Ahad, 10 Mac 2024

SIFAT KEMURAHAN ALLAH

Di antara nama dan sifat Allah SWT adalah “Rahman”, “Rahim”, "Hannan", "Mannan", "Kareem" yang menunjukkan pada sifat kemurahan Allah kepada hamba-hamba-Nya. 

Allah menyatakan dengan tegas bahawa Dia Maha Pemurah dan Pengasih. “Rahmat-Ku mendahului marah-Ku” (HR Bukhari, Muslim, dan Ahmad).

Dalam Hadis Qudsi Allah Azza wa Jalla berfirman: ”Jika seorang hamba-Ku bertekad akan melakukan kebaikan, namun tidak sempat melaksanakannya, Aku akan mencatat satu kebaikan baginya. Jika dia jadi melaksanakan tekadnya itu, aku catatkan sepuluh kebaikan, bahkan sampai tujuh ratus kali lipat baginya. Dan jika hamba-Ku bertekad akan melaksanakan keburukan namun tidak jadi melaksanakannya, Aku tidak akan mencatatnya sebagai dosa baginya. Lalu, jika ia melakukan keburukan tersebut, Aku hanya mencatat satu keburukan” (Hadis shahih dikeluarkan oleh Thabrani dan Abu Syaikh).  

Allah Azza wa Jalla berfirman ”Barangsiapa mengetahui bahawa Aku mempunyai kekuasaan untuk mengampuni berbagai dosa, Aku akan mengampuni dia dan aku tak peduli (akan banyaknya dosa). Hal itu Aku berikan sepanjang dia tidak musyrik kepada-Ku” (HR Al Hakim dan Ath Thabrani).

“Sesungguhnya syaitan berkata ‘Demi keagungan-Mu wahai Tuhanku ! Aku tidak akan berhenti menyesatkan hamba-hamba-Mu selama nyawa mereka masih berada dalam badannya’. Allah SWT berkata ‘Demi keagungan-Ku, Aku tidak akan berhenti memaafkan mereka, selama mereka meminta ampunan kepada-Ku” (Hadits shahih Riwayat Ahmad dan Hakim).

Bagi setiap Muslim meyakini kesempurnaan sifat-sifat-Nya adalah hal yang mutlak. Tidak bisa ditawar-tawar lagi. Namun sayangnya tidak semua insan Muslim mahu untuk merenungi sifat-sifat-Nya secara mendalam. Hanya tahu ke-Maha-an-Nya tanpa adanya penghayatan dalam hidup sehari-hari bersama setiap martabat wujud. Penghayatan ini merupakan pijakan awal untuk menjadi hamba-Nya yang syuhud. Hal itu nampak ketika seorang hamba berakhlak dengan akhlak-Nya.

Salah satu keluhuran sifat Allah swt adalah kemurahan-Nya yang melebihi luasnya samudera. Di antara bukti adalah hadis qudsi yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abdullah bin Abbas ra bahwa Rasulullah saw meriwayatkannya dari Allah swt;

عن ابن عباس رضي الله عنهما عن رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم فيما يرويه عن ربه تبارك وتعالى قال ((إٍِنَّ اللهَ كَتَبَ الحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ ثُمَّ بَيَّنَ ذٰلِكَ فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيْرَةٍ وَإِنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً)) رواه البخاري ومسلم

Sungguh Allah swt mencatat amal kebaikan dan keburukan. Lalu menjelaskan perinciannya. Orang yang berencana amal baik namun dibatalkan, maka Allah swt akan mencatatnya sebagai kebaikan sempurna di sisi-Nya. Jika rencana amal baik tersebut terlaksanakan maka Allah swt mencatatnya di sisi-Nya sepuluh kebaikan hingga 700 kali lipat hingga lebih banyak lagi. Apabila seseorang merencanakan amal buruk namun batal terlaksana maka Allah swt mencatatnya kebaikan sempurna di sisi-Nya. Sebaliknya, rencana amal buruk tersebut terlaksana maka Allah swt mencatatnya satu keburukan. HR. Bukhari dan Muslim.          

Betapa luasnya sifat kemurahan-Nya juga betapa mendalamnya sifat kelembutan-Nya...

Kemurahan Allah swt sangat nampak sekali dalam hadis qudsi di atas. Patut kita renungi bagaimana Allah swt tidak memperlakukan balasan yang sama dan seimbang antara amal baik dan buruk saat dilaksanakan. Bahkan rencana amal baik dan amal buruk pun balasannya sama ketika dibatalkan iaitu kebaikan yang sempurna. Samudera kemurahan-Nya lebih luas dari kepatuhan kita, serta lautan kelembutan-Nya lebih dalam dari kedurhakaan kita. 

Kredit: Alias Hashim - Bicara Hikam MSO-D11

Jumaat, 26 Januari 2024

JANGAN SESEKALI MENINGGALKAN DZIKIR...

 HIKAM KE-47:

لاَتتـْرُكِ الذِكْرَ لِعَدَمِ حُضوُرِكَ مَعَ اللهِ فيهِ لاَنَّ غفلَتَكَ عن وُجُودِ ذِكرِهِ أَشَدُّ من غَفلَتِكَ فى وُجوُدِ ذِكرِهِ فعَساَهُ أَنْ يَرْفَعَكَ من ذِكرٍ مع وجودِغَفلَةٍ إلى ذِكرٍ معَ وُجودِ يَقظةٍ ، ومن ذكرٍ معَ وُجودِ يَقظةٍ إلى ذِكرٍ معَ وُجودِ حُضوُرٍ، ومن ذكرٍ معَ وُجودِ حُضوُرٍ إلى ذِكرٍ معَ وُجودِ غـَيْبَةٍ عمَّا سِوىَ المَذكـُورِ وَماَ ذٰلكَ على اللهِ بِعَزِيزِ

"Jangan meninggalkan dzikir, kerana engkau belum bisa selalu ingat kepada Allah di waktu berdzikir, sebab kelalaianmu terhadap Allah ketika tidak berdzikir itu lebih berbahaya dari pada kelalaianmu terhadap Allah ketika kamu berdzikir." Semoga Allah menaikkan derajatmu dari dzikir dengan kelalaian, kepada dzikir yang disertai ingat terhadap Allah, kemudian naik pula dari dzikir dengan kesedaran ingat, kepada dzikir yang disertai rasa hadir, dan dari dzikir yang disertai rasa hadir kepada dzikir hingga lupa terhadap segala sesuatu selain Allah. Dan yang demikian itu bagi Allah tidak berat [tidak sulit]." 

-Sheikh Ibn Athaillah As Sakandari, Kitab Hikam.


SIFAT KEMURAHAN ALLAH

D i antara nama dan sifat Allah SWT adalah “Rahman”, “Rahim”, "Hannan", "Mannan", "Kareem" yang menunjukkan pa...