Cerita tentang seorang wanita yang menawarkan dirinya untuk dinikahi oleh Abdullah bin Abdul Muththalib, seorang lelaki yang di kemudian hari menjadi ayah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Ibnu Hisyam dalam kitab As-Sirah an-Nabawiyah mengawali narasi mengenai peristiwa ini dengan kisah setelah rencana penyembelihan Abdullah dibatalkan. Abdullah ditebus dengan penyembelihan seratus ekor unta.
Setelah peristiwa itu, ayahnya, Abdul Muththalib, menggandeng Abdullah dan berjalan bersamanya. Dalam perjalanan, keduanya melintasi Ka’bah.
Ketika berada di sekitar Ka’bah, berdirilah seorang wanita yang disebut Ruqayyah, saudari dari Waraqah bin Naufal. Ketika melihat Abdullah, wanita tersebut langsung menegurnya.
أين تذهب يا عبد الله؟
“Aina tadzhabu ya ‘Abdallah?”
“Engkau hendak pergi ke mana, wahai Abdullah?”
Abdullah menjawab:
مع أبي
“Ma‘a abi.”
“Bersama ayahku.”
Abdullah menjelaskan bahwa ia sedang pergi ke suatu tempat bersama ayahnya.
Ruqayyah kemudian semakin berani menyampaikan keinginannya kepada Abdullah. ungkapan:
قع علي الآن
Ajakan tersebut disampaikan dengan maksud:
“Maukah engkau menikahiku sekarang juga?”
Namun Abdullah menolak ajakan tersebut. Ia menjelaskan bahwa saat itu dirinya sedang bersama ayahnya, Abdul Muththalib, dan tidak berani menentang kehendak sang ayah.
Mengungkapkan :
أنا مع أبي ولا أستطيع خلافه ولا فراقه
Maknanya kurang lebih:
“Aku sedang bersama ayahku. Aku tidak dapat menyelisihi kehendaknya dan tidak dapat meninggalkannya.”
Abdullah kemudian melanjutkan perjalanan dengan didampingi Abdul Muththalib. Mereka menemui Wahab bin Abdi Manaf untuk melamar putrinya yang bernama Aminah binti Wahab.
Abdullah kemudian dinikahkan dengan Aminah binti Wahab.
Singkat cerita, pernikahan berlangsung.
Keesokan harinya, Abdullah kembali menemui wanita yang sebelumnya menawarkan dirinya tersebut. Abdullah kemudian bertanya kepadanya:
ما لك لا تعرضين علي اليوم ما كنت عرضت علي بالأمس
“Kenapa hari ini engkau tidak lagi menawarkan dirimu kepadaku sebagaimana yang engkau tawarkan kepadaku kemarin?”
Ruqayyah menjawab dengan tegas:
فارقك النور الذي كان معك بالأمس فليس لي بك اليوم حاجة
“Cahaya yang kemarin bersamamu telah meninggalkanmu. Karena itu, hari ini aku tidak lagi membutuhkanmu.”
Wanita tersebut mengatakan bahwa ketika mereka bertemu di Ka’bah pada hari sebelumnya, ia melihat sinar yang memancar dari wajah Abdullah.
Namun setelah Abdullah menikah dengan Aminah, sinar tersebut sudah tidak terlihat lagi pada wajahnya. Karena itulah wanita tersebut tidak lagi menawarkan dirinya kepada Abdullah.
Bahwa sinar yang dimaksud adalah pancaran Nur Muhammad.
Pada awalnya, cahaya tersebut digambarkan memancar dari fisik Abdullah, terutama dari wajah dan matanya.
Setelah Abdullah menikahi Aminah binti Wahab, sinar tersebut digambarkan berpindah kepada Aminah binti Wahab.
Kemudian Siti Aminah mengandung janin yang kelak lahir sebagai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Tiada ulasan:
Catat Ulasan