari kemah orang tua itu.

Di atas bukit tersebut ada sekawanan burung gagak yang sedang mengerumuni sesuatu… maka segeralah terdetik di benakku bahawa burung tersebut tidaklah berkerumun kecuali pada bangkai, atau sisa makanan.

Aku pun mendaki bukit tersebut dan mendatangi kawanan gagak tadi hingga mereka berhamburan terbang.
Tatkala kudatangi lokasi tersebut, ternyata remaja tersebut telah wafat dengan badan terpotong-potong. Rupa-rupanya seekor serigala telah menerkamnya dan memakan sebahagian dari tubuhnya, lalu meninggalkan sisanya untuk burung-burung.

Aku lebih sedih memikirkan nasib or tang tua dari pada nasib remaja yang telah terkorban itu.

Aku pun turun dari bukit… dan melangkahkan kakiku dengan berat menahan kesedihan yang mendalam.
Haruskah kutinggalkan orang tua itu dan  menghadapi nasibnya sendirian… ataukah kudatangi dia dan ku khabarkan nasib yang menimpa anaknya itu?

Aku berjalan menuju ke khemah orang tua itu. Aku bingung bagaimana cara untuk menerangkan keadaan anaknya?

Lalu terlintaslah di hatiku akan kisah Nabi Ayyub ‘alaihissalaam. Maka aku temui orang tua itu dan ia masih dalam keadaan yang sama seperti ketika kutinggalkan. Ku ucapkan salam kepadanya, dan orang tua yang malang itu menyatakan rasa rindunya dan teramat ingin melihat anaknya. Dia mendahuluiku dengan bertanya: “Di mana anaknya?”

Namun kataku, “jawablah terlebih dahulu… siapakah yang lebih dicintai ALLAH  engkau atau Ayyub ‘alaihissalaam?”
“Tentu Ayyub ‘alaihissalaam lebih dicintai ALLAH” jawabnya.
“Lantas siapakah di antara kalian yang lebih berat ujiannya?” tanyaku kembali.
“Tentu Ayyub…” jawabnya.

“Kalau begitu, berharaplah pahala dari ALLAH kerana aku mendapati anakmu telah terkorban di lereng gunung… ia diterkam oleh serigala dan dikoyak-koyak tubuhnya…” jawabku.

Maka orang tua itu pun tersedak-sedak seraya berkata, “Laa ilaaha illallaaah…” dan aku berusaha meringankan musibahnya dan menyabarkannya… namun sedakannya semakin keras hingga aku mulai mengajarkan kalimat syahadat kepadanya… hingga akhirnya dia meninggal dunia.

Ia wafat di hadapanku, lalu kututupi jasadnya dengan selimut yang ada di bawahnya… lalu aku keluar untuk mencari orang yang boleh membantuku mengurus jenazahnya.

Maka kudapati ada tiga orang yang mengendarai unta mereka… nampaknya mereka adalah para musafir, maka kupanggil mereka dan mereka datang menghampiriku.

Kukatakan, “Mahukah kalian menerima pahala yang ALLAH tawarkan kepada kalian? Di sini ada seorang muslim yang wafat dan dia tidak punya siapa-siapa yang mengurusinya… mahukah kalian menolongku memandikan, mengafani dan menguburkannya?”

“Ya..” Jawab mereka.

Mereka pun masuk ke dalam khemah menghampiri mayat orang tua itu untuk memindahkannya. Namun ketika mereka menyingkap wajahnya, mereka saling berteriak, “Abu Qilabah… Abu Qilabah…!!”

Ternyata Abu Qilabah adalah salah seorang ulama mereka, akan tetapi waktu silih berganti dan ia dirundung berbagai musibah hingga menyendiri dari masyarakat dalam sebuah khemah usang. Kami pun menunaikan kewajiban kami atasnya dan menguburkannya, kemudian aku kembali bersama mereka ke Madinah.

Malamnya aku bermimpi melihat Abu Qilabah dengan penampilan indah. Beliau mengenakan gamis putih dengan badan yang sempurna… ia berjalan-jalan di tanah yang hijau… maka aku bertanya kepadanya:

“Hai Abu Qilabah… apa yang menjadikanmu seperti yang kulihat ini?”

Maka jawabnya: “ALLAH telah memasukkanku ke dalam Jannah, dan dikatakan kepadaku di dalamnya:

( سلام عليكم بما صبرتم فنعم عقبى الدار )

Salam sejahtera atasmu sebagai balasan atas kesabaranmu… maka (inilah Syurga) sebaik-baik tempat kembali.

Kisah ini diriwayatkan oleh Al Imam Ibnu Hibban dalam kitabnya: “Ats Tsiqaat” dengan penyesuaian.
Diterjemahkan oleh Abu Hudzaifah Al Atsary dari kitab: ‘Aasyiqun fi Ghurfatil ‘amaliyyaat, oleh Syaikh Muh. Al Arify.

Isnin, 26 November 2012

Kisah Hidup Imam Abu Hanifah yang Menakjubkan

Kisah Hidup Imam Abu Hanifah yang Menakjubkan


Gambar hiasan 
Wajahnya tampan dan ceria, fasih bicaranya dan santun tutur katanya. Tidak terlalu tinggi badannya, tidak pula terlalu pendek sehingga indah dipandang mata. Di samping itu, beliau suka berpenampilan rapi, wajahnya ceria dan gemar memakai wangian. Ketika muncul di tengah-tengah manusia, mereka dapat menyedari kedatangannya daripada bau wanginya sebelum melihat orangnya.

Itulah dia Nu’man bin Tsabit Al-Marzuban yang dikenal dengan Abu Hanifah, orang pertama yang meletakkan dasar-dasar fikih dan mengajarkan hikmah-hikmah yang baik.

Abu Hanifah masih merasakan hidup sesaat sebelum berakhirnya khilafah bani Umayah dan awal kekuasaan bani Abasiyah. Beliau hidup pada suatu masa di mana para khalifah dan para gabenor memanjakan para ilmuwan dan ulama hingga rezeki datang kepada mereka dari segala arah tanpa mereka sedari.

Meski pun demikian, Abu Hanifah sentiasa menjaga martabat jiwa dan ilmunya dari semua itu. Sesampainya di istana beliau disambut ramah dengan penuh hormat, dipersilakan duduk di samping khalifah Al-Manshur kemudian khalifah bertanya tentang banyak persoalan berkaitan agama mahupun kehidupan dunia.

Ketika beliau bersiap-siap untuk pulang, Amirul Mukminin menghulurkan sebuah bekas yang di dalamnya terdapat tiga puluh ribu dirham, padahal Al-Manshur dikenal kikir dibanding yang lain. Lalu Abu Hanifah berkata, “Wahai Amirul Mukminin, saya adalah orang asing di Baghdad ini dan tidak memiliki tempat untuk menyimpannya. Maka simpankan dirham itu di baitulmaal, kelak jika saya memerlukannya, saya akan memintanya.” Al-Manshur mengabulkan permohonannya. 

Tidak lama selepas peristiwa itu Abu Hanifah wafat, ternyata di rumahnya terdapat harta pemberian  orang ramai yang jauh lebih besar daripada pemberian Amirul Mukminin.

Tatkala Al-Manshur mendengar berita tersebut, dia berkata, “Semoga Allah merahmati Abu Hanifah. Dia tidak ingin mengambil sesuatu pun daripada kita, dia menolak pemberianku dengan cara halus.”

Ini tidaklah aneh, kerana Abu Hanifah memiliki prinsip bahawa tidak ada yang lebih bersih dan lebih mulia daripada orang yang makan dari hasil tangannya sendiri. Oleh sebab itu, beliau menyediakan waktu khusus untuk berdagang. Beliau berdagang kain dan pakaian, di kota-kota di Iraq. Di samping itu beliau juga memiliki toko (butik ) pakaian yang terkenal dan banyak dikunjungi orang. Mereka merasai kejujuran dalam bermuamalah dan amanah semasa berurusan dengannya. Tidak diragukan lagi bahawa mereka merasakan ketenangan yang tersendiri dari cara muamalah Abu Hanifah, perniagaan beliau maju berkat kurnia Allah hingga banyak keuntungan yang beliau perolehi.

Beliau mendapatkan harta dengan cara yang halal lalu membelanjakan di tempat yang semestinya. Telah menjadi kebiasaan beliau, setiap sampai haul (satu tahun), beliau menghitung keuntungan yang beliau dapat. Lalu mengasingkan sejumlah peruntukan untuk mencukupi keperluannya, selebihnya dibelikan barang-barang untuk diberikan kepada para penghafal Al-Qur’an, ahli hadits, ahli fikih dan murid-muridnya baik berupa makanan ataupun pakaian. Beliau memberikan hal itu sambil berkata, “Ini adalah keuntungan daripada hasil perniagaanku dengan kalian, Allah memudahkannya di tanganku. Demi Allah, aku tidak memberi kalian dengan hartaku sendiri, melainkan kurnia Allah untuk kalian yang diberikan-Nya melalui aku. Pada tiap-tiap rezeki tidak ada suatu kekuatan dari seseorang kecuali dari Allah.”

Berita tentang kedermawanan dan kebijaksanaan Abu Hanifah telah termasyhur di sebelah timur mahupun barat. Terutama di kalangan para sahabat dan orang-orang yang biasa bertemu dengan beliau.

Sebagai contohnya, pernah seorang pelanggannya datang ke butik beliau sambil berkata, “Saya memerlukan baju “khaz”, wahai Abu Hanifah.” Beliau menjawab, “Apa warna yang anda kehendaki?” Dia menjawab, “Yang berwarna ini dan ini.” Beliau berkata, “Bersabarlah sampai saya menemukannya dan akan aku berikan kepada anda.”

Dalam peristiwa yang lain, ada seorang wanita tua yang mencari baju “khaz”, kemudian beliau menunjukkan barang yang dimaksudkannya. Lalu wanita itu berkata, “Saya adalah seorang wanita yang lemah, tidak pula tahu menahu soal harga, sedangkan ini hanyalah keperluan. Maka juallah baju itu dengan harga yang sama ketika anda membelinya, lalu ambillah sedikit untung darinya, kerana saya adalah wanita lemah.”

Abu Hanifah berkata, “Saya membeli baju ini dua potong dalam satu harga. Saya sudah menjual yang sepotong hingga kurang empat dirham saja dari modal saya. Belialah baju ini seharga empat dirham kerana saya tidak ingin mendapatkan laba dari anda.”

Suatu hari beliau mendapatkan pakaian usang dan lusuh yang dipakai oleh seorang yang menghadiri majlisnya. Ketika orang-orang telah beredar dan tak ada seorang pun selain beliau dan laki-laki itu, beliau berkata, “Angkatlah alas sholat itu lalu ambillah sesuatu di bawahnya.” Orang itu mengangkat alas yang dimaksudkan, ternyata ada wang seribu dirham. Abu Hanifah berakta, “Ambillah dan perbaikilah penampilan anda.” Orang itu menjawab, “Saya adalah orang yang mampu. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melimpahkan nikmat-Nya untuk saya. Saya tidak memerlukannya.” Abu Hanifah berkata, “Jika Allah telah memberikan nikmatNya kepada anda, lantas manakan bekas nikmat yang engkau tunjukkan? Belum sampaikah sabda Nabi saw, “Allah suka melihat bekas-bekas nikmat-Nya atas para hambanya,” Sudah sepatutnya anda memperbaiki penampilan anda agar tidak menyusahkan teman anda.”

Kedermawanan Abu Hanifah dan perlakuan baiknya kepada orang lain mencapai kemuncaknya, hingga setiap kali beliau memberikan belanja kepada keluarganya, beliau juga menginfakkan jumlah yang sama kepada orang-orang yang memerlukan. Setiap kali beliau memakai baju baru, beliau juga membelikan baju-baju untuk orang miskin sama dengan harga bajunya. Jika diletakkan makanan di hadapannya, beliau sisihkan separuhnya untuk diberikan kepada orang-orang fakir.

Diriwayatkan pula bahawa beliau bertekad setiap kali bersumpah kepada Allah di tengah pembicaraannya, beliau akan bersedekah dengan satu dirham perak. Berikutnya ditingkatkan lagi, beliau berjanji untuk bersedekah satu dinar emas setiap kali bersumpah di tengah pembicaraanya. Namun jika sumpahnya menjadi kenyataan, dia sedekah lagi sebanyak satu dinar.

Salah seorang rakan perniagaan Abu Hanifah ialah Hafs bin Abdurrahman. Abu Hanifah biasa mengirimkan kain-kain kepadanya untuk dijual ke kota-kota di Iraq. Pada suatu ketika Abu Hanfiah memberikan barang dagangan yang banyak kepada Hafsh sambil memberitahukan bahawa pada barang tersebut terdapat kecacataan iaitu pada sebahagian daripadanya. Beliau berkata, “Jika anda bermaksud menjualnya, maka beritahukanlah terlebih dahulu akan kecacatan tersebut kepada orang yang hendak membelinya.”

Akhirnya Hafs berhasil menjual seluruh barang-barang tersebut, namun dia lupa memberitahu akan kecacatan pada sebahagian kecil barang-barang tersebut. Dia berusaha mengingat-ingat orang yang telah membeli barang yang ada cacatnya tersebut, namun tidak berhasil. Tatkala Abu Hanifah mengetahui duduk perkaranya, juga tidak mungkin diketahui siapa yang telah membeli barang yang ada cacatnya tersebut, beliau merasa tidak tenang hingga kahirnya beliau sedekahkan seluruh hasil penjualan yang dibawa Hafsh.

Di samping itu, Abu Hanifah juga pandai bergaul. Majlisnya dipenuhi orang dan dia bersusah hati bila ada yang tidak hadir meski dia orang yang memusuhinya. Salah seorang sahabatnya mengisahkan, “Aku mendengar Abdullah bin Mubarak berkata kepada Sufyan Ats-Tsauri, ‘Wahai Abu Abdillah alangkah jauhnya Abu Hanifah dari ghibah. Aku tidak pernah medengarnya menyebutkan satu keburukan pun tentang musuhnya.” Sufyan Ats-Tsauri menjawab, “Abu Hanifah cukup berakal sehingga tidak akan membiarkan kebaikannya lenyap kerana ghibahnya.”

Di antara kegemaran Abu Hanifah adalah memenuhi keperluanan orang yang menarik simpatinya. Sering ada orang yang datang lewat kemudian ikut duduk di majlisnya tanpa sengaja. Ketika dia hendak beranjak pergi, beliau segera menghampirinya dan bertanya tentang keperluannya. Sekiranya orang tersebut memerlukan bantuan, maka Abu Hanifah akan membantunya, sekiranya sakit maka beliau akan memberikan bantuan rawatan dan jika berhutang maka beliau akan membayarkan sehingga terjalinlah hubungan yang baik antara keduanya.

Banyak keutamaan yang dimiliki oleh Abu Hanifah. Beliau juga termasuk orang yang rajin shaum           ( berpuasa ) pada siang hari dan bersolat Tahajud pada malam harinya. Akrab dengan Al-Qur’an dan beristighfar di waktu asar. Ketekunannya dalam beribadah di latar belakangi oleh peristiwa di mana beliau mendatangi suatu kaum lalu mendengar mereka bercerita tentang dirinya. “Orang yang kalian lihat itu tidak pernah tidur malam.” kata mereka. Sebaik mendengar kata-kata mereka itu, Abu Hanifah berkata, “Dugaan orang terhadapku ternyata berbeda dengan apa yang aku kerjakan di sisi Allah. Demi Allah jangan pernah orang-orang mengatakan sesuatu yang tidak aku lakukan. Aku tak akan tidur di atas bantal sejak hari ini hingga bertemu dengan Allah.” katanya pada dirinya sendiri.

Mulai hari itu Abu Hanifah membiasakan seluruh malamnya untuk mengerjakan solat. Setiap kali menjelang malam dan kegelapan menyelimuti alam, ketika semua lambung merebahkan diri. Beliau bangkit mengenakan pakaian yang indah, merapikan janggut dan memakai wangian. Kemudian berdiri di mihrabnya, mengisi malamnya dengan ketaatan kepada Allah, atau membaca beberapa juz dari Al-Qur’an. Setelah itu mengangkat kedua tangan dengan sepenuh harap disertai kerendahan hati. Terkadang beliau mengkhatamkan Al-Qur’an penuh dalam satu rekaat, terkadang pula beliau menghabiskan solat semalam dengan satu ayat saja.

Sebuah riwayat menyebutkan bahawa tatkala solat malam secara berulang-ulang Abu Hanifah membaca membaca firman Allah Ta’ala:“Sebenarnya hari kiamat itulah hari yang dijanjikan kepada mereka dan kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pasti,” (Al-Qamar: 46).

Beliau menangis kerana takut kepada Allah dengan tangisan yang menyayat hati.
Telah diketahui banyak orang selama lebih dari empat puluh tahun beliau melakukan solat Fajar dengan wudhu shalat Isya’. Hingga akhir wafat beliau pernah mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak 7000 kali.

Setiap kali beliau membaca surat Al-Zalzalah, gemetar jasadnya, bergetar hatinya. Dengan memegang janggutnya, beliau berkata, “Wahai yang membalas sebesar dzarrah kebaikan dengan kebaikan dan sebesar dzarrah keburukan dengan keburukan, selamatkanlah hamba-Mu Nu’man dari api neraka dan jauhkan ia dari apa-apa yang bisa mendekatkan dengan neraka, masukkanlah ia ke dalam luasnya rahmat-Mu, ya Arhamarrahimin".

Oleh Muhammad Ismail
http://zilzaal.blogspot.com/2012/02/kisah-hidup-imam-abu-hanifah-yang.html

Jumaat, 7 September 2012

KISAH TUKKU PALOH di TERENGGANU

Sujudlah di mana pun kita berada.
" Maka tinggalkanlah duniamu dan belayarlah menuju Tuhanmu. Janganlah sekali-kali engkau melabuhkan sauh ketidakpastian itu biarlah apa kata mereka pada dirimu. Berhijrahlah, belayarlah menuju Tuhanmu kerana kaulah Melayu "– TUKKU PALOH

TUKKU PALOH atau nama sebenarnya Sayid Abdul Rahman bin Muhammad Al Idrus adalah ulama kerohanian yang berkecimpung dalam bidang pentadbiran dan diplomatik di Terengganu. Beliau hidup dalam zaman pemerintahan lapan orang sultan silih berganti; paling lama dan paling kuat pengaruh beliau ialah semasa pemerintahan Sultan Zainal Abidin III, Sultan Terengganu ke-11. Kerana kewibawaannya, beliau diberi mandat oleh Sultan mentadbir kawasan Paloh dan mengawasi kawasan Hulu Terengganu. Beliau juga diterima sebagai penasihat pertama dan utama kepada Sultan dalam berbagai persoalan. Beliau tegas dan pintar dalam bidang diplomatik, dan sering diberi peluang mewakili Sultan berunding dengan pihak British sehingga pada zaman itu British gagal menjajah Terengganu.

Tukku Paloh terkenal sebagai seorang wali ALLAH yang mempunyai berbagai karamah dan sentiasa mendapat bantu-an ALLAH SWT khususnya sewaktu mengendalikan urusan rakyat. Tukku Paloh adalah khalifah Tareqat Naqsyabandiah, dan beliau turut mengamal dan mengembangluaskan ‘Syahadat Tukku’, satu amalan yang disusun oleh ayahnya Tukku Tuan Besar.

“Kalau untuk mencampuri urusan pentadbiran kami, saya menolak walau atas alasan apa sekalipun,” kata Tukku Paloh. Tetapi, kalau hendak tanah, silakan. Isilah ke dalam armada tuan sebanyak mana pihak British mahu… ambillah tanah.”

Itulah jawapan Tokku Paloh kepada wakil British, semasa berlaku perundingan antara pihak British dengan Tokku Paloh yang mewakili kerajaan Negeri Terengganu. Jawapan dalam bentuk sindiran itu, yang diluahkan dengan tenang tapi tegas, ternyata menyakitkan hati wakil-wakil British itu. Mereka     bangun untuk beredar. Tetapi, dengan kuasa ALLAH, punggung mereka tidak semena-mena terlekat di kerusi. Apabila mereka mengangkat punggung, kerusi turut terangkat sama buat seketika sebelum jatuh ke lantai. Waktu itu Tukku Paloh bersuara secara bersahaja: “Sudahlah tuan-tuan hendak ambil tanah Terengganu, kerusi rumah saya pun tuan-tuan hendak ambil.”

Demikianlah gagalnya diplomasi British untuk menjajah Terengganu pada sekitar awal abad ke-20. Taktik diplomasi yang berjaya digunakan di beberapa negeri lain, gagal di Terengganu kerana adanya gandingan rapat antara ulama dan umarak (pemerintah). Tegasnya, antara Sayid Abdul Rahman Al Idrus atau Tukku Paloh, dengan Sultan Zainal Abidin III, Sultan Terengganu ke-11 (memerintah 1881-1918).

Dilahirkan pada tahun 1817 (1236 Hijrah) di Kg.Cabang Tiga, Kuala Terengganu, Tukku Paloh adalah nasab ke-32 daripada Rasulullah SAW di kalangan keluarga Al Idrus. Nasab sebelah bapanya sampai kepada Sayidina Hussein r.a. anak Sayida-tina Fatimah Az Zahrah r.ha. binti Rasulullah. Ibunya, Hajah Aminah, ialah isteri pertama daripada beberapa orang isteri Sayid Muhammad yang terkenal dengan gelaran Tukku Tuan Besar. Semasa pemerintahan Sultan Omar, Tukku Tuan Besar menjadi Syeikhul Ulama iaitu ketua seluruh ulama Terengganu, dan dianugerahkan gelaran Paduka Raja Indra oleh baginda Sultan. Kedua-dua kedudukan itu menjadikan Tukku Tuan Besar sangat dihormati dan berpe-ngaruh di kalangan istana dan rakyat keseluruhannya.

Sebagai seorang ulama yang bertanggungjawab dan berpengaruh, Tukku Tuan Besar berusaha sehingga terlaksana hukum-hukum Islam secara meluas dalam sistem pentadbiran dan kehidupan di bawah pemerintahan Sultan Omar (memerintah 1839-1875), hingga Terengganu terus terkenal sebagai negeri yang berpegang teguh dengan Islam, di sekitar pertengahan abad ke-18 Masihi. 

Menyedari pentingnya penyebaran ilmu agama dan bimbingan amal, maka Tukku Tuan Besar mendirikan masjid di Kampung Cabang Tiga. (Masjid ini kini telah diubahsuai dan meriah dengan ahli jemaah). Di sinilah Tukku Tuan Besar yang juga pengarang beberapa buah kitab itu menyebarkan ilmu dan tarbiah kepada ramai anak muridnya dan anak-anaknya sendiri termasuk Sayid Abdul Rahman (Tukku Paloh). Dengan itu nyatalah Tukku Paloh itu bukan saja berketurunan Rasulullah SAW yang mulia malah mendapat didikan dan asuhan dalam keluarga yang kuat beragama. Semua adik-beradiknya juga mempunyai keahlian dalam hal-ehwal agama dan di antara yang terkenal ialah Sayid Zain (dilantik menjadi Menteri Besar pada tahun 1864 oleh Sultan Omar), Sayid Ahmad (bergelar Tuan Ngah Seberang Baroh) dan Sayid Mustaffa (seorang ulama yang juga ahli Majlis Mesyuarat Negeri; merupakan salah seorang dari empat pembesar yang pernah diwakilkan memegang pemerintahan negeri sewaktu Sultan Zainal Abidin HJ. melawat Siam pada Ogos 1896 selaku tetamu Raja Siam).

Di kalangan adik-beradiknya, Tukku Palohlah yang paling masyhur dan mempunyai banyak keistimewaan yang luar biasa. Menurut cucunya Sayid Abdul Aziz, sejak kecilnya lagi sudah ada tanda-tanda pelik yang mengisyaratkan Tukku Paloh akan muncul menjadi orang penting masyarakat. Satu ketika semasa Tukku Paloh berada bersama ayahnya Tukku Tuan Besar, tiba-tiba saja Tukku Paloh melihat seorang yang berserban dan berjubah hijau memanggilnya. Tukku Tuan Besar menahannya seraya berkata, “Engkau jangan pergi dekat orang itu, nanti engkau tidak boleh bersama abah lagi.”

Perkataan Tukku Tuan Besar itu tidak begitu pasti apa maksudnya. Tetapi yang nyata, Tukku Tuan Besar juga seorang yang kasyaf; dapat melihat kemunculan seorang yang berserban dan berjubah hijau itu. Siapa orangnya? Wallahu a’lam. Tukku Paloh mendapat didikan awal daripada ayahnya sendiri dan beberapa orang ulama tempatan. Kemudian beliau mengikut jejak ayahnya mendalami ilmu dan meluaskan pengalaman di Makkah Al Mukarramah. Di sana beliau belajar dengan ulama-ulama Ahli Sunnah Wal Jamaah, dan khatam banyak kitab muktabar dalam berbagai bidang ilmu- tauhid, feqah, tasawuf, tafsir, nahu, saraf dan lain-lain.

Tukku Paloh sangat arif tentang ilmu tasawuf dan ilmu tareqat. Malah beliau ada mengarang kitab dan risalah mengenai persoalan kerohanian. Setelah lebih 10 tahun di Makkah, Tukku Paloh pulang sebagai seorang ulama besar. Beliau seorang yang warak dan terkenal sebagai pemimpin kerohanian yang mengembangkan Tareqat Naqsyabandiah. Beliau adalah khalifah tareqat ini.

Sepulangnya dari Makkah, Tukku Paloh terus mengajar di masjid peninggalan ayahnya di Kampung Cabang Tiga, Kuala Terengganu. Ini merupakan langkah awal beliau berkhidmat kepada orang ramai, sebelum melangkah kepada kegiatan yang lebih mencabar, bukan saja dalam bidang pengajaran ilmu tetapi juga dalam bidang pentadbiran, pemerintahan dan jihadnya menentang mungkar dan penjajah British. Seperti juga ayahnya, Tukku Paloh seorang yang sangat berpengaruh di kalangan istana dan menjadi tempat rujuk sultan. Malah perlantikan sultan itu sendiri mempunyai kaitan rapat dengan pengaruh Tukku Paloh di kalangan istana, yang diwarisi daripada ayahnya Sayid Muhammad bin Zainal Abi-din, yang terkenal dengan panggilan Tukku Tuan Besar, juga merupakan tokoh agama yang amat terkenal dan pengarang kepada lebih kurang 16 buah buku agama dan nazam.

Hubungan Tukku Paloh dengan sultan ini boleh disamakan dengan hubungan antara Sultan Zainal Abidin I (memerintah 1725-1734) dengan seorang lagi ulama besar Terengganu, Syeikh Abdul Malik bin Abdullah. Ulama yang terkenal dengan gelaran Tuk Pulau Manis ini juga dikenali sebagai wali ALLAH, dan banyak mengarang kitab. Sebagai Syeikhul Ulama dan mufti, Tuk Pulau Manis amat berpengaruh di kalangan istana dan dikatakan bertanggungjawab atas pertabalan Sultan Zainal Abidin I yang kemudian menjadi me-nantu beliau.

Menyedari peri pentingnya pemerintahan raja yang adil yang berlunaskan hukum-hukum ALLAH SWT, Tukku Paloh bersama Sayid Abdullah (Menteri Besar ketika itu) mengetuai sokongan terhadap perlantikan Tengku Zainal Abidin sebagai Sultan Terengganu menggantikan Sultan Ahmad Shah II (memerintah 1876-1881). Sokongan dua orang yang berpengaruh ini sungguh berkesan sehingga Sultan Zainal Abidin kekal sebagai raja yang berjaya menegakkan pemerintahan yang kukuh dan bermaruah walaupun usianya ketika mula memegang tampuk pemerintahan negeri baru 16 tahun. Kejayaan baginda itu adalah berkat mendampingi serta menerima keputusan ulama. Baginda memerintah selama kira-kira 36 tahun 11 bulan hingga ke akhir hayatnya pada tahun 1918.

Ketika Sultan Zainal Abidin III mula naik takhta, Tukku Paloh belum menjawat apa-apa jawatan penting secara ras-mi. Tetapi sebagai seorang tokoh agama, beliau sudah berpengaruh di kalangan istana. Kemudian beliau menjadi Syeikhul Ulama (ketua ulama) Terengganu dan dilantik sebagai ahli Majlis Mesyuarat Negeri dalam kerajaan Sultan Zainal Abidin. Dengan kedudukan itu Tukku Paloh bertanggungjawab membantu kerajaan mentadbir negeri dan rakyat.

Bagaimanapun, ulama dan ahli tareqat yang arif perjalanan rohani ini lebih banyak berhubung secara peribadi dalam berbagai-bagai hal dengan Sultan Zainal Abidin. Keistimewaan ini menjadikan Tukku Paloh sebagai penasihat Sultan dan orang yang bertanggungjawab di belakang keputusan-keputusan yang dibuat oleh Sultan dalam pelbagai perkara terutamanya mengenai dasar luar negeri. Ini terbukti dengan keputusan berani Tukku Paloh memberi perlindungan kepada pahlawan-pahlawan Pahang sekitar tahun 1894 dan keengganannya bekerjasama dengan pihak British. Pendirian beliau ini mempengaruhi sikap Sultan Zainal Abidin (kebetulan menantu kepada Sultan Ahmad Pahang) untuk terus-menerus menentang pertapakan British di Terengganu.

Penglibatan Tukku Paloh dalam perjuangan menentang campurtangan British di Pahang berlaku apabila pahlawan-pahlawan Pahang yang memberontak terpaksa berundur akibat tekanan hebat daripada pihak berkuasa. Mereka yang di-pimpin oleh Datuk Bahaman, Tuk Gajah dan anaknya Mat Kilau berada dalam keadaan serba salah dan hampir-hampir putus asa. Akhirnya pada bulan Mei 1894, mereka membuat keputusan menghubungi Tukku Paloh. Ternyata hubungan ini memberi nafas dan tenaga baru kepada perjuangan mereka kerana Tukku Paloh bukan saja bersimpati malah bersedia membantu pahlawan-pahlawan itu menentang pencerobohan British di Pahang. Selama berada di Paloh, pahlawan-pahlawan yang terkenal hebat itu menggunakan sepenuh kesempatan menuntut ilmu agama dan mendalami perjalanan rohani sebagai bekalan dalam perjuangan yang amat sukar itu. Mereka berguru dengan Tukku Paloh. Kemudian baru Tukku Paloh menyeru pahlawan-pahlawan itu supaya melancarkan perang jihad. Sebagai bekalan rohani, beliau memberi mereka wirid-wirid dan jampi-jampi tertentu dan menghadiahkan mereka pedang yang bertulis ayat-ayat Al Quran pada matanya. Dan dengan sokongan dan pengaruh Tukku Paloh, pasukan pahlawan itu semakin besar dan mendapat sokongan sultan dan rakyat Terengganu untuk melancarkan serangan tahap kedua berdasarkan kecintaan kepada agama dan tanahair dengan semboyan ‘perang jihad’.

Hugh Clifford
Semangat perang jihad begitu ketara sekali di kalangan para pejuang itu. Ketika inilah, Hugh Clifford, Residen British di Pahang, menyedari bahayanya pahlawan-pahlawan itu berada di negeri jiran kerana mendapat sokongan Tukku Paloh untuk melancarkan serangan baru dengan kekuatan agama. Demi menjaga kepentingan British di Pahang, pada bulan April 1895 Clifford mengetuai satu angkatan seramai 250 orang untuk melumpuhkan kekuatan pihak yang disifatkannya sebagai pemberontak-pemberontak. Sesampai di Terengganu, Clifford mengadap Sultan Zainal Abidin untuk mendapat kerjasama baginda.

Sultan Zainal Abidin dengan senang hati mengeluarkan surat kuasa (waran) kepada Clifford untuk menangkap sesiapa saja daripada kalangan rakyat baginda yang bersubahat dengan pemberontak-pemberontak. Tetapi surat itu tidak memberi kuasa untuk menyiasat kerabat diraja, keluarga Sayid serta pembesar-pembesar baginda.

Baginda juga mengeluarkan satu surat sulit kepada orang-orang Besut supaya membantu pahlawan-pahlawan Pahang yang bersembunyi di daerah itu. Taktik diplomasi yang bijak itu menyelamafkan semua pejuang Pahang dan mengecewa-kan usaha ketua penjajah Pahang bernama Clifford itu. Clifford sentiasa curiga terhadap Tukku Paloh kerana dalam beberapa perundingan yang diadakan dengannya, pemimpin British itu percaya Tukku Paloh tidak berkata yang se-benarnya mengenai pemberontak-pemberontak. Kadangkala wakil-wakil British itu dipersendakan oleh Tukku Paloh.

Menurut cerita Syed Omar Abdul Kadir Al Idrus (cucu Tukku Paloh) , dalam satu pertemuan antara Tukku Paloh dan Clifford terjadi antara lain seperti berikut:

Clifford: Saya datang mahu mendapat kerjasama Tukku untuk menangkap pemberontak-pemberontak dari Pahang yang berada dalam negeri Terengganu.

Tukku Paloh: Siapa yang dimaksudkan? Kerana kami orang Islam tidak boleh menyimpan pemberontak dan penjahat-penjahat. Kalau ada penjahat tentu kami sudah tangkap dan mengenakan hukuman berdasarkan hukum Islam.

Clifford: Itu, Datuk Bahaman, Tuk Gajah, Mat Kilau dan pengikut-pengikut mereka melakukan banyak kacau dalam negeri Pahang. Sekarang mereka lari ke negeri ini.

Tukku Paloh: Orang-orang itu semua baik-baik, bukan pengacau, bukan pemberontak kerana mereka menuntut pembebasan daripada campurtangan kuasa luar dalam negeri mereka, dan sebagai orang-orang Islam mereka mesti menuntut hak itu.

Sebagai satu helah, Tukku Paloh membenarkan juga angkatan Clifford itu menyiasat di Paloh sama ada benar pahlawan-pahlawan Pahang itu bersembunyi di sana (ketika itu semua mereka sudah bersembunyi di tempat-tempat selamat).

Clifford masih tidak berpuas hati kerana pasukannya gagal menemui ‘pemberontak-pemberontak’ itu. Dia percaya mereka ada bersembunyi di kawasan rumah Tukku Paloh. Ini berdasarkan beberapa bukti yang dia sendiri perolehi semasa siasatan dibuat. Tetapi dia dan pasukannya tidak berdaya berbuat apa-apa walaupun berkali-kali berunding dengan Tukku Paloh. Sebab itu bagi Clifford, penghalang besar kepada usahanya untuk menangkap pahlawan-pahlawan Pahang itu ialah Tukku Paloh sendiri. Malah usaha terakhir Clifford meminta jasa baik Sultan supaya memaksa Tukku Paloh menyerahkan mereka itu juga gagal. Ini membuatkan dia sedar pengaruh Tukku Paloh begitu besar sekali di istana. Akhirnya Clifford mengambil keputusan meninggalkan Terengganu pada 17 Jun 1895.

Percubaan British untuk menjajah Terengganu bermula sejak awal abad ke-20. Gabenor Negeri-negeri Selat, Frank Swettenham, tanpa terlebih dahulu berunding, datang ke Terengganu pada tahun 1902 dan mengadap Sultan untuk mendapat persetujuan sultan mengenai satu rangka perjanji-an yang disediakan di London antara kerajaan British dan Siam. Tetapi perjanjian yang kononnya memberi pengiktirafan yang lebih jelas terhadap naungan kerajaan Siam ke atas Terengganu itu secara rasmi ditolak oleh kerajaan Terengganu. Sultan Zainal Abidin dan penasihat-penasihat baginda menyedari kesan daripada perjanjian itu dan nampak perancangan jauh kerajaan British yang beria-ia benar mempelopori perjanjian itu supaya ditandatangani. Sedangkan kerajaan Siam sentiasa menghormati pemerintahan Terengganu yang berdaulat.

Perkiraan itu ternyata berlaku pada 10 Mac 1909 bertempat di Bangkok di mana kerajaan British secara senyap menandatangani satu perjanjian baru dengan kerajaan Siam. Entah ganjaran apa yang diperolehi oleh kerajaan Siam, melalui perjanjian itu kerajaan Siam memindahkan (menyerahkan) segala hak naungan, perlindungan, pentadbiran, kawalan dan apa saja yang dipunyainya ke atas negeri-negeri Kelantan, Perlis, Kedah dan Terengganu serta pulau-pulau berhampiran. Dengan perjanjian baru itu bermakna Terengganu bulat-bulat duduk di bawah kekuasaan British seperti terkandung dalam butir-butir perjanjian pertama tajaan British yang kononnya untuk menjelaskan pengiktirafan terhadap naungan Siam itu. Sekali lagi kerajaan Terengganu tidak mengiktiraf dan menentang perjanjian berniat jahat itu. Malah pihak istana dan pembesar-pembesar negeri sangat marah dengan taktik halus British.

Tukku Paloh, yang sangat berpengaruh terhadap dasar luar Terengganu, memberi pandangannya mengenai cita-cita British yang berkehendakkan Terengganu dengan pertolongan Siam itu, dengan katanya antara lain:

“Dimaklumkan bahawa perkara ehwal treaty (perjanjian) yang dikehendaki oleh Inggeris dengan kebenaran Siam itu sangat besarlah pada paham paduka ayahanda (maksudnya beliau) waqiahnya dan sangatlah pada Seri Paduka anakanda Sultan Zainal Abidin akan akllahu al dafihi (telah menolong akan engkau oleh ALLAH SWT atas penolakannya) kerana sudah bersatu antara Siam dan Inggeris tetapi insya-ALLAH tiada sekali-kali. ALLAH SWT tasalitkan (beri kekuasaan-Nya) kuffar (orang kafir) atas Muslimin melainkan sebab tadyik (menghilangkan) mereka itu akan huquk (hak) syariat dan tiada bersungguh-sungguh mereka itu berpegang atas syariat yang mutahharah (undang-undang suci Islam) dan pemasukan ke dalam agama Islam akan barang yang dibenci oleh Rasulullah SAW. Maka wajiblah pada sekarang ini Seri Paduka Anakanda (Sultan) berkuat pada menzahirkan agama dan membatalkan segala mungkarat (kejahatan), jangan sekali tidak hirau…”

Walaupun usaha itu gagal, British terus menjalankan diplomasinya dalam berbagai bentuk rundingan. Antara pegawai yang mewakili British ialah W.L. Conlay. Dalam beberapa kali rundingan yang diadakan dengan pihak istana (tidak kurang dua kali), Sultan Zainal Abidin mengarahkan pihak British supaya berunding secara langsung dengan Tukku Paloh. Sultan berkata kepada wakil British, “Terengganu ini ada  tuannya, sila berunding dengan tuannya (yang dimaksudkan ialah Tukku Paloh).”

Rundingan pertama yang dijadualkan berlangsung British terpaksa dibatalkan oleh British kerana dikatakan kapal armada itu beberapa kali senget apabila Tukku Paloh menyengetkan serbannya. Ini menakutkan wakil-wakil British yang menganggap kejadian itu satu magic (sihir atau silap mata) sedangkan yang sebenarnya adalah karamah kurniaan ALLAH kepada Tukku Paloh. Ekoran itu, rundingan diadakan juga pada waktu lain dan kali ini di rumah Tukku Paloh. Untuk itu, Tukku Paloh meminjam beberapa buah kerusi bagi meraikan orang putih yang tidak pandai duduk bersila itu. Dengan duduk di atas kerusi, rundingan berjalan dengan panjang lebar dan antara lain wakil British memaklumkan bahawa pihaknya ingin mendapatkan tanah Terengganu dengan alasan membantu membangunkan dan memajukan negeri Terengganu. Dengan kata lain, dalam rundingan itu seolah-olahnya British hendak membantu memajukan Terengganu. Negeri Terengganu ketika itu berpenduduk sekitar 10,000 orang, kebanyakannya bekerja sebagai nelayan, tukang dan petani. Mereka diakui oleh Clifford sebagai “orang Melayu yang paling pandai dan paling rajin di Semenanjung Tanah Melayu”.

Tukku Paloh mempunyai pandangan yang jauh dan dapat membaca niat jahat wakil British yang mahu menguasai negeri Terengganu dan seterusnya menjajah. Lalu dengan selamba Tukku menjawab segala kehendak wakil British itu dengan penuh sindiran tanpa sedikit pun terpengaruh dengan ‘gula-gula’ yang diumpan oleh orang-orang putih itu. Dalam pertemuan inilah berlakunya kerusi yang diduduki oleh wakil-wakil British itu melekat seketika di punggung mereka seperti telah diceritakan pada awal lagi. Wakil-wakil British itu pulang dari rumah Tukku Paloh dengan hati yang berang bercampur takut akan kelebihan yang ada pada Tukku Paloh. Mereka gagal sama sekali untuk menguasai Terengganu menerusi diplomasi.

Tidak berapa lama selepas itu, beberapa buah armada British datang lagi ke persisiran pantai Kuala Terengganu. Tanpa memberi sebarang amaran, armada itu melepaskan tembakan meriam dan senapang ke arah pantai dan mengarah ke udara. Serangan yang bertujuan menggertak itu telah membunuh seekor kambing di Padang Hiliran. Orang ramai menjadi gempar dan cemas, dan sekali lagi Sultan Zainal Abidin menyerahkan urusan ini kepada Tukku Paloh. Lalu dengan tenang dan yakin Tukku Paloh bersama orang-orang kanannya termasuk Haji Abdul Rahman Limbong, Syeikh Ibrahim dan Tuk Kelam dan pengikut-pengikutnya yang lain meronda sepanjang pantai. Operasi rondaan, itu berjalan siang dan malam. Dikatakan ekoran dari itu, British tidak lagi membuat kacau, dan semua armadanya berundur. Mengikut laporan, angkatan perang British itu nampak ‘beribu-ribu’ pahlawan Terengganu’ lengkap dengan senjata bersiap sedia untuk melancarkan serangan balas. Sebab itulah mereka cabut lari. Demikian kehebatan perjuangan Tukku Paloh yang mempunyai karamah menentang British berhabis-habisan. Beliau berpegang kepada firman Allah SWT bermaksud: “Sesungguhnya bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang soleh. ” (Al Anbia: 105)

Perjuangan menegakkan yang Haq
Beliau juga berpegang kepada falsafah: Perjuangan tidak kenal hidup atau mati. Dengan benteng iman dan taqwa yang kukuh pada diri Tukku Paloh itu, pihak British gagal menjajah Terengganu sehinggalah beliau kembali ke rahma-tullah pada tahun 1917, dan diikuti dengan kemangkatan Sultan Zainal Abidin IU pada tahun berikiitnya. Perginya ulama dan umara yang berganding bahu dalam pemerintahan.

Dalam kesibukannya membantu pihak istana memerintah negeri Terengganu, Tukku Paloh diamanah pula mentadbir kawasan Paloh oleh Sultan Zainal Abidin. Dan dalam masa yang sama beliau diminta menjadi ri’ayah (pengawas) daerah Hulu Terengganu termasuk Kuala Berang hingga,ke Kampung Cabang Tiga yang jaraknya dari hujurig ke hujung kira-kira 50km. Ada juga maklumat yang mengatakan pihak istana meminta Tukku Paloh mengawasi kawasan Kuala Nerus. Di Paloh, beliau mempunyai kuasa penuh sehingga kerana itu mendapat gelaran istimewa ‘Tukku Paloh’. Beliau menyusun struktur pentadbiran yang sesuai dengan keperlu-an semasa bagi memimpin pengikut dan rakyatnya kepada satu cita-cita murni Islam. Untuk itu, beliau menggunakan kaedah tarbiah, ta’lim serta bimbingan rohani dan kuatkuasa undang-undang yang melibatkan pembantu-pembantunya yang amanah.

Biasanya urusan-urusan kemasyarakatan dibincangkan secara syura di kalangan orang kanan dan pengikut setianya. Perbincangan atau mesyuarat itu selalunya diadakan di balai yang didirikan oleh Tukku Paloh bersebelahan rumahnya. Balai ini juga dijadikan tempat beliau mendirikan sembahyang jemaah lima waktu bersama orang ramai. Dalam hal kedudukan raja yang memerintah, Perlembagaan Terengganu 1911, antara lain menyebut: “…Tetapi disyaratkan yang dipilih dan dijadikan raja itu seorang lelaki yang cukup umurnya dan sempurna akal, beragama Islam, berbangsa Melayu Terengganu dan daripada darah daging yang merdeka lagi diakui dengan sah dan halal serta baik pengetahuannya, boleh membaca dan menyurat (menulis) bahasanya dan mempunyai tabiat perangai yang baik dan tingkah laku yang terpuji.” Dan raja akan hilang kelayakan menjadi raja sebagaimana tersebut pada fasal ketiga perlembagaan itu yang berbunyi: “…Jika ada kecacatan yang besar yang menyalahi sifat raja seperti gila, buta, bisu atau ada sifat kekejian yang tiada dibenarkan oleh syarak (hukum Allah) menjadi raja.”

Perlembagaan ini digubal pada masa pemerintahan Sultan Zainal Abidin di bawah nasihat utamanya Tukku Paloh iaitu pada tahun 1911. Ianya bertepatan dengan kehendak Islam di mana tiada siapa yang boleh mengatasi undang-undang ALLAH SWT.

“Tukku mengajar di surau ini juga,” cerita Sayid Abdul Aziz, sambil menunjuk balai serbaguna yang dibangunkan oleh Tukku Paloh itu. Menurutnya, semasa hayat Tukku Paloh, sekurang-kurangnya dua kali Nabi Khidir a.s. datang berjemaah Subuh di balai tersebut. Peristiwa pertama berlaku semasa Tukku Paloh tidak sembahyang berjemaah bersama dengan murid-muridnya. Para ahli jemaah mendapati ada orang asing yang berserban jubah menjadi imam pada pagi itu. Selesai sembahyang, orang yang tidak dikenali itu duduk bersandar di tiang hujung di sebelah kanan balai itu sambil berwirid sebelum beliau pergi menghilangkan diri.

Tukku Paloh tahu hal ini, lalu berkata kepada murid-murid-nya, “Kamu tahu siapa yang jadi imam tadi?” Masing-masing diam dan Tukku Paloh terus berkata, “Beruntunglah kamu, yang menjadi imam itu tadi ialah Nabi Khidir a.s. Dapat pahala besarlah kamu.”

Kali kedua, Nabi Khidir a.s. datang berjemaah Subuh di balai itu ketika Tukku Paloh menjadi imam. Selain balai itu, Tukku Paloh mendirikan sebuah masjid kira-kira 10 rantai dari rumahnya sebagai tempat mendirikan sembahyang Jumaat dan sembahyang lima waktu. Masjid itu juga menjadi tempat murid-muridnya belajar ilmu dan mengadakan perhimpunan besar bagi merayakan satu-satu majlis yang berkaitan agama. Di dua pusat inilah (balai dan masjid) Tukku Paloh memimpin dan membimbing orang ramai dengan ilmu, amal dan tarbiah rohani. Beliau mengajar ilmu-ilmu tauhid, feqah, tasawuf, tafsir, Hadis dan juga nahu saraf.

Beliau sangat menekankan ilmu dan amalan tasawuf di kalangan pengikut-pengikutnya. Malah Tukku Paloh mengarang kitab Maarijulah fan (tangga orang-orang yang sangat dahaga untuk naik kepada hakikat-hakikat pengenalan). Kitab. ini membicarakan persoalan hati bagi mereka yang ber-mujahadah sehingga menjadi seorang yang bertakarrub ilallah. Di antara anak murid dan pengikut Tukku Paloh yang terkenal ialah Haji Abdul Rahman Limbong, Haji Mat Shafie Losong, Tuk Kelam, Tuk Janggut, Datuk Bahaman, Mat Kilau, Haji Wan Embong Paloh, Haji Abdullah Chik Fatani, Tuk Gajah, dan Sultan Zainal Abidin HI sendiri.

Baginda sultan sering berulang-alik dari istananya ke Paloh untuk belajar ilmu dan berbincang mengenai berbagai perkara dengan Tukku Paloh. Baginda mempunyai minat dan kebolehan yang luar biasa dalam bidang ilmu pengetahuan. Se-lain Tukku Paloh, guru-guru baginda yang lain termasuklah Hj. Wan Abdullah Mohd Amin (Tuk Syeikh Duyung), Hj. Wan Mohd bin Abdullah, Hj. Wan Abdul Latif bin Abdullah Losong dan lain-lain. Baginda juga boleh berbahasa Arab hasil tunjuk ajar seorang guru khas, Habib Umar. Berkat dari kesungguhan menuntut ilmu dan sikap memuliakan ulama, Sultan Zainal Abidin III diakui oleh rakyat sebagai raja yang alim dan kuat berpegang kepada ajar an Islam. Hingga dikatakan, semasa pemerintahan baginda, susah untuk dicari seorang yang sudah sampai umur yang be-lum khatam Al Quran di Terengganu.

Selain itu, Tukku Paloh juga menjadi guru kepada anak-anaknya sendiri seperti Sayid Abu Bakar (Tukku Tuan Embong), Sayid Akil (Engku Sri Wijaya) dan Sayid Sagof (Engku Kelana). Kesemua mereka diakui sebagai ulama. Dari hari ke hari, anak-anak murid dan pengikut Tukku Paloh semakin ramai. Mereka datang dari merata tempat. Paling ramai ialah orang-orang Pahang yang kebanyakan mereka adalah pahlawan-pahlawan yang menentang British. Di Paloh, mereka dilindungi di bawah pentadbiran yang adil, makmur, tegas berdasarkan hukum ALLAH SWT dan tidak bertolak-ansur dengan pihak British. Untuk memastikan kawasan Paloh terhindar daripada segala perbuatan maksiat dan pelanggaran undang-undang serta untuk menjaga daripada pencerobohan luar maka Tukku Paloh” menubuhkan pasukan penguatkuasa yang terkenal dengan nama Budak Raja. Pasukan ini bertanggungjawab menjaga keamanan sepertimana peranan polis pada hari ini.

Dalam pada itu Tukku suka keluar malam-malam untuk memastikan keselamatan dan kebajikan orang ramai terjamin. “Pada masa tertentu, Tukku keluar malam berselubung kepala dengan kain, meninjau-ninjau tentang kehidupan orang ramai. Jika ada perkara-perkara tak elok, besok Tukku suruh budak raja pergi tangkap,” cerita Sayid Abdul Aziz. Sikap ini memperlihatkan betapa bertanggungjawabnya Tukku Paloh terhadap keselamatan dan kebajikan anak-anak buahnya seperti berlaku pada khalifah Umar Al Khattab r.a. Bagaimanapun, kata Sayid Abdul Aziz, kawasan Paloh sentiasa terpelihara daripada gangguan penjahat luar dan dalam. “Musuh dan penjahat tidak dapat masuk ke Paloh dan kalau ada barang curi yang hendak dibawa keluar pun tak boleh.” Sayid Abdul Aziz tidak menolak kemungkinan adanya ‘pagar kerohanian’ yang dibuat oleh Tukku Paloh selain daripada kawalan Budak Raja umpamanya, dan pagar lahir.

Tukku Paloh mempunyai mahkamah keadilan sendiri di Paloh. Beliau mendapat mandat daripada sultan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan besar dan mengadili penjahat-penjahat di kawasan pentadbirannya. Mana-mana keputusan yang di-buatnya dikira muktamad tanpa perlu merujuk kepada sultan. Dan’ dalam soal ini beliau ada mengeluarkan surat kuasa terhadap pembawa ajaran sesat. Dengan itu tidak hairanlah nama Tukku Paloh semakin masyhur sebagai seorang ulama yang berwibawa dalam pemerintahan. Beliau berjaya membangunkan Paloh menjadi kawasan yang aman damai dan mempunyai kekuatan yang di-geruni musuh. Selain itu, Tukku Paloh juga dilantik sebagai Syeikhul Ulama, jawatan tertinggi dalam urusan agama. Jawatan ini pernah disandang oleh ayahnya Tukku Tuan Besar.

Tukku Paloh adalah juga ahli Majlis Mesyuarat Negeri. Bagaimanapun, Tukku Paloh lebih banyak membuat perhu-bungan peribadi dengan Sultan Zainal Abidin III daripada perhubungan secara rasmi. Eratnya hubungan Tukku Paloh dengan Sultan amat nyata di mana salah seorang isterinya, Tengku Mandak, ialah kekanda kepada Sultan Zainal Abidin. Baginda Sultan pula telah menyerahkan anaknya Tengku Sulaiman kepada Tukku Paloh untuk dijadikan anak angkat dan dididik dengan didikan agama. Tengku Sulaiman ini kemudiannya menjadi Sultan Terengganu yang ke-13, memerintah antara 1920-1942.

Demikianlah, setelah begitu lama menyumbang bakti kepada rakyat dan kerajaan maka Tukku Paloh jatuh uzur dan kembali ke rahmatullah menemui kekasihnya ALLAH SWT Pada 1 Zulhijjah 1336 Hijrah (1917) dalam usia 100 tahun. Setahun kemudian Sultan Zainal Abidin m pula mangkat iaitu pada 1 November 1918. Jenazah Tukku Paloh dimaqamkan di satu kawasan tinggi di Paloh. Beliau meninggalkan lebih 23 orang anak daripada lapan orang isteri. Semasa hayatnya Tukku Paloh sentiasa saja beristeri empat orang secara poligami, dan isterinya seramai 13 orang kesemuanya.

Selaku pembawa amalan Tareqat Naqsyabandiah, Tukku Paloh terkenal sebagai seorang yang kuat mengamalkan zikir-zikir yang disusun oleh Syeikh Bahauddin, Syeikhul Tareqat Naqsyabandiah yang susur galumya sampai kepada Sayidina Abu Bakar As Siddiq (maqam Syeikh Bahauddin terdapat di Uzbekistan). Begitu pula dengan amalan ibadah yang asas seperti sembahyang, puasa dan membaca Al Quran dan lam-lain amalan sunat. Dengan kata lain Tukku Paloh sangat wa-rak dan berhalus dalam beribadah.

Selain mengamalkan zikir Tareqat Naqsyabandiah secara istiqamah, Tukku Paloh juga mengamalkan dan mengembangkan amalan yang disusun oleh ayahnya Tukku Tuan Besar iaitu ‘Syahadat Tukku’. Amalan ini terus popular dan hingga kini masih diamalkan di banyak tempat di Terengganu secara jemaah dan bersendirian.

Syahadat Tukku yang diamalkan dengan suara zihar (nyaring) itu ialah maksudnya:

"Aku ketahui dan aku iktiqad dengan hatiku dan aku nyatakan bagi yang lain daripadaku akan bahawa sesungguhnya tiada Tuhan yang disembah dengan sebenarnya melainkan ALLAH jua yang kaya la daripada tiap-tiap yang lain daripada-Nya dan berkehehdak oleh tiap-tiap yang lain itu kepada-Nya. Lagi yang bersifat la dengan tiap-tiap sifat kesempurnaan yang maha suci la daripada segala kekurangan dan daripada barang yang terlintas la di dalam segala hati daripada barang yang tiada patut la bagi-Nya lagi tiada beristeri dan tiada anak dan tiada yang memperanakkan bagi-Nya. Dan tiada menyamai la pada zat-Nya dan sifat-Nya dan afal-Nya akan seseorang maka Ialah Tuhan yang menjadi la akan segala makhluk yang ‘ulvi-Nya dan syufli-Nya lagi ketunggalan la pada mengadakan dan mentiadakan dengan kekerasan takluk qud-rat dan iradat-Nya maka terserahlah segala kainat intsemuanya pada bawah perintahNya dan tiadalah jenis ‘itirat bagi seorang jua pun akan kehendak-Nya. Dan aku ketahui dan aku iktiqad dengan hatiku dan aku nyatakan bagi yang lain daripadaku akan bahawa sungguhnya penghulu kita Nabi Muhammad anak Abdullah itu hamba Allah dan pesuruh-Nya kepada sekalian makhluk lagi sangat benar ia pada tiap-tiap barang yang ia khabarkan dengan dia daripada Tuhannya." 

Maka wajiblah atas tiap-tiap makhluk itu benar akan dia dan mengikut akan dia dan haram atas mereka itu mendusta akan dia atau menyalahi akan Dia maka barang siapa yang mendusta ia akan Dia maka orang itu zalim ia lagi kafir ia, dan barang siapa yang menyalahi ia akan Dia maka orang itu derhaka ia lagi binasa ia. Mudah-mudahan memberi taufiq akan kita oleh Allah bagi sempuma mengikut akan dia dan mengumia ia bagi kita akan sempuma berpegang dengan jalanNya dan menjadi ia akan kita akan setengah daripada orang yang menghidup ia akan segala hukum syariat-Nya dan memati Ia akan kita atas keagamaan-Nya dan menghimpun ia akan kita serta perhimpunannya. Demikian lagi segala yang memperanak akan kita dan ahli kita dan segala saudara kita dan yang kasih Ia akan kita dan segala sahabat kita daripada segala orang yang Muslimin. Amin.

Syahadat Tukku ini diwariskan kepada murid-muridnya. Pengikut kanan beliau Haji Abdul Rahman Limbong mengembangkan amalan ini kepada murid-murid dan anak cucunya pula. Ini diakui oleh Pak Cik Ali Haji Yusof, cicit Haji Abdul Rahman Limbong. Beliau berkata, “Saya dapat mengamalkan syahadat ini semasa datuk (menantu Haji Abdul Rahman Limbong) dan ayah saya lagi.”

Menurut beliau, amalan itu masih kekal sebagaimana dilakukan pada zaman Hj. Abdul Rahman Limbong iaitu bermula dengan ratib Al Hadad dan diakhiri dengan Syahadat Tukku, sekali-sekala disusuli dengan burdah pula. Amalan Syahadat Tukku ini pernah menjadi kontroversi apabila salah seorang pembawa amalan ini dihadap ke mahkamah kerana dituduh sesat. Peristiwa ini berlaku kepada Tuan Haji Hussein Haji Mat yang mengembangkan amalan ini di Kampung Gong Ubi Keling, Besut di mana dalam masa yang sing-kat saja sudah meriah dengan ramai pengikut. Tuan Haji Hussein tidak menolak kemungkinan tindakan yang dikenakan ke atas dirinya itu didorong oleh iri hati dan hasad dengki orang-orang tertentu kerana surau yang baru beliau bangunkan lebih meriah berbanding dengan surau-surau lain. Mereka mendesak pihak berkuasa mengambil tindakan ke atas beliau (Haji Hussein) atas alasan yang batil dan fitnah.

Mengenang peristiwa pahit yang berlaku pada sekitar tahun 1950 itu, Haji Hussein bercerita: ”Hampir seribu orang yang berada di Mahkamah Kadhi Besut untuk mendengar keputusan perbicaraan saya yang dituduh sesat kerana mengamalkan Syahadat Tukku ini.”

Orang ramai nampak cemas kerana peristiwa ini besar dan kali pertama berlaku di Besut. Menurut Haji Hussein, sewak-tu perbicaraan, beliau disuruh membaca segala amalan yang diamalkannya selama ini.

“Saya pun membaca habis satu persatu bermula dengan ratib Al Hadad, Burdah dan akhirnya Syahadat Tukku. Selesai saya membaca semuanya, Hakim Cik Awing yang juga Kadhi Besut itu berkata: “Apa yang Tuan Haji baca itu ada pada saya.” Rupa-rupanya Tuan Hakim Cik Awing juga mengamalkan ratib Al Hadad dan Syahadat Tukku.

“Kemudian saya dibebaskan tanpa sebarang tindakan yang dikenakan malah nampaknya tuan hakim itu pula yang se-olah-olahnya menggalakkan amalan ini diteruskan. Mendengarkan keputusan yang benar itu maka orang ramai di luar mahkamah turut bersyukur dan ada yang menitiskan air mata gembira,” cerita Haji Hussein lagi. Sehingga kini Haji Hussein terus mengamalkan Syahadat Tukku ini bersama-sama sahabat-sahabatnya, amalan yang pada setengah orang jahil dikatakan ‘syahadat tambahan’.

Syahadat Tukku yang disusun oleh wali ALLAH itu terus popular di kalangan orang yang arif di banyak tempat dalam negeri Terengganu. Amalan yang menjelaskan unsur-unsur tauhid dan pembersihan hati yang amat diperlukan oleh seorang hamba terhadap Tuhannya, ALLAH SWT.

Tentang rupa paras Tukku Paloh, cucunya Sayid Abdul Aziz berkata Tukku Paloh berjanggut tanpa berjambang. Orangnya tidak tinggi tetapi badannya berisi. Rupa kasar itu adalah gambaran yang dilihat dalam mimpinya. “Beberapa kali saya bermimpi Tuk Aki saya,” cerita Sayid Abdul Aziz. Kenyataan mengenai rupa paras Tukku Paloh yang dilihat dalam mimpi itu diakui oleh murid beliau yang masih hidup iaitu Pak Cha yang berumur lebih 90 tahun. “Dia rendah,” kata Pak Cha sambil menunjuk salah seorang yang berada di tepinya yang berbadan agak gemuk tetapi tidak tinggi sangat.


Sumber: http://kisahteladan.info/wali/tukku-paloh.html


Sabtu, 1 September 2012

KISAH SAHABAT NABI : Abdullah bin Mas’ud

Gambar hiasan 
REPUBLIKA.CO.ID, Tak berapa lama setelah memeluk Islam, Abdullah bin Mas’ud mendatangi Rasulullah dan memohon kepada baginda agar diterima menjadi pelayan baginda. Rasulullah pun menyetujuinya.

Sejak hari itu, Abdullah bin Mas’ud tinggal di rumah Rasulullah. Dia beralih pekerjaan dari penggembala domba menjadi pelayan utusan Allah dan pemimpin umat. Abdullah bin Mas’ud senantiasa mendampingi Rasulullah bagaikan layang-layang dan benangnya. Dia selalu menyertai ke mana pun baginda pergi.

Dia membangunkan Rasulullah untuk solat bila baginda tertidur, menyediakan air untuk mandi, mengambilkan terompah apabila baginda hendak pergi dan membenahinya apabila  baginda  pulang. Dia membawakan tongkat dan siwak Rasulullah, menutupkan pintu kamar apabila baginda hendak tidur.

Bahkan Rasulullah mengizinkan Abdullah memasuki kamar baginda jika perlu. Baginda mempercayakan kepadanya hal-hal yang rahasia, tanpa khuatir rahsia tersebut akan terbuka. Dengan sebab itulah, Abdullah bin Mas’ud dijuluki orang dengan sebutan “Shahibus Sirri Rasulullah” (pemegang rahsia Rasulullah).

Abdullah bin Mas’ud dibesarkan dan dididik dengan sempurna dalam rumah tangga Rasulullah. Kerana itu tidak hairanlah kalau dia menjadi seorang yang terpelajar, berakhlak tinggi, sesuai dengan karakter dan sifat-sifat yang dicontohkan Rasulullah kepadanya. Sampai-sampai orang mengatakan, karakter dan akhlak Abdullah bin Mas’ud paling mirip dengan akhlak Rasulullah.

Abdullah bin Mas’ud pernah berkata tentang pengetahuannya mengenai Kitabullah (Al-Qur’an) sebagai berikut, “Demi Allah, yang tiada Tuhan selain Dia. Tidak ada satu ayat pun dalam Al-Qur’an, melainkan aku tahu di mana dan dalam situasi bagaimana diturunkan. Seandainya ada orang yang lebih tahu daripada aku, niscaya aku datang belajar kepadanya.”

Abdullah bin Mas’ud tidak berlebihan dengan ucapannya itu. Kisah Umar bin Al-Khathab berikut memperkuat ucapannya. Pada suatu malam, Khalifah Umar sedang dalam perjalanan, ia bertemu dengan sebuah kabilah. Malam sangat gelap, menutupi pandangan setiap pengembara. Abdullah bin Mas’ud berada dalam kabilah tersebut. Khalifah Umar memerintahkan seorang pengawal agar menanyai kabilah.

“Hai kabilah, dari mana kalian?” teriak pengawal.

“Min fajjil ‘amiq (dari lembah nan dalam),” jawab Abdullah.

“Hendak ke mana kalian?”

“Ke Baitu Atiq (rumah tua, Ka’bah),” jawab Abdullah.

“Di antara mereka pasti ada orang alim,” kata Umar.

Kemudian diperintahkannya pula menanyakan, “Ayat Al-Qur’an manakah yang paling ampuh?”

Abdullah menjawab, “Allah, tiada Tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya) tidak mengantuk dan tidak pula tidur…” (QS Al-Baqarah: 255).

“Tanyakan pula kepada mereka, ayat Al-Qur’an manakah yang lebih kuat hukumnya?” kata Umar memerintah.

Abdullah menjawab, “Sesungguhnya Allah memerintah kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang kamu dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.”
(QS An-Nahl: 9).

“Tanyakan kepada mereka, ayat Al-Qur’an manakah yang mencakup semuanya!” perintah Umar.

Abdullah menjawab, “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan walaupun seberat dzarrah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan walaupun sebesar dzarrah, niscaya dia akan melihat balasannya pula.” (QS Al-Zalzalah: 8).

Demikian seterusnya, ketika Umar memerintahkan pengawal untuk bertanya tentang Al-Qur’an, Abdullah bin Mas’ud langsung menjawabnya dengan tegas dan tepat. Hingga pada akhirnya Khalifah Umar bertanya, “Adakah dalam kabilah kalian Abdullah bin Mas’ud?”

Jawab mereka, “Ya, ada!”

Abdullah bin Mas’ud bukan hanya sekadar qari’ (ahli baca Al-Qur’an) terbaik, atau seorang yang sangat alim atau zuhud, namun ia juga seorang yang sangat berani, kuat dan teliti. Bahkan dia seorang pejuang (mujahid) terkemuka. Dia tercatat sebagai Muslim pertama yang mengumandangkan Al-Qur’an dengan suara merdu dan lantang.

Pada suatu hari para sahabat Rasulullah berkumpul di Makkah. Mereka berkata, “Demi Allah, kaum Quraisy belum pernah mendengar ayat-ayat Al-Qur’an yang kita baca di hadapan mereka dengan suara keras. Siapa kira-kira yang dapat membacakannya kepada mereka?”

“Aku sanggup membacakannya kepada mereka dengan suara keras,” kata Abdullah.

“Tidak, jangan kamu! Kami khawatir kalau kamu membacakannya. Hendaknya seseorang yang punya keluarga yang dapat membela dan melindunginya dari penganiayaan kaum Quraisy,” jawab mereka.

“Biarlah, aku saja. Allah pasti melindungiku,” kata Abdullah tak gentar.

Keesokan harinya, kira-kira waktu Dhuha, ketika kaum Quraisy sedang duduk-duduk di sekitar Ka’Baha Ad-Daulah. Abdullah bin Mas’ud berdiri di Maqam Ibrahim, lalu dengan suara lantang dan merdu dibacanya surah Ar-Rahman ayat 1-4.

Bacaan Abdullah yang merdu dan lantang itu kedengaran oleh kaum Quraisy di sekitar Ka’bah. Mereka terkejut ketika mendengar dan merenungkan ayat-ayat Allah yang dibaca Abdullah. Kemudian mereka bertanya, “Apakah yang dibaca oleh Ibnu Ummi Abd (Abdullah bin Mas’ud)?”

“Sialan, dia membaca ayat-ayat yang dibawa Muhammad!” kata mereka begitu tersadar. Lalu mereka berdiri serentak dan memukuli Abdullah. Namun Abdullah bin Mas’ud meneruskan bacaannya hingga akhir surah. Ia lalu pulang menemui para sahabat dengan muka tercedera dan berdarah.

“Inilah yang kami khawatirkan terhadapmu,” kata mereka.

“Demi Allah, kata Abdullah, “Bahkan sekarang musuh-musuh Allah itu semakin kecil di mataku. Jika kalian menghendaki, besok pagi aku akan baca lagi di hadapan mereka.”

Abdullah bin Mas’ud hidup hingga masa Khalifah Utsman bin Affan memerintah. Ketika ia hampir meninggal dunia, Khalifah Utsman datang menjenguknya. “Sakit apakah yang kau rasakan, wahai Abdullah?” tanya khalifah.

“Dosa-dosaku,” jawab Abdullah.

“Apa yang kau inginkan?”

“Rahmat Tuhanku.”

“Tidakkah kau ingin supaya kusuruh orang membawa gaji-gajimu yang tidak pernah kau ambil selama beberapa tahun?” tanya Khalifah.

“Aku tidak memerlukannya,” kata Abdullah.

“Bukankah kau mempunyai anak-anak yang harus hidup setelah sepeninggalmu?” tanya Utsman.

“Aku tidak khawatir, jawab Abdullah, “Aku menyuruh mereka membaca surah Al-Waqi’ah setiap malam. Kerana aku mendengar Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang membaca surah Al-Waqi’ah setiap malam, dia tidak akan ditimpa kemiskinan selama-lamanya!”

Pada suatu malam yang hening, Abdullah bin Mas’ud pun berangkat menghadap Tuhannya dengan tenang.

http://blog.trisakti.ac.id/masjid
sumber dari republika.co.id

Sabtu, 16 Jun 2012

Uwais AlQarni: Terkenal Di Langit Tak Terkenal di Bumi


 Artikel, Blogroll, Islam, Kisah Islami, Muhammad, Rasulullah, Tokoh Islam
Gambar Hiasan
Pada zaman Nabi Muhammad SAW, ada seorang pemuda bermata biru, rambutnya merah, bahunya lapang panjang, penampilannya cukup tampan, kulitnya kemerah-merahan, dagunya mencecah di dada disebabkan selalu melihat pada  tempat sujudnya, tangan kanannya menumpang pada tangan kirinya, ahli  membaca Al Qur’an dan menangis, pakaiannya hanya dua helai sudah kusut  yang satu untuk penutup badan dan yang satunya untuk selendang,  tiada orang yang menghiraukan, tidak dikenal oleh penduduk bumi akan tetapi sangat terkenal di langit.

Dia, jika bersumpah demi Allah pasti terkabul. Pada hari kiamat nanti ketika semua ahli ibadah dipanggil disuruh masuk surga, dia justru  dipanggil agar berhenti dahulu dan disuruh memberi syafa’at, ternyata  Allah memberi izin dia untuk memberi syafa’at sejumlah qobilah Robi’ah dan qobilah Mudhor, semua dimasukkan surga tak ada yang ketinggalan kerananya. Dia adalah “Uwais al-Qarni”. Dia tidak dikenali ramai selain miskin, banyak orang suka mentertawakan, mengolok-olok, dan  menuduhnya sebagai tukang membujuk, tukang mencuri serta berbagai
macam umpatan dan penghinaan lainnya.

Seorang fuqoha’ negeri Kuffah, kerana ingin duduk dengannya, memberinya hadiah dua helai pakaian. Namun, hadiah tersebut telah dikembalikan sambil berkata : “Aku khawatir, nanti sebahagian orang menuduh aku, dari  mana kamu dapatkan pakaian itu, kalau tidak meminta-minta pasti hasil curian,” katanya dalam hati..

Pemuda dari Yaman ini telah lama menjadi yatim, tidak punya sanak saudara kecuali hanya ibunya yang telah tua dan lumpuh. Hanya penglihatan kabur yang masih tersisa. Untuk mencukupi kehidupannya sehari-hari, Uwais bekerja sebagai penggembala kambing. Upah yang  diterimanya hanya cukup untuk sekedar menanggung hidup sehari  bersama ibunnya. Jika dia memperolehi pendapatan lebih dia akan menggunakannya untuk membantu jirannya  yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti keadaannya.  Kesibukannya sebagai penggembala domba dan merawat ibunya yang lumpuh dan buta, tidak mempengaruhi kegigihan ibadahnya, dia tetap melakukan  puasa di siang hari dan bermunajat di malam harinya.

Uwais al-Qarni telah memeluk Islam pada masa negeri Yaman menerima seruan Nabi Muhammad SAW. yang telah mengetuk pintu hati mereka untuk  menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang tidak ada sekutu bagi-Nya.  Islam mendidik setiap pemeluknya agar berakhlak luhur. Peraturan-peraturan yang terdapat di dalamnya sangat menarik hati  Uwais, sehingga setelah seruan Islam datang di negeri Yaman, dia segera memeluknya, kerana selama ini hati Uwais selalu merindukan datangnya  kebenaran. Banyak tetangganya yang telah memeluk Islam, pergi ke Madinah untuk mendengarkan ajaran Nabi Muhammad SAW secara langsung. Sekembalinya di Yaman, mereka memperbarui rumahtangga mereka dengan cara kehidupan Islam.

Alangkah sedihnya hati Uwais setiap melihat tetangganya yang baru datang dari Madinah. Mereka itu telah “bertamu dan bertemu” dengan kekasih Allah penghulu para Nabi, sedang dia sendiri belum.
Kecintaannya kepada Rasulullah menumbuhkan kerinduan yang kuat untuk bertemu dengan sang kekasih, tapi apalah daya dia tak punya bekalan yang cukup untuk ke Madinah, dan yang lebih dia bimbangkan adalah keadaan ibunya  yang jika dia pergi, tidak ada sesiapa yang akan merawat dan menjaga ibunya itu.

Di ceritakan ketika terjadi perang Uhud Rasulullah SAW mendapat cedera dan giginya patah kerana dilempari batu oleh musuh-musuhnya. Kabar ini akhirnya terdengar oleh Uwais. Ia segera memukul giginya dengan batu  hingga patah. Hal tersebut dilakukan sebagai bukti kecintaannya kepada beliau SAW, sekalipun ia belum pernah melihatnya. Hari berganti dan musim berlalu, dan kerinduan yang tak terbendung membuat hasrat untuk bertemu tak dapat dipendam lagi. Uwais merenungkan diri dan bertanya dalam hati, bilakah dia dapat menziarahi Nabinya dan memandang wajah beliau dari dekat ? Tapi, bukankah dia mempunyai ibu yang sangat  memerlukan perhatiannya dan tidak sanggup ditinggalkan sendirian, hatinya selalu gelisah siang dan malam menahan kerinduan untuk berjumpa dengan Rasulullah SAW.

Akhirnya, pada suatu hari Uwais mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinya dan memohon izin kepada ibunya agar diperkenankan dia pergi menziarahi Nabi SAW di Madinah. Ibunya, walaupun telah uzur, merasa terharu ketika mendengar permohonan anaknya itu. Beliau memaklumi perasaan
Uwais, dan berkata : “Pergilah wahai anakku ! temuilah Nabi di  rumahnya. Dan apabila telah berjumpa, segeralah engkau kembali pulang”.
Dengan rasa gembira ia berkemas untuk berangkat dan tak lupa menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkan serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi.

Sesudah memohon izin sambil menciumi ibunya, berangkatlah Uwais menuju Madinah yang jauhnya lebih kurang empat ratus kilometer dari Yaman.  Perjalanan yang begitu sukar dilaluinya, tanpa mempedulikan penyamun gurun pasir, bukit yang curam, gurun pasir yang luas yang dapat menyesatkan dan begitu panas di siang hari, serta begitu dingin di malam hari, semuanya dilalui demi bertemu dan dapat memandang sepuas-puasnya paras  baginda Nabi SAW yang selama ini dirindukannya.

Tibalah Uwais al-Qarni di kota Madinah. Segera ia menuju ke rumah Nabi SAW, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam. Keluarlah sayyidatina ‘Aisyah r.a., sambil menjawab salam Uwais. Segera saja Uwais menanyakan Nabi yang ingin dijumpainya. Namun ternyata beliau SAW tidak berada di rumah melainkan berada di medan perang. Betapa kecewa hati sang perindu, dari jauh ingin berjumpa tetapi yang dirindukannya tak berada di rumah. Dalam hatinya bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi SAW dari medan perang. Tapi, kapankah beliau pulang ? Sedangkan masih terngiang di telinga pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman,” Engkau harus lekas pulang”. Kerana ketaatan kepada ibunya, pesan ibunya tersebut telah mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi SAW. Ia akhirnya dengan terpaksa mohon pamit kepada sayyidatina ‘Aisyah r.a. untuk segera pulang ke negerinya. Dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi SAW dan melangkah pulang dengan perasaan haru.

Sepulangnya dari perang, Nabi SAW langsung menanyakan tentang kedatangan orang yang mencarinya. Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahawa Uwais al-Qarni adalah anak yang taat kepada ibunya. Ia adalah penghuni langit (sangat terkenal di langit). Mendengar perkataan baginda
Rasulullah SAW, Sayyidatina ‘Aisyah r.a. dan para sahabatnya tertegun.

 Menurut informasi sayyidatina ‘Aisyah r.a., memang benar ada yang mencari Nabi SAW dan segera pulang kembali ke Yaman, kerana ibunya  sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama. Rosulullah SAW bersabda : “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia (Uwais al-Qarni), perhatikanlah, ia mempunyai tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya.” Sesudah itu beliau SAW, memandang kepada Sayyidina Ali k.w. dan Sayyidina Umar r.a. dan
bersabda : “Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah do’a dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi”.

Tahun terus berjalan, dan tak lama kemudian Nabi SAW wafat, hingga kekhalifahan Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. telah di estafetkan Khalifah Umar r.a. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi SAW. tentang Uwais al-Qarni, sang penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kepada sayyidina Ali k.w. untuk mencarinya bersama. Sejak itu, setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, beliau berdua selalu menanyakan tentang Uwais al-Qorni, apakah ia turut bersama mereka.
Diantara kafilah-kafilah itu ada yang merasa heran, apakah sebenarnya yang terjadi sampai-sampai ia dicari oleh beliau berdua. Rombongan kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka.

Suatu ketika, Uwais al-Qorni turut bersama rombongan kafilah menuju kota Madinah. Melihat ada rombongan kafilah yang datang dari Yaman, segera khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais turut bersama mereka. Rombongan itu mengatakan bahwa ia ada bersama mereka dan sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, beliau berdua bergegas pergi menemui Uwais al-Qorni. Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, Khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. memberi salam. Namun rupanya Uwais sedang melaksanakan sholat. Setelah mengakhiri shalatnya, Uwais menjawab salam kedua tamu agung tersebut sambil bersalaman.

Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar segera membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada ditelapak tangan Uwais, sebagaimana pernah disabdakan oleh baginda Nabi SAW. Memang benar ! Dia penghuni langit. Dan ditanya Uwais oleh kedua tamu tersebut, siapakah nama saudara ? “Abdullah”, jawab Uwais. Mendengar jawaban itu, kedua sahabatpun tertawa dan mengatakan : “Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya ?” Uwais kemudian berkata: “Nama saya Uwais al-Qorni”. Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahawa ibu Uwais telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu.

Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali k.w. memohon agar Uwais berkenan mendo’akan untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada khalifah: “Sayalah yang harus meminta do’a kepada kalian”. Mendengar perkataan Uwais, Khalifah berkata: “Kami datang ke sini untuk mohon do’a dan istighfar dari anda”. Kerana desakan kedua sahabat ini, Uwais al-Qorni akhirnya mengangkat kedua tangannya, berdo’a dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar r.a. berjanji untuk menyumbangkan wang negara dari Baitul Mal kepada Uwais, untuk jaminan hidupnya. Segera
 saja Uwais menolak dengan halus dengan berkata : “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi”.

Setelah kejadian itu, nama Uwais kembali tenggelam tak terdengar beritanya. Tapi ada seorang lelaki pernah bertemu dan di tolong oleh Uwais , waktu itu kami sedang berada di atas kapal menuju tanah Arab bersama para pedagang, tanpa disangka-sangka angin topan berhembus dengan kencang. Akibatnya hempasan ombak menghantam kapal kami sehingga air laut masuk ke dalam kapal dan menyebabkan kapal semakin berat.

Pada saat itu, kami melihat seorang laki-laki yang mengenakan selimut berbulu di penjuru kapal yang kami tumpangi, lalu kami memanggilnya. Lelaki itu keluar dari kapal dan melakukan sholat di atas air. Betapa terkejutnya kami melihat kejadian itu. “Wahai waliyullah,” Tolonglah kami !” tetapi lelaki itu tidak menoleh. Lalu kami berseru lagi,” Demi Zat yang telah memberimu kekuatan beribadah, tolonglah kami!”Lelaki itu menoleh kepada kami dan berkata: “Apa yang terjadi ?” “Tidakkah engkau melihat bahwa kapal dihembus angin dan dihantam ombak ?”tanya kami. “Dekatkanlah diri kalian pada Allah ! “katanya. “Kami telah melakukannya.” “Keluarlah kalian dari kapal dengan membaca bismillahirrohmaanirrohiim!” Kami pun keluar dari kapal satu persatu dan berkumpul di dekat itu. Pada saat itu jumlah kami lima ratus jiwa lebih. Sungguh ajaib, kami semua tidak tenggelam, sedangkan perahu kami berikut isinya tenggelam ke dasar laut. Lalu orang itu berkata pada kami ,”Tak apalah harta kalian menjadi korban asalkan kalian semua selamat”. “Demi Allah, kami ingin tahu, siapakah nama Tuan ? “Tanya kami. “Uwais al-Qorni”. Jawabnya dengan singkat.

Kemudian kami berkata lagi kepadanya, “Sesungguhnya harta yang ada di kapal tersebut adalah milik orang-orang fakir di Madinah yang dikirim oleh orang Mesir.” “Jika Allah mengembalikan harta kalian. Apakah kalian akan membagi-bagikannya kepada orang-orang fakir di Madinah?” tanyanya.”Ya,”jawab kami. Orang itu pun melaksanakan sholat dua rakaat di atas air, lalu berdo’a. Setelah Uwais al-Qorni mengucap salam, tiba-tiba kapal itu muncul ke permukaan air, lalu kami menumpanginya dan meneruskan perjalanan. Setibanya di Madinah, kami membagi-bagikan
seluruh harta kepada orang-orang fakir di Madinah, tidak satupun yang tertinggal.

Beberapa waktu kemudian, tersiar kabar kalau Uwais al-Qorni telah pulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburnya. Di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya. Dan Syeikh Abdullah bin Salamah menjelaskan, “ketika aku ikut mengurusi jenazahnya hingga aku pulang dari
mengantarkan jenazahnya, lalu aku bermaksud untuk kembali ke tempat penguburannya guna memberi tanda pada kuburannya, akan tetapi sudah tak terlihat ada bekas kuburannya.
(Syeikh Abdullah bin Salamah adalah orang yang pernah ikut berperang bersama Uwais al-Qorni pada masa pemerintahan sayyidina Umar r.a.)

Meninggalnya Uwais al-Qorni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak dikenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais adalah seorang fakir yang tak dihiraukan orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu. Penduduk kota Yaman tercengang.

Mereka saling bertanya-tanya : “Siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais al-Qorni ? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya hanyalah sebagai penggembala domba dan unta ? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau telah menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang di turunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamannya. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya siapa “Uwais al-Qorni” ternyata ia tak terkenal di bumi
tapi terkenal di langit.

Kisah Juha Dan Setengah Cambukan

Suatu hari, Juha berhasil menangkap seekor ikan besar yang sangat langka. Ia pun berniat untuk mempersembahkan ikan tersebut kepada sultan d...